Berbagai Gambaran Upaya Pengelolaan Sampah di Indonesia

Pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan dapat diartikan sebagai upaya melindungi masyarakat dan lingkungan dari dampak negatif keberadaan sampah, baik pada generasi masa kini maupun pada generasi yang akan datang.

Hal tersebut merupakan hal baru di dalam sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Keluarnya UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (UUPS) adalah landasan hukum untuk mewujudkan pengelolaan sampah berwawasan lingkungan di Indonesia.

Sayangnya, sebagai salah satu negara terkorup di dunia, sekaligus dengan buruknya tingkat pendidikan, setelah 3 tahun berlangsung, pengelolaan sampah sebagaimana diamanatkan di UUPS belum dapat terwujud.

Ketiadaan langkah yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan, mengakibatkan progres kerja untuk mewujudkan hal tersebut, tidak dapat dipahami oleh masyarakat. Kebodohan pengelola negeri ini untuk menjalankan amanat UU, adalah suatu hal yang tidak dapat dinafikkan.

Yo Wisss, intinya pemerintahnya Gak Mampu Mewujudkannya deh…

ini ada beberapa rangkuman pengelolaan sampah di Indonesia.

Rangkuman dari beberapa sumber, antara lain Gugus Tugas Pengelolaan Sampah (GTPS), Yayasan Kanopi, Laporan Volume Sampah Harian Kota Yogyakarta, dan sumber-sumber lainnya Penulis mohon maaf sebelumnya, kalau tidak maksimal dalam mencantumkan sumber.

Pengelolaan Kompos di Kebun Karinda, Lebak Bulus, Jakarta Selatan
Kebun Karinda adalah sarana percontohan, penyuluhan, pelatihan dan Pembinaan pengomposan skala perumahan yang dikelola oleh Komite Lingkungan Perumahan Bumi Karang Indah dengan ketua Djamaludin Suryohadikusumo dan wakil ketua Sri Murniati Djamaludin.

Sejak didirikan 28 Januari 2006 Kebun Karinda telah mengadakan penyuluhan dan pelatihan bagi masyarakat luas untuk menumbuhkan kesadaran bahwa sampah rumah tangga harus dikelola di sumbernya. Bahkan, KLH telah menerbitkan buku panduan berjudul “Pengomposan Skala Rumah Tangga” yang disusun oleh Sri Murniati Djamaludin (Kebun Karinda) dan Sri Wahyono (BPPT).

Kebun Karinda mengembangkan teknologi pengomposan dengan sistem aerobik termofilik. Untuk sampah rumah tangga digunakan Takakura Home Method yang diperkenalkan oleh Mr. Takakura, staf ahli dari lembaga Jepang Kitakyusu International Techno-cooperative Association (KITA). Mr. Takakura telah mengadakan kunjungan langsung ke Kebun Karinda dan menjadi pembicara pada workshop yang diselenggarakan oleh APPB bekerjasama dengan KLH dan Kebun Karinda.

Kegiatan-kegiatan Kebun Karinda ditujukan untuk peserta dari RT/RW, Kelurahan, organisasi, perkumpulan, pemerintahan, lembaga pendidikan (TK, SD, SMP, SMU, PT), kelompok pengajian, pesantren, serta jemaat gereja.

Kegiatan-kegiatan di di Kebun Karinda antara lain yaitu:
• Pelatihan dan penyuluhan pengelolaan sampah organik dan pembibitan
• Kegiatan rutin pengomposan sampah rumah tangga dan halaman
• Pembibitan tanaman hias, tanaman obat, tanaman pelindung dan sayuran organik

Pelatihan diberikan dalam dua cara: yaitu melalui pemutaran Video CD dalam bahasa yang mudah dimengerti, dan memberikan kesempatan kepada peserta untuk terlibat dalam kegiatan pengomposan. Metode ini merupakan faktor pendukung terwujudnya upaya penyuluhan tentang pengelolaan sampah, yang kemudian secara efektif memungkinkan peserta untuk memahami teknik pengomposan.

Teknik pengomposan yang dipakai cukup sederhana dan mudah dilakukan oleh siapapun, dengan memakai bahan murah yang tersedia di lingkungan sekitar, jadi cocok untuk kondisi daerah.

Yayasan Bina Karta Lestari (BINTARI), adalah LSM yang membantu pengelolaan sampah di Bukit Kencana Jaya (kawasan perumahan di Daerah Aliran Sungai Babon, Semarang)

Bintari bekerjasama dengan Gtz-ProLH ProLH (program lingkungan Indonesia-Jerman yang dibantu GTZ) berupaya menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif dengan pengurangan timbulan sampah dan pemanfaatan sampah melalui peningkatan partisipasi masyarakat di lingkungan perumahan BKJ.

Sistem baru pengelolaan sampah tersebut memilah sampah menjadi tiga (3) tipe sampah: sampah untuk dijual, sampah untuk pengomposan, dan sampah yang tidak termanfaatkan.

Sampah untuk dijual adalah sampah anorganik yang terlebih dahulu disimpan didalam rumah hingga diambil oleh petugas untuk dijual. Sampah untuk pengomposan merupakan sampah organik. Proses pengomposan mempergunakan wadah (Keranjang Takakura) yang diteliti dan dikembangkan selama proyek berlangsung. Dari 1.016 KK, 50 rumah tangga telah mengkomposkan sampah mereka. Sampah yang tidak termanfaatkan akan diangkut menuju TPA.

Penerapan percontohan TPS terpadu mampu mengurangi sampah yang diangkut menuju TPA. Dari total sampah yang dihasilkan, 60% akan dikomposkan dan dijual ke penadah barang-barang bekas, sehingga volume sampah yang dibuang ke TPA hanya 40%.

Paguyuban Sukunan Bersemi adalah kelompok masyarakat yang dibentuk tahun 2004. Paguyuban Sukunan Bersemi beranggotakan 4 kader dan 36 relawan. Terdiri dari beberapa kelompok kerja seperti unit kerajinan, unit kompos, unit perbengkelan alat rekayasa pengelolaan sampah, unit daur ulang styrofoam, unit penjualan sampah, dan unit pendidikan dan pelatihan pengelolaan sampah mandiri.

Kelompok ini menyelenggarakan kegiatan seperti layanan pendidikan dan pelatihan daur ulang, kerajinan daur ulang dan pengomposan, rancang bangun sistem pengelolaan sampah mandiri, penjualan sampah ke lapak dan perintisan kampong wisata lingkungan.

Dengan dukungan dari Monash University Australia pola pengelolaan sampah dikembangkan menjadi pola baru dengan metode 3R. Kerja keras warga membuahkan “Paguyuban Sukunan Bersemi” dan berhasil menciptakan pengelolaan sampah terpadu dengan tujuan menciptakan lingkungan bersih dan asri.

Prinsip pengelolaan sampah di Sukunan, Sleman adalah dengan menggerakkan seluruh warga masyarakat. Hal ini dilakukan dengan melibatkan anak-anak dan remaja melalui puisi, lagu, mural, perlombaan melukis di tong sampah dan pembuatan kerajinan dari kemasan produk kopi, minuman dan lain-lain. Kegiatan ini telah meningkatkan perekonomian masyarakat melalui penjualan produk-produk daur ulang sehingga kebutuhan operasional dan pemeliharaan fasilitas kegiatan dapat dipenuhi dari kas bersama.
Atas usaha dan kerja kerasnya, Paguyuban Sukunan Bersemi juga mendapat penghargaan dari Kementrian Lingkungan Hidup sebagai Juara I lomba Kreasi Daur Ulang Tingkat Nasional pada Tahun 2004.

Upaya untuk meminimasi sampah dari sumbernya sudah menunjukkan hasil yang signifikan. Timbulan sampah anorganik yang dihasilkan oleh masyarakat sebesar 12 m3/minggu dan sampah organik sebesar 22 m3/minggu. Dari total timbulan sampah yang dihasilkan, 90% diolah menjadi kompos dan produk daur ulang sehingga sampah yang dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) hanya tinggal 10%.

Selain itu, warga Sukunan juga menerapkan prinsip 3R, atau menurut Bapak Iswanto (koordinator gerakan Sukunan Bersemi) 4R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle, dan Replace. Replace yang dimaksud di sini adalah mengganti penggunaan bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan ke bahan-bahan yang ramah lingkungan. Salah satu contoh yang ide yang unik yakni penggunaan pembalut wanita (feminine napkins) yang dapat dipakai berkali-kali

Pengkomposan sampah oleh Dunia Usaha

PT Godang Tua Jaya. Bahan baku PT GTJ ini berasal dari PD Pasar Jaya (DKI Jakarta). Menurut penelitian sejumlah pakar persampahan di Indonesia, sampah pasar umumnya terdiri dari 80% sampah organik, yang mudah terurai secara alami.

Menurut perhitungan PT GTJ per april 2004 lalu, volume sampah organik mencapai 1.640 M³, dimana tonase 1.640 : 4 = 410 ton/hari. Kemudian yang dapat dijadikan bahan baku kompos 80%, sama dengan 80% x 410 ton = 320 ton. Kompos hasil produksi yang diperoleh 25%, sama dengan 25% x 320 ton = 81 ton. Jadi produksi kompos per hari sebanyak 81 ton.

Berkat kerja keras PT GTJ mendapatkan perhatian dan dukungan dari pemerintah pusat dan dunia internasional. PT GTJ mendapat subsidi dari program subsidi kompos KLH, bagian dari WJEMP, yangmerupakan dana hibag GEF, sebesar Rp.250/kg pupuk organik yang diproduksi.

Pengkomposan PT GTJ mendapat pengakuan dari berbagai stakeholders baik sesama produsen kompos, pemerintah, perguruan tinggi, world bank, pers, LSM, dan masyarakat, termasuk kalangan internasional. Selain dari perguruan tinggi Indonesia, juga ada sejumlah ahli dari negara Asia melakukan studi di plant kompos PT GTJ, seperti Tatsuo Kimbara, Ph.D. dan Kaneko Sinji, Dr., Eng., keduanya dari Hiroshima University, Graduate School for international Cooperation and development Japan dan peneliti Akayama Tomoko dari Eco Topia Science Institute, Nagoya University.

PT Biozym berkantor pusat di Cinere Depok, sejak tahun 2003, merintis pengkomposan di areal TPA Burangkeng yang terletak di kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, sekitar 1 Km dari TPA Sumur batu dan TPA Bantar Gebang.

Kegiatan ini juga mendapat subsisdi sebesar Rp.300 /Kg dari paket Western Java Environmental Management Project (WJEMP), Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH). Proyek ini (WJEMP) mendapat dukungan dana dari Global Environment Facility (GEF) via World Bank.

Pemberdayaan dan Peningkatan Kesejahteraan Para Pemulung dalam Mengelola Sampah di TPAS Kota Solo
Proses pemilahan dan pengurangan sampah yang ada di TPAS Kota Solo, dilakukan dengan membagikan gundukan sampah yang telah menjadi kompos secara gratis kepada masyarakat sekitar (pemulung). Masyarakat menyaring kompos dari bahan organik yang tidak terurai serta kotoran kasar, kemudian dijual.

Pada awal pembangunan TPAS, penduduk yang tinggal disebelah kiri dan kanan jalan adalah para pemulung yang diimpor dari luar daerah. Pemulung tersebut diberikan bantuan yakni sebuah gubug sederhana (settlement) oleh Pemda setempat.

Kini gubug-gubug tersebut telah berganti bangunan bata, dan anak-anak pemulung tersebut telah memiliki kesempatan untuk bersekolah. Setiap pagi hari bahkan puluhan truk parker di jalan menuju TPA untuk melakukan transaksi material selain sampah, seperti kertas/karton, besi, kaleng, plastik, aluminium.

Berdasarkan hal tersebut, dengan bantuan serta pembinaan yang dilakukan oleh Pemda Solo maka dihasilkan pengelolaan sampah yang terbukti berwawasan lingkungan dan dapat meningkatkan ekonomi rakyat kecil (pemulung).

Hal lain yang menarik adalah, adanya penggunaan hewan ternak sapi dengan cara dilepas liar di areal TPA untuk mencari makan sendiri. Berdasarkan penelitian WHO, teryata susu sapi TPA tersebut aman dan tidak tercemar oleh kotoran yang berasal dari sampah. (Sudrajat, Hlm.14-15). Pengelolaan TPAS seperti ini juga telah dilaksanakan di TPAS Piyungan Yogyakarta.

Pemberdayaan Masyarakat Mengelola Sampah Dengan Bantuan LSM

Bulan November 2007 ESP (Environmental Service Program) mulai melakukan pendampingan kepada masyarakat Desa Nusa, Kecamatan Lhoknga, Aceh dalam hal pengelolaan limbah domestik dan limbah padat rumah tangga yang berbasis masyarakat. Kegiatan daur ulang sampah ini adalah yang pertama kali diadakan di Aceh.

Dalam kegiatan yang berlangsung sampai saat ini, masyarakat Nusa diajak mengelola sampahnya menjadi produk bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi tambahan.

Sebelum pelatihan dimulai, dua orang warga Nusa menjalani pelatihan instruktur kegiatan daur ulang di Calang, dipandu staf dan kader sampah ESP Jawa Barat.

Langkah awal pelatihan adalah kegiatan memisahkan sampah kering dan sampah basah. Selanjutnya sampah kering seperti bungkus minuman ringan seperti kopi, susu dan mi instant dibersihkan dan dirangkai menjadi tas dan dompet cantik. Bahkan sedotan dan kantong kresek bekas pun bisa disulap menjadi taplak meja atau bunga hias.

Pada akhir April lalu, pelatihan membuat kompos dimulai. Menggunakan metode takakura yang mudah dipraktikkan, sampah basah seperti sayuran dan buah-buahan busuk dipilah kemudian dicacah kecil-kecil, selanjutnya diaduk dengan kompos yang sudah jadi di dalam keranjang sampah yang disebut “keranjang ajaib” takakura. Dalam waktu satu bulan, sampah tadi akan berubah menjadi pupuk organik yang bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman.

Kegiatan pelatihan ini diikuti 110 perempuan yang berkumpul seminggu sekali mengolah sampah rumah tangga menjadi barang yang bernilai jual. Dalam waktu enam bulan, masyarakat mulai merasakan manfaat dari kegiatan pengolahan sampah bersama ini. Selain desa menjadi lebih bersih, sampah rumah tangga pun tidak terbuang percuma. Hasil kerajinan dari sampah plastik pun sudah menghasilkan pemasukan satu juta rupiah untuk para pengrajinnya. Sebuah toko souvenir bernama Kampung Aceh Handicraft di Desa Lambhuk bahkan siap menampung hasil kerajinan sampah plastik dari Nusa ini.

Hasil pengolahan sampah di Desa Nusa adalah bukti nyata bahwa dengan kegiatan pemberdayaan yang baik, kaum perempuan memiliki potensi dan kontribusi yang besar dalam proses pembangunan. Hal ini juga membuktikan bahwa peran LSM sangat berarti dalam meningkatkan kesadaran masyarakat.

Program Daur Ulang Kemasan Tetra Pack Oleh LSM Dana Mitra Lingkungan (DML)

Kemasan Tetra Pak terbuat dari kertas dan berpotensi menjadi pulp serat panjang sehingga sangat layak untuk didaur ulang. Tetra Pak sebagai produsen sampah, merasa bertanggung jawab untuk mengurangi dampak negatif kegiatan industri terhadap kualitas lingkungan dan membantu menentukan kapasitas daur ulang di negara-negara dimana kemasan kertas Tetra Pak terjual. Hal ini memotivasi PT. Tetra Pak dan DML (Dana Mitra Lingkungan) untuk merintis kegiatan daur ulang sejak tahun 2003. Kota Bandung, yang merupakan domisili BBPK, dipilih sebagai lokasi proyek percontohan.

Dana Mitra Lingkungan (DML) berkerjasama dengan PT. Tetra Pak sebagai perintis dan BPPK (Balai Besar Pulp & Kertas) yang melakukan penelitian kemasan kertas dan memodifikasi fasilitas daur-ulang kertas.

Kerjasama dengan PT Tetra Pak dalam kegiatan “Program Daur Ulang Kemasan Kertas “ sejak tahun 2005 – sekarang; Kerjasama dengan PT. Conoco Philips untuk kegiatan ToT (Training of Trainer) dalam bidang pengelolaan sampah; dan Program SERULING (Sekolah Ramah Lingkungan).

Kelompok sasaran dalam program daur ulang kemasan Tetra Pak ini adalah sekolah-sekolah mantan penerima program susu melalui UKS (Usaha Kesehatan Sekolah), juga pemerintah daerah, warga masyarakat dan pengumpul sampah. Progam ini akan dikembangkan di Bandung dan Jawa Timur (Surabaya, Mojokerto, Sidoarjo).

Pengelolaan sampah di beberapa kota di Jawa Barat yang penduduknya tidak begitu padat dan memiliki topografi lembah dan pegunungan seperti di kota Kuningan, Sumedang, Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya sampahnya dibuang ke lembah. Cara tersebut dianut oleh kota lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini dikarenakan biayanya yang murah dan efektif. Tentunya hal ini dapat dipraktekkan dengan memperhatikan dan mensinkronkan pelaksanaanya dengan ketentuan yang ada dalam UUPS, yang mengamanatkan dihapuskannya sistem Open Dumping dan pengelolaan sampah yang tidak berwawasan lingkungan.

Pengelolaan TPA di Kota Malang, yang menggunakan cara tumpukan dibangun dengan menggunakan bantuan dana asing dan dirancang secara modern dengan mengambil lokasi di suatu lembah.

Model Tumpukan, apabila dilaksanakan secara lengkap sebenarnya sama dengan teknologi aerobik. Hanya saja tumpukan perlu dilengkapi dengan unit saluran air buangan, pengolahan air buangan (leachate), dan pembakaran ekses gas metan (flare). Model yang lengkap ini telah memenuhi prasyarat kesehatan lingkungan. Model ini banyak diterapkan di kota-kota besar. Namun sayangnya model tumpukan ini umumnya tidak lengkap (ada yang hanya tumpukan saja atau tumpukan yang dilengkapi saluran air buangan, jarang yang membangun unit pengolahan air buangan), tergantung dari kondisi keuangan dan kepedulian pejabat daerah setempat akan kesehatan masyarakat dan lingkungan. (Sudrajat, Hlm 10-11)

Pemkot Surabaya pernah mengimpor 1 unit incinerator dari Inggris. Ternyata hasilnya tidak efektif, dikarenakan biaya pembakaran sangat besar dan polusi bau berubah menjadi asap dan debu, bahkan partikulat. Implikasinya incinerator di Indonesia kurang sesuai karena kadar air sampah sangat tinggi (>80%) sehingga sebagian besar energi yang digunakan untuk membakar (minyak residu) adalah untuk menguapkan air. (Hlm.13)

Pengelolaan sampah dengan menggunakan Incenerator juga pernah di laksanakan di Kota Bogor, yang diperoleh melalui impor incinerator dari Perancis, tetapi kembali gagal. Penyebab kegagalan tersebut sama seperti yang terjadi di Surabaya, yakni kadar air sampah yang tinggi .

Contoh lainnya yakni, Peran swasta dalam pengelolaan sampah oleh PT Unilever Indonesia Tbk melalui Yayasan Unilever Indonesia Peduli. Yayasan Unilever Indonesia menggelar lomba kebersihan dan penghijauan lingkungan yang telah dipilih nominasinya sebanyak 20 RT. Setiap RT diberi uang masing-masing Rp 2 juta untuk bisa membuat program yang memerhatikan lingkungan hidup itu dalam waktu dua bulan. Program itu dikemas dalam tema Jakarta Green and Clean 2006, yang ditujukkan untuk mengatasi masalah kebersihan, termasuk sampah, dan menciptakan lingkungan yang asri dengan penghijauan yang dimulai di tingkat rukun tetangga (RT) di lima wilayah DKI Jakarta.

Program Danamon Peduli adalah bentuk Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam membantu mengatasi permasalahan sampah di Perkotaan.

Salah satu kegiatannya adalah membantu terwujudnya Unit Pengolah Sampah Pasar (tradisional) Bunder (UPSPB) Sragen, Jawa Tengah
.
Program ini terbukti berhasil mewujudkan kebersihan pasar tradisional dari keberadaan sampah.

1 Response so far »

  1. 1

    salikun said,

    hebat,tapi betulkah seperti itukenyataannya ? kalo betul mestinyakan di trapkan di tempat-2yg.lainya agar sampah-2di tempat-2 lain juga bisa diatasi.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: