Archive for Kekayaan Nusantara Indonesia

Makalah – PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DALAM RANGKA PENGELOLAAN (TERMASUK PERLINDUNGAN) SUMBER DAYA ALAM YANG BERBASIS PEMBANGUNAN SOSIAL DAN EKONOMI


OLEH PROF. DR. DAUD SILALAHI

Makalah Disampaikan Pada: SEMINAR PEMBANGUNAN HUKUM NASIONAL VIII TEMA PENEGAKAN HUKUM DALAM ERA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Diselenggarakan oleh BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL DEPARTEMEN KEHAKIMAN DAN HAK ASASI MANUSIA RI Denpasar, 14-18 Juli 2003

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM YANG BERBASIS PEMBANGUNAN SOSIAL DAN EKONOMI 1

M.Daud Silalahi 2

1. Pendahuluan

Apabila pengembangan hukum yang mengintegrasikan pertimbangan lingkungan dan pembangunan sosial dan ekonomi dianggap sebagai bagian dari konsep pembangunan tahun 70-an, maka teori hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat merupakan bagian dari pembahasan hukum pembangunan berkelanjutan3. Pembahasan konsep pembangunan berdasarkan “social change mode”, juga dianggap sebagai koreksi terhadap kelemahan model pembangunan yang didasarkan pada model pertumbuhan ekonomi (economic growth model) yang dianut dalam konsep pembangunan Eropa setelah Perang Dunia Kedua4. Oleh karena itu, pembahasan hukum berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan dalam pengelolaan sumberdaya alam yang berbasis pembangunan sosial dan ekonomi harus dibahas sebagai bagian dari konsep-konsep pembangunan, khusus di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Sebagai bagian dari konsep pembangunan internasional di bawah PBB, para penulis menganggap The Charter of Economic Right and Duties of State sebagai langkah awal kearah kodifikasi dan perkembangan baru (the codification and progressive development of law) dari prinsip-prinsip hukum internasional bertalian dengan persoalan Tata Ekonomi Internasional Baru (The New International Economic Order, 1974 5).

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Comments (1) »

Luas Hutan Indonesia di Tiap Provinsi

http://alamendah.wordpress.com/2011/01/05/luas-hutan-indonesia-di-tiap-provinsi/

Ini ada data tentang luasan indonesia…saya cari di departemen kehutanan sulit…, gak ketemu!, jadi cuma copy paste aja…

Luas Hutan Indonesia di Tiap Provinsi
Posted on 5 Januari 2011 by alamendah

Luas hutan Indonesia di tiap provinsi ini merupakan data luas hutan yang terdapat di masing-masing provinsi di Indonesia. Luas seluruh hutan di Indonesia adalah 133.300.543,98 ha. Ini mencakup kawasan suaka alam, hutan lindung, dan hutan produksi.

Provinsi dengan luas hutan terbesar adalah gabungan provinsi Papua dan Papua Barat dengan 40,5 juta ha. Disusul oleh provinsi Kalimantan Tengah (15,3 juta ha), dan Kalimantan Timur (14,6 juta ha). Sedangkan provinsi di Indonesia dengan luas hutan tersempit adalah DKI Jakarta (475 ha).

Data luas hutan Indonesia ini merupakan data de yure, data di atas kertas berdasarkan SK Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan. Mengenai jumlah riil luas hutan di lapangan kemungkinan dapat berbeda. Hal ini lantaran beberapa SK penunjukan dikeluarkan sejak lebih dari sepuluh tahun yang silam, bahkan luas hutan di provinsi Kalimantan Tengah telah dikeluarkan sejak tahun 1982 dan sepertinya belum direvisi ulang.

Berikut data luas hutan di tiap provinsi di Indonesia beserta SK Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan.

Nangroe Aceh Darussalam (SK No. 170/Kpts-II/00); 3.335.713,00 ha;
Sumatera Utara (SK No. 44/Menhut-II/05); 3.742.120,00 ha;
Sumatera Barat (SK No. 422/Kpts-II/99); 2.600.286,00 ha;
Riau (SK No. 173/Kpts-II/1986); 9.456.160,00 ha;
Kepulauan Riau (data masih bergabung dengan provinsi Riau)
Jambi (SK. No. 421/Kpts-II/99); 2.179.440,00 ha;
Bengkulu (SK. No. 420/Kpts-II/99); 920.964,00 ha;
Sumatera Selatan (SK No. 76/Kpts-II/01); 3.742.327,00 ha;
Bangka Belitung (SK No. 357/Menhut-II/04); 657.510,00 ha;
Lampung (SK No. 256/Kpts-II/00); 1.004.735,00 ha;
DKI Jakarta (SK No. 220/Kpts-II/00); 475,45 ha;
Jawa Barat (SK No. 195/Kpts-II/03); 816.602,70 ha;
Banten; 201.787,00 ha;
Jawa Tengah (SK No. 359/Menhut-II/04); 647.133,00 ha;
DI. Yogyakarta (SK No. 171/Kpts-II/00); 16.819,52 ha;
Jawa Timur (SK No. 417/Kpts-II/99); 1.357.206,30 ha;
Bali (SK No. 433/Kpts-II/99); 127.271,01 ha;
Nusa Tenggara Barat (SK No. 598/Menhut-II/2009); 1.035.838,00 ha;
Nusa Tenggara Timur (SK No. 423/Kpts-II/99); 1.555.068,00 ha;
Kalimantan Barat (SK No. 259/Kpts-II/00); 9.101.760,00 ha;
Kalimantan Tengah (SK No. 759/Kpts/Um/10/82); 15.300.000,00 ha;
Kalimantan Timur (SK No. 79/Kpts-II/01); 14.651.053,00 ha;
Kalimantan Selatan (SK No. 435/Menhut-II/2009); 1.566.697,00 ha;
Sulawesi Utara (SK No. 452/Kpts-II/99); 725.514,00 ha;
Gorontalo (SK No. 325/Menhut-II/2010); 647.668,00 ha;
Sulawesi Tengah (SK No. 757/Kpts-II/99); 4.394.932,00 ha;
Sulawesi Tenggara; (SK No. 454/Kpts-II/99); 2.518.337,00 ha;
Sulawesi Selatan (SK No. 434/Menhut-II/2009); 2.118.992,00 ha;
Sulawesi Barat (SK No. 890/Kpts-II/99); 1.185.666,00 ha;
Maluku (SK No. 415/Kpts-II/99); 7.146.109,00 ha;
Maluku Utara (data masih bergabung dengan provinsi Maluku)
Papua (SK No. 891/Kpts-II/99); 40.546.360,00 ha;
Papua Barat (data masih bergabung dengan provinsi Papua)

Sekali lagi data ini kemungkinan besar bukan luas riil hutan di Indonesia. Dengan SK penunjukkan kawasan hutan yang dikeluarkan beberapa tahun lalu ini tentunya tidak mencakup berbagai kerusakan hutan yang terjadi akibat kebakaran hutan, pembalakan liar, maupun berbagai alih fungsi hutan lainnya. Semoga luas hutan di Indonesia yang mencapai 133 juta hektar ini tidak terlalu jauh berbeda dengan kenyataan di lapangan.

Dan yang paling penting, luas hutan di masing-masing provisi di Indonesia ini selalu lestari sebagai warisan tak ternilai untuk anak cucu kita.

Referensi: Buku Data dan Informasi Pemanfaatan Hutan Tahun 2010; Direktorat Jendral Planologi Kehutanan, Kementerian Kehutanan; November 2010.

Leave a comment »

Mengenal Lahan Gambut

Lahan Gambut

Menurut Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14 Tahun 2009 tentang Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Budidaya Kelapa Sawit (Permentan), gambut merupakan tanah hasil akumulasi timbunan bahan organik dengan komposisi lebih dari 65% (enam puluh lima prosen) yang terbentuk secara alami dalam jangka waktu ratusan tahun dari lapukan vegetasi yang tumbuh di atasnya yang terhambat proses dekomposisinya karena suasana anaerob dan basah.

Sebagai sebuah ekosistem lahan basah, gambut memiliki sifat yang unik dibandingkan dengan ekosistem-ekosistem lainnya. Sifat unik gambut dapat dilihat dari sifat kimia dan fisiknya. Sifat kimia gambut lebih merujuk pada kondisi kesuburannya yang bervariasi, tetapi secara umum ia memiliki kesuburan rendah. Sedangkan sifat fisik gambut yang unik dan perlu dipahami antara lain menyangkut kematangan, warna, berat jenis, porositas (daya serap), kering tak balik (gambut yang sudah mengalami kekeringan ekstrim, akan sulit menyerap kembali), subsidensi (ambelas), dan mudah terbakar.

Luasan lahan gambut di dunia adalah sekitar 424 juta ha (Kalmari, 1982) dan sekitar 38 juta ha terdapat di wilayah tropis (Friends of the Earth, 1983). Sebagian besar lahan gambut di wilayah tropis terdapat di Indonesia yaitu seluas 20,10 juta ha (Vijarnsorn,1996). Di Indonesia, mayoritas lahan gambut ditemukan di luar P. Jawa dengan luasan sekitar 6,45% dari luas lahan gambut di dunia (Neue et al., 1997) . Sebagai catatan, terdapat berbagai laporan yang bervariasi mengenai luasan gambut di Indonesia karena hingga kini data luas lahan gambut di Indonesia belum dibakukan, karena itu data luasan yang dapat digunakan masih dalam kisaran 13,5 – 26,5 juta ha (rata-rata 20 juta ha) .

Lahan gambut memiliki berbagai manfaat, antara lain:

• Pemanfaatan langsung. Gambut merupakan penghasil sumber daya kayu dan non kayu (ikan) sehingga dapat menjadi sumber pencaharian bagi masyarakat sekitar dan sebagai sarana transportasi.

• Penopang fungsi dan struktur ekosistem. Pengaturan Hidrologi. Gambut berfungsi sebagai daerah penangkap air sehingga merupakan salah satu sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan manusia. Selain itu, gambut juga berfungsi sebagai stabilisasi Iklim. Hutan rawa gambut yang sehat mampu secara aktif mengakumulasi karbon dan menyimpan karbon dalam jumlah yang besar, sehingga kemudian dapat mengurangi pengaruh gas rumah kaca. Selain itu, kerusakan yang terjadi pada lahan gambut dapat menyebabkan kebakaran hutan yang menyebabkan timbulnya emisi karbon yang sangat besar (mencapai 13-40% dari rata-rata emisi karbon global tahunan yang berasal dari bahan bakar fosil).

• Keanekaragaman Hayati. Ekosistem gambut merupakan habitat bagi flora dan fauna, seperti ikan, burung, serta pohon Ramin dan Meranti yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

• Sebagai sarana pendidikan dan penelitian. Keunikan dan keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh lahan gambut merupakan subyek yang menarik untuk diteliti dari berbagai disiplin ilmu. Contohnya, Lahan basah, khususnya lahan gambut, merupakan gudang penyimpan informasi, sangat berguna tentang lingkungan purba (paleoenvironmet) berkenaan dengan ragam vegetasi, keadaan iklim, lingkungan pengendapan, dan pembentukan gambut sendiri (dimodifikasi dari Dugan, 1990; dan Page, 1995).

Leave a comment »

Kliping Berita – Kekayaan Keanekaragaman Hayati Indonesia

LIPI Temukan Ikan Langka di Pegunungan Mekongga
10 ikan spesies baru, ditemukan di sulawesi tenggara
Selasa, 12 Juli 2011 21:43 WIB | 876 Views

Kolaka (ANTARA News) – Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan sekitar 10 jenis spesies ikan langka yang hidup di air tawar di kawasan Pegunungan Mekongga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Peneliti LIPI, Dr. Daisy Wowor, di Kolaka pada Selasa mengatakan, jenis ikan langka yang ditemukan di Sungai Ranteangin Desa Tinukari Kecamatan Ranteangin Kabupaten Kolaka itu, selain jenis ikan langka yang termasuk dalam kelompok organisme `crutaceae`.

Selain itu, kata dia, di kawasan pegunungan Mekongga itu juga terdapat hewan biota air tawar langka yang lain seperti jenis udang dan kepiting ditemukan di Sungai Mosembo yangberada pada ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut (dpl).

“Kedua jenis biota air tawar ini belum kami melihatnya atau menemukaan data biota yang sama di wilayah ekosistem lain di luar kawasan Pegunungan Mekongga, sehingga kami masih perlu menelitinya lebih lanjut,” katanya.

Menurut Daisy, khusus jenis kepiting air tawar ini merupakan kelompok organisme `sesarmidae` dengan ciri khas di tubuhnya berwarna coklat polos kemerah-merahan. Jenis Kepiting ini aktif pada waktu malam hari dan populasinya cukup banyak.

Sedangkan jenis udang yang ditemukan peneliti LIPI itu adalah kelompok `parathelpusa sp`, dan pihaknya masih perlu melakukan penelitian yang mendalam terhadap molusca itu.

“Kami harus membandingkan dengan jenis spesies lain yang sudah pernah ditemukan di perairan air tawar Pulau Sulawesi. Dugaan sementara terhadap hasil penelitian biota air tawar yang ada di kawasan pegunungan Mekongga ini merupakan temuan baru,” ujarnya.

Peneliti lain bidang spesiesialis air tawar LIPI, Reny Kurnia Hadiaty, juga mengungkapkan, ada sekitar 13 jenis ikan yang sementara terdata di kawasan sungai pegunungan Mekongga ini.

Ia menambahkan, masih terdapat beberapa jenis ikan langka yang lain seperti kelompok organisme `lentipes sp., dengan ciri khas kehidupannya di arus sungai deras dan sering menempel pada batuan.

Selain itu juga ada jenis ikan keluarga belobrancus sp. Jenis ikan merupakan hewan endemik yang khas karena pola strip di bagian tubuhya vertikal, berbeda dengan ikan lain pada umumnya polanya strip horizontal.

Reny mengatakan, dengan temuan beberapa spesies biota air tawar itu diduga kawasan pegunungan Mekongga menyimpan potensi yang sangat besar untuk kepentinganvilmu pengetahuan.

“Kawasan pegunungan Mekongga ini harus dilindungi karena menyimpa potensi yang sangat berarti bagi kehidupan manusia dan kepentingan ilmu pengetahuan,” ujarnya seraya menamabahkan, ada indikasi perkembangan populasi biota air tawar di kawasan terancam karena ulah masyarakat yang mengekploitasi potensi sumber daya alam ini dengan cara tidak ramah lingkungan.
(T. L004)

Editor: Priyambodo RH

Enam Jenis Flora Obat Kanker di Pegunungan Mekongga – Sulawesi Tenggara
Sabtu, 9 Juli 2011 08:09 WIB | 508 Views

Kendari (ANTARA News) – Keragaman hayati di kawasan pegunungan Mekongga di wilayah kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) perlu dijaga kelestariannya karena beberapa jenis flora di dalam kawasan tersebut ditengarai mengandung zat penyembuh penyakit kanker.

“Hasil penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan bahwa di dalam kawasan pegunungan Mekongga terdapat enam jenis flora yang mengandung zat penyembuh penyakit kanker, sehingga kawasan itu perlu dilindungi agar kelestarian hayati di dalamnya tetap terjaga,” kata anggota DPRD Sultra Nursalam di Kendari, Sabtu.

Selain enam jenis flora yang mengnadung zat pembunuh kanker, di dalam kawasan pengununggan Mekongga menurut hasil penelitian LIPI kata Nursalam, juga terdapat beberapa spesies baru biota air tawar yang hidup di hulu sejumlah sungai di pegunungan tersebut antara lain jenis ikan, udang dan kepiting.

“Perlunya kawasan itu dilindungi dari berbagai ancaman kerusakan, karena keragaman hayati di kawasan itu tidak hanya mengandung sumber kehidupan bagi jutaan kehidupan penduduk, melainkan juga penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan terutama sebagai tempat pengembangan penelitian keragaman hayati,” kata Nursalam.

Menurut Nursalam, keragaman hayati di dalam kawasan pengunungan Mekongga tersebut kini terancam punah, menyusul banyaknya aktivitas pertambangan nikel di wilayah tersebut yang menyerobot kawasan hutan.

“Sejumlah perusahaan yang menambang nikel di kawasan pegunungan Mekongga ada yang memiliki izin usaha pertambangan (IUP) yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara dan ada juga yang menyerobot hutan tanpa izin,” katanya.

Sebagai anggota dewan, Nursalam mengaku banyak mendengar laporan dari masyarakat, bahwa di wilayah Kolaka dan Kolaka Utara, terutama di sekitar pegunungan Mekongga ada sejumlah perusahaan tambang yang melakukan penambangan nikel.

Jelas aktivitas pertambangan itu kata dia, telah menjadi ancaman serius bagi kerusakan lingkungan dan kepunahan biodiversity di kawasan itu.

“Gubernur Sultra sendiri Pak Nur Alam, sudah meminta aparat kepolisian untuk menyelidiki aktivitas perusahaan tambang yang berpotensi merusak kawasan hutan, namun sampai sejauh ini, belum satu perusahaan pun yang dinyatakan melanggar ketentuan undang-undang dari aktivitas penambangan yang dilakukan,” katanya.

Menurut dia, sejumlah perusahaan tambang masih terus melakukan penambangan, meski Pemerintah Provinsi Sultra sudah meminta mereka menghentikan kegiatan penambangan tersebut.

“Kita berharap aparat kepolisian segera bisa menyeret sejumlah pengelola perusahaan tambang yang menambang di dalam kawasan itu ke ranah hukum, sehingga kerusakan hutan di wilayah itu tidak terus meluas dan kelestarian hayati yang ada didalamnya tetap terjaga,” katanya. (ANT227/K004)

Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011

Tim Ekspedisi Temukan Kodok dan Kucing Langka – Ekspedisi Bukit Barisan
Sabtu, 09 Juli 2011 | 08:22 WIB

Tampang belimbing – Sejumlah temuan menarik didapat tim Ekspedisi Bukit Barisan 2011. Selama lima bulan, mereka menyusur Pulau Sumatera, mulai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam hingga Lampung.

Tim yang terdiri anggota Kopassus, Kostrad, peneliti LIPI, perguruan tinggi, serta Wanadri itu menemukan beberapa spesies langka flora dan fauna. Temuan tersebut rencananya dipatenkan dan didaftarkan sebagai spesies yang sangat langka.

Komandan Ekspedisi Bukit Barisan 2011 Letkol (Inf.) Iwan Setiawan mengatakan, beberapa temuan tersebut didapat di tujuh provinsi yang dilewati tim ekspedisi. Fauna yang diduga sangat langka antara lain macan belukar (golden cat) serta satu spesies kodok. Ada pula spesies flora berjenis pacar air atau impatiens SP2 yang diduga sangat langka.

Iwan mengatakan, spesies langka tersebut saat ini tengah diteliti lebih lanjut oleh para pakar dan diserahkan kepada lembaga konservasi untuk dibudidayakan dan diberi nama. ’’Untuk golden cat kami serahkan ke Kebun Raya Bogor dan floranya kami serahkan ke IPB untuk diteliti lebih lanjut. Belum ada nama untuk spesies tersebut,” ujarnya di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung, kemarin (8/7).

Hadir dalam acara kemarin antara lain Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menteri Kehutanan Zulkifli Hassan, serta bos Artha Graha Group Tomy Winata. Kemudian dari TNI-AD dan Danjen Kopassus Lodewijk F. Paulus.

Adanya temuan fauna dan flora tersebut dinilai sebagai sebuah keberhasilan misi. Sejak diberangkatkan dari Situ Lembang, Bandung, tim ekspedisi yang berjumlah lebih dari seratus orang itu memang melibatkan pakar yang ahli di bidangnya. Selain bidang militer, di dalamnya terdapat pakar kehutanan, geologi, serta komunikasi.

’’Di beberapa lokasi, kami menemukan tanah bermineral yang mengandung emas, perak, batu bara, bahkan gas alam. Bahkan ada juga yang mengandung uranium,’’ ujar Iwan.

Sementara Menhut Zulkifli Hasan mengatakan, pihaknya sangat mendukung program yang dilakukan oleh tim ekspedisi ini. Program reboisasi serta mencegah pembalakan liar bisa dilakukan dengan menerjunkan tim terpadu itu. Pihaknya juga telah menjalin kerja sama dengan panglima TNI untuk menerjunkan tim serupa di lokasi yang sama.

’’Saya pikir ekspedisi ini sangat sukses. Ilmunya dapat. Tahun depan direncanakan mengeksplorasi perbatasan Kalimantan,’’ ujar Zulkifli.

Terpisah, Menko Polhukam Djoko Suyanto menuturkan, ekspedisi tersebut sangat positif. ’’Saya kira misi ini sangat mulia. Karena sifatnya volunteer, sukarela. Yang menghimpun beberapa kalangan masyarakat, TNI, birokrat, yang bertujuan untuk melihat wildlife kita,’’ jelasnya di Bandara Radin Inten II kemarin.

Ditambahkan Djoko, ekspedisi juga merupakan sarana untuk melihat sejauh mana pengelolaan hutan secara keseluruhan. ’’Karena menurut kabar yang saya terima, dalam laporan perjalanan mereka, ada hutan yang masih bagus yang bisa dikompensasi dengan baik. Kemudian ada beberapa tempat yang menjadi pembalakan-pembalakan,’’ tuturnya.

Ekspedisi yang digelar di sejumlah tempat di Sumatera tersebut, menurut Djoko, nantinya menjadi pegangan pemerintah pusat untuk membuat kebijakan. ’’Dari situlah data ini dikumpulkan dan menjadi kebijakan Kementerian Kehutanan ke depan,’’ terangnya.

Mantan panglima TNI itu mengingatkan, daerah sangat berkepentingan dengan hutan yang ada. ’’Bagaimana mereka mengelola hutan yang ada itu untuk tetap dijaga kelestariannya. Dan harus ada keseimbangan,’’ tegas Djoko. (jpnn/wdi/c1/ary)

Dua Kerang Raksasa Ditemukan di Sulawesi
Tri Wahono | Senin, 4 Juli 2011 | 15:55 WIB

KONAWE, KOMPAS — Dua spesies kerang raksasa alias kima langka ditemukan di perairan Sulawesi Tenggara. Jika terverifikasi, maka temuan ini menjadikan Indonesia satu-satunya negara tempat habitat hidup kesembilan spesies kima di dunia.

Kedua spesies baru itu adalah Tridacna tevoroa dan Tridacna rosewateri yang ditemukan dan diidentifikasi oleh kelompok swadaya Konservasi Taman Laut Kima Toli-Toli di Kecamatan Lalonggasumeeto, Konawe, Sulawesi Tenggara.

Sementara itu, jenis kima yang selama ini diketahui hidup di perairan Indonesia adalah Tridacna gigas, T maxima, T derasa, T squamosa, T crocea, Hippopus-hippopus, dan Hippopus porcellanus. Ketujuh jenis kima itu masuk kategori satwa yang dilindungi menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

“Kami sebenarnya menemukan kedua kima sejak memulai konservasi setahun lalu. Awalnya kami pikir keduanya jenis yang sudah ada. Namun, setelah diamati saksama, ternyata ciri-ciri fisiknya berbeda,” kata Habib Nadjar Buduha, Ketua Konservasi Taman Laut Kima Toli-toli, Minggu (3/7/2011).

Setelah melakukan riset melalui berbagai sumber internet dan publikasi penelitian ahli kelautan dunia, Habib menyimpulkan, ciri kedua kima serupa dengan spesies Tridacna tevoroa dan Tridacna rosewateri. Selama ini, T tevoroa hanya ditemukan di Kepulauan Fiji dan Tonga di Pasifik. Adapun T rosewateri hanya ditemukan di Mauritius dan Madagaskar. Belum tahu bagaimana mereka bisa ditemukan di perairan Sulawesi.

Kima merupakan kerang laut besar. Ukurannya bervariasi, mulai dari sekepal tangan orang dewasa hingga sepanjang 1,3 meter dan berat 250 kg. Populasi kima kian langka akibat perburuan besar-besaran sebagai makanan dan hiasan. (ENG)

Seribu Spesies Baru Ditemukan di Papua
Tri Wahono | Kamis, 30 Juni 2011 | 23:12 WIB

KOMPAS.com — Lebih dari 1.000 spesies baru ditemukan para ilmuwan peneliti di Papua serta Papua Niugini dalam waktu 10 tahun terakhir. Sayangnya, keanekaragaman itu terancam kepunahan akibat tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab.

Berdasarkan laporan terbaru yang disusun oleh World Wild Fund for Nature (WWF), peneliti telah menemukan sebanyak 218 spesies tumbuhan, 43 reptil, 12 mamalia, 134 amfibi, 2 burung, 71 ikan, dan 580 invertebrata. Dengan jumlah sebanyak itu, artinya ditemukan dua spesies setiap dua minggu.

Spesies-spesies baru tersebut ditemukan sepanjang 1998 hingga 2008 oleh kelompok-kelompok tim di berbagai lingkungan dalam pulau itu, mulai dari daerah hutan, perairan, hingga pesisir. “Melihat segi keanekaragaman hayati, pulau ini lebih mirip benua daripada pulau,” cetus Neil Stronach, salah seorang perwakilan dari WWF Western Melanesia.

Sementara itu, Mark Wright, Conservation Science Adviser WWF, menyoroti bahwa, walau kekayaan hayati ini sangat memesona, ancaman kepunahan tidak mungkin dihindari. “Meski ada upaya maksimal yang dibangun oleh organisasi, seperti WWF, sangat jelas bahwa kita tidak bisa menyelamatkan semua spesies. Hutan akan terus ditebangi, sungai-sungai dibendung, dan pesisir pantai terus dibangun. Sejumlah spesies akan terhapus,” kata Wright.

Pulau yang menampung Papua dan Papua Niugini (dunia internasional menyebutnya pulau New Guinea) merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Pulau ini diketahui memiliki ekosistem yang belum tersentuh. Kawasan hutan hujannya terbesar ketiga di dunia setelah Amazon dan Kongo. Pulau ini juga menjadi rumah bagi sekitar 6 hingga 8 persen spesies hewan yang ada di muka bumi.

Beberapa spesies menakjubkan yang terdapat di pulau tersebut adalah ikan hiu air tawar sepanjang 2,5 meter, kuskus bermata biru, kupu-kupu yang memiliki sayap terlebar, katak dengan gigi taring, lumba-lumba kepala bulat, dan ular buta. (National Geographic Indonesia/Gloria Samantha)

Satwa Langka
Hiu Air Tawar Papua yang Mencengangkan
Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Jumat, 1 Juli 2011 | 17:29 WIB

KOMPAS.com – Lebih dari 1.000 spesies ditemukan dalam penelitian di Papua dan Papua Nugini selama tahun 1998-2008. Satu yang paling mencengangkan adalah penemuan hiu air tawar yang diberi nama ilmiah Glyphis garricki. Jenis baru ikan hiu tersebut ditemukan pada tahun 2008 oleh pakar ikan asal Selandia Baru, Jack Garrick.

Saat itu, Garrick menemukan 2 individu yang baru lahir di wilayah Port Romilly, Gulf District, Papua Nugini. Laporan WWF yang dipublikasikan tahun ini menyebutkan, hiu air tawar banyak ditemukan di sungai-sungai besar Asia seperti Gangga.

Glyphis garricki ialah satu dari 6 spesies dalam genus Glyphis yang dideskripsikan. Sejak saat penemuannya hingga kini, hanya 16 individu hiu air tawar yang ditemukan di rentang wilayah Papua hingga Australia.

Spesimen terbesar dinamakan Northern River Shark, berukuran panjang 2,5 meter. Sedikitnya individu yang ditemukan membuat Glyphis garricki tergolong langka. International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan ikan ini dalam kategori “Terancam” di Daftar Merahnya.

Ikan hiu air tawar hanyalah satu dari 71 spesies ikan yang ditemukan di Papua dan Papua Nugini dalam jangka waktu yang disebutkan di atas. Jenis ikan Chrysiptera cymatilis juga ditemukan di Pantai Milne, Papua Nugini. Jenis ikan yang istimewa lainnya ialah Cirrhilabrus cenderawasih, ditemukan di wilayah kepala burung Papua. Jenis ikan ini memiliki corak warna begitu indah sehingga pejantannya memanfaatkannya untuk menarik betina ketika hendak kawin.

Sama halnya dengan satwa lain, banyak ikan di Papua dan Papua Nugini terancam oleh aktivitas perusakan habitat. Penangkapan ikan yang tak ramah lingkungan juga merupakan salah satu ancaman.

Keanekaragaman hayati RI bernilai US$1 triliun

(Harian Bisnis Indonesia, Minggu, 13 Juni 2010)

JAKARTA (Bisnis.com): Greenomics Indonesia memperkirakan nilai keanekaragaman hayati Indonesia sedikitnya US$1 triliun per tahun selama 20 tahun ke depan dengan tingkat bunga 5% per tahun.

“Nilai tersebut bisa dengan memanfaatan nilai ekonomi keanekaragaman hayati yang terdapat di areal seluas 75,89 juta hektare di kawasan hutan Indonesia yang masih berhutan, terutama hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi,” ungkap Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia, Elfian Effendi, hari ini.

Dia menjelaskan jika Indonesia mampu memanfaatkan nilai ekonomi keaneragaman hayati hutan Indonesia tersebut, maka Indonesia akan mudah melunaskan seluruh utang luar negeri dan dalam negeri Indonesia yang berjumlah sekitar Rp1.600 triliun.

Namun nilai ekonomi keanekaragaman hayati hutan Indonesia, lanjutnya, sama sekali belum menjadi basis kegiatan ekonomi komersil secara serius, karena tidak kuatnya riset dan teknologi Indonesia dalam mengidentifikasi dan mengembangkan nilai ekonomi sumber daya genetik dan spesies yang terdapat di hutan alam Indonesia sebagai sumber daya ekonomi bangsa.

“Indonesia belum ketinggalan. Secara global, baru hanya sekitar 1% pemanfaatan nilai ekonomi keanekaragaman hayati di kawasan hutan yang telah dilakukan. Itu pun dimanfaatkan oleh industri-industri negara maju, misalnya untuk obat-obatan. Tentu kita harus antisipasi, jangan sampai terjadi, teriakan moratorium hutan alam Indonesia dari dunia internasional adalah bagian dari upaya untuk mengamankan keanekaragaman hayati yang terdapat di hutan Indonesia sebagai bahan baku bisnis negara-negara maju di masa akan datang,”tegas Elfian

Dengan nilai ekonomi keanekaragaman hayati hutan Indonesia sebesar US$ 1 triliun per tahun, maka jika Indonesia berhasil memanfaatkan 1% saja, maka Indonesia bisa meraup US$ 10 miliar per tahun. Nilai tersebut setara dengan 10 kali lipat dari nilai rencana kontribusi Norwegia yang dijanjikan untuk Indonesia sebagai imbalan jika Indonesia berhasil menurunkan tingkat deforestasi.

Elfian optimistis jika Indonesia dapat memanfaatkan sebesar 1% saja dari nilai ekonomi keanekaragaman hayati hutan Indonesia secara lestari dan tidak merusak hutan, maka Pemerintah Indonesia tidak perlu lagi membuat utang baru secara bilateral dan multilateral serta mengeluarkan SUN (Surat Utang Negara) karena setiap tahunnya Indonesia mendapatkan pemasukan sebesar US$ 10 miliar.

Langkah awal yang bisa dilakukan oleh Indonesia, menurut Elfian, adalah Menteri Kehutanan perlu segera membentuk tim riset dan pengembangan ekonomi pemanfaatan keaneragaman hayati hutan Indonesia dengan melibatkan Kementerian Riset dan Teknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan para pakar perguruan tinggi serta para praktisi kehutanan.

“Indonesia harus ekstra hati-hati terhadap pencurian sumber daya genetik dan spesies Indonesia. Ini masalah serius. Menhut perlu beri perhatian khusus, jangan hanya sibuk dengan perjanjian dengan Norwegia,” Elfian mengingatkan.

Sebelumnya Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kemenhut, Darori, mengatakan potensi biodiversity yang dimanfaatkan baru mencapai 20% dari sumber yang ada di kawasan hutan.

“Bukan hanya dari tumbuh-tumbuhan, melainkan juga binatang masih banyak yang belum termanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Baik untuk mencukupi farmasi maupun lainnya.” (ts)

http://www.bisnis.com/pls/bisnis/bisnis.cetak?inw_id=737644

Wakatobi Ditetapkan Sebagai Cagar Biosfir Dunia
Rabu, 22 Juni 2011 13:35 WIB

KENDARI–MICOM: Kawasan perairan laut Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), segera ditetapkan sebagai Cagar Biosfir Dunia oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui UNESCO.

“Rencananya UNESCO akan menyerahkan piagam penetapan Wakatobi sebagai Cagar Biosfir Dunia itu kepada Pemerintah Kabupaten Wakatobi September 2011,” kata Bupati Wakatobi Hugua melalui telepon dari Wakatobi, Rabu (22/6).

Menurut Bupati Hugua, lembaga internasional di bawah naungan PBB itu menetapkan Wakatobi sebagai Cagar Biosfir Dunia karena perairan laut Wakatobi memiliki keragaman jenis terumbu karang yang cukup tinggi, yakni sekitar 90 persen dari seluruh jenis terumbu karang di dunia.

“Total terumbu karang yang ada di dunia sebanyak 850 spesies, sebanyak 750 jenis diantaranya terdapat di alam bawah laut Wakatobi,” katanya.

Selain memiliki keragaman jenis terumbu karang, perairan laut Wakatobi menurut Hugua juga dihuni berbagai jenis biota laut termasuk 942 jenis ikan.

“Jumlah jenis ikan yang menghuni perairan laut Wakatobi itu, merupakan hasil penelitian yang dilakukan para peneliti dari Wallacea, lembaga peneliti yang berkantor pusat di London, Inggris,” katanya.

Pertimbangan lain yang mendorong UNESCO menetapkan Wakatobi sebagai Cagar Biosfir Dunia, menurut Hugua, adalah kebijakan Pemerintah Kabupaten Wakatobi yang konsisten menerapkan praktik-praktik konservasi dalam mengelola dan menjaga kelestarian terumbu karang. (Ant/OL-9)

Peneliti Temukan Spesies Baru di Perairan Bali
Penulis : Ruta Suryana
Minggu, 15 Mei 2011 23:56 WIB

JAKARTA–MICOM:Penelitian kelautan yang dilakukan Conservation International di Indonesia, bersama-sama mitra lokalnya menghasilkan temuan delapan spesies ikan karang dan satu spesies karang yang diduga baru di perairan Bali.

“Survei memperlihatkan adanya peningkatan persentase tutupan karang sehat dibandingkan 12 tahun lalu di sebagian besar titik penyelaman memberi indikasi bahwa terumbu karang Bali sedang dalam fase pemulihan. Dalam survei ini juga ditemukan spesies yang diduga baru,” kata Executive Director CI Indonesia Ketut Sarjana Putra melalui rilisnya yang diterima di Jakarta, Minggu (15/5).

Di antara spesies yang diduga baru, tercatat dua jenis ikan kardinal, dua varietas ‘dottybacks’, satu jenis belut laut, satu jenis ‘sand perch’, satu jenis ‘fang blenny’, spesies baru gobi, dan satu spesies karang gelembung Euphyllia yang sebelumnya tak dikenal.

“Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengkonfirmasi dan menetapkan taksonomi dan setiap spesies tersebut,” tambahnya.

Dalam survei pengkajian cepat ini, sejalan dengan survei yang dilaksanakan oleh CI bersama mitranya dengan pemerintah Bali pada November 2008 di Nusa Penida, tercatat 953 spesies ikan karang dan 397 spesies karang di perairan pesisir Bali.

Survei yang merupakan bagian dari program 20 tahun kaji cepat (Rapid Assessment Program-RAP) CI ini dilaksanakan atas permintaan pemerintah provinsi Bali dan Dinas Perikanan dan Kelautan untuk mengkaji kesehatan terumbu karang dan menyusun rekomendasi teknis pengelolaan bagi 25 wilayah yang diusulkan untuk menjadi jejaring kawasan konservasi laut di Bali.

“Data Bali RAP ini akan dijadikan pedoman untuk menentukan wilayah prioritas calon Kawasan Konservasi Perairan dalam merancang jejaring Kawasan Konservasi Perairan Bali,” tambahnya.

Penasehat ilmiah senior program kelautan Conservation International Indonesia Mark Erdmann tidak menduga menemukan keragaman habitat yang tinggi dan terumbu karang yang dalam tahap pemulihan dari pemutihan karang (bleaching) kegiatan penangkapan ikan yang merusak, dan wabah bintang laut berduri di tahun 1990-an.

“Survei kami laksanakan di 33 lokasi sekitar Bali, hampir mengitari pulau ini, dan kami sangat terkesan oleh yang kami lihat,” kata Mark Erdmann.

Meskipun dalam survei ini karang teramati dalam kondisi pemulihan yang baik dengan rasio tujuh banding satu antara karang hidup dan mati, teramati pula oleh tim survei bahwa ikan karang jenis tertentu telah terkuras habis.

Dalam kurun lebih dari 350 jam-orang penyelaman, teramati oleh tim survei hanya tiga ekor hiu karang dan tiga ekor ikan napoleon.

Hal ini berlawanan dengan kondisi sistem karang yang sehat dengan banyak predator besar yang biasanya diamati penyelam dalam sekali selam.

Tim survei juga mengamati tingginya tingkat polusi plastik dan tingginya jumlah penangkap ikan di zona inti di Taman Nasional Bali Barat.

Tim CI merekomendasikan penentuan wilayah prioritas yang memerlukan perlindungan segera, pentingnya tata ruang yang terpadu antara darat dan laut untuk mengurangi konflik antara wisata bahari dan kegiatan penangkapan ikan yang merusak.

Serta komitmen pentaatan dan pendanaan publik bagi pengelolaan kawasan konservasi laut, perlunya upaya yang sungguh-sungguh dan ketat dalam mengurangi polusi plastik serta pengelolaan aliran permukaan dari saluran buangan perkotaan dan pertanian. (Ant/OL-12)

Kalteng Memiliki 250 spesies Anggrek Hutan
Penulis : Surya Sriyanti
Rabu, 04 Mei 2011 15:25 WIB

PALANGKARAYA–MICOM: Setelah dilakukan pendataan ternyata Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) memiliki 250 spesies anggrek hutan yang berasal dari 14 kabupaten kota yang ada.

Untuk melestarikan ratusan spesies anggrek tersebut DPD Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Kalteng meminta seluruh elemen

masyarakat bersama-sama membudiyakan tanaman aggrek. Karena selain untuk memperindah rumah juga sebagai penghasilan tambahan dengan menjual anggrek hasil budi daya mereka.

Dari 250 jenis tersebut ada beberapa diantaranya mulai langka dan hampir punah seperti anggrek tikus, anggrek hitam, anggrek tebu, dan anggrek mutiara. Yang saat ini sedang kita lakukan budidaya agar tidak punah. Karena dibudidayakan untuk dibawa keluar perlu surat izin dari pihak terkait.

“Tapi kita usahakan anggrek yang terancam punah seperti bisa terlebih dahulu dilestarikan jangan dibawa keluar maupun dijual dulu agar tidak punah,” tegas Ketua DPD PAI Kalteng Moernatining Teras Narang, kepada wartawan seusai acara bulan bakhti gotong

royong masyarakat di Palangkaraya, Rabu (4/5).

Menurut dia, pihaknya sangat antusias dengan banyaknya jenis anggrek di Kalteng dan bisa menjadi usaha sambilan masyarakat Kalteng.

“Kita minta budidayakan dulu agar ketika dijual kita sebagai pemilik tidak masih memiliki anggrek tersebut,” tuturnya.

Dan saat ini ujar Moernatining , DPD PAI sudah mempunyai tempat showroom bagi anggrek-angrek tersebut dilestarikan dan dibudidayakan, yakni di hutan mini milik Pemprov Kalteng yang berada di kantor gubenur kalteng yang nantinya akan menjadi tempat pameran bagi tamu untuk melihat berbagai jenis anggrek khusus dari Kalteng.

Sedangkan Gubenur Kalteng Agustin Teras Narang mendukung apa yang dilakukan pihak DPD PAI Kalteng untuk melestarikan 250 species anggrek, khusus dari Kalteng dengan menyediakan tempat pelestarian bagi anggrek-anggrek tersebut.

“Ke depan, tadi saya sudah sampaikan kepada para bupati agar tanaman anggrek yang diwilayah masing-masing agar digalakan untuk dibudidayakan dengan baik dan khusus untuk ibu bupati dan wali kota untuk ikut membantu menggalakkan pelestarian anggrek ini. Karena saya ingin Kota Palangkaraya menjadi kota anggrek yang khusus anggrek spesies Kalteng,” ujar Teras.

Dan untuk hutan mini tempat showroom anggrek yang telah disediakan diharapkan bisa menjadi tempat pameran bagi tamu pemerintah dan menjadi tempat wisata bagi para pelajar yang nantinya para pelajar bisa melihat berbagai jenis anggrek di sana. (OL-12)

Comments (1) »