Archive for Agustus, 2010

Baku Hantam_TNI AU dikalahkan Polisi!!!

Kompas, Rabu, 1 September 2010

Padang, Kompas – Dua anggota Polisi Militer TNI Angkatan Udara Pangkalan Udara Padang, Sertu Eko Subroto dan Pratu Bayu Fajri, Selasa (31/8), terlibat perkelahian dengan sejumlah anggota Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Padang di kawasan Pegambiran, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Sumatera Barat.

Perkelahian tidak imbang itu menyebabkan sejumlah memar di tubuh Eko dan Bayu, bahkan baju dinas yang dikenakan Bayu robek di bagian pinggang kiri.

Kejadian bermula dari razia kendaraan bermotor yang dilakukan polisi di dekat Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) Mata Air di Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. Saat itu sepeda motor Honda Vario CBS bernomor polisi BA 6983 SS milik Eko yang dikendarai adiknya bernama Nofriko Urdissi Putra dihentikan polisi. Penyebabnya, pelat nomor sepeda motor itu merupakan modifikasi yang tidak sesuai dengan standar polisi.

”Padahal, belum ada sosialisasi soal larangan menggunakan pelat nomor modifikasi. Sepeda motor saya juga lengkap semua, spion lengkap, surat-suratnya lengkap,” ujar Eko.

Dipersoalkan polisi, Nofriko yang merasa tidak bersalah lalu menghubungi Eko dan Bayu.

Bayu mengaku sempat berbicara dengan petugas polisi lalu lintas yang merazia melalui telepon. Namun, yang didapat bukan penyelesaian, melainkan kata-kata bernada tantangan.

Bayu dan Eko akhirnya menemani Nofriko untuk menyelesaikan masalah tersebut di kawasan Pegambiran, Lubuk Begalung, karena lokasi razia sudah berpindah.

Saat itulah terjadi perkelahian antara dua anggota TNI AU tersebut dan sekitar sepuluh anggota Satlantas Polresta Padang. Mereka semua tak mampu mengendalikan emosi. Bayu bahkan mengatakan, dia sempat ditodongkan pistol, tetapi pistol itu jatuh setelah ditendangnya.

”Kalau kami datang tidak membawa senjata. Mana boleh kami bawa senjata keluar, kecuali anggota Pom (Polisi Militer) AU yang piket,” papar Bayu.

Komandan Satpom TNI AU Lanud Padang Kapten Robert Flan mengatakan, dia memang mengizinkan Bayu Fajri dan Eko Subroto untuk membantu penyelesaian kasus yang dihadapi Nofriko. Ia bahkan memerintahkan agar keduanya mengenakan pakaian dinas lengkap dan melepas baju sipil karena hendak menemui petugas dari instansi lain.

”Kami bukannya arogan, tetapi saya kasih tahu anggota untuk menghormati polisi agar pakai seragam,” kata Robert.

Kepala Unit Patroli Polresta Padang Ajun Komisaris Aswarman mengatakan, masalah itu muncul akibat adanya miskomunikasi. Ia menampik terjadi perkelahian antara anak buahnya dan dua anggota Pom TNI AU Lanud Padang.

Kepala Satlantas Polresta Padang Komisaris Komaruddin mengatakan, peristiwa itu terjadi ketika polisi sedang melakukan Operasi Cipta Kondisi. Ia mengimbau agar tidak ada pihak-pihak yang membawa-bawa nama kesatuan dan berupaya memancing perselisihan antara TNI dan Polri.

”Jangan adu TNI dan Polri. Polri dan TNI tidak ada masalah,” kata Komaruddin menekankan. (INK)

tuh anggota AU kalah ma Polisi toh…wkwkwkw

Iklan

Comments (2) »

Buruknya Administrasi KemenKumHam

Sejak pendaftaran Online Pengadaan CPNS lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, pada tanggal 27-29 September saya kesulitan untuk memasuki website Kemenkumham.

Memang, pendaftaran masih berlangsung sampai dengan tanggal 31 agustus namun, akibat buruknya pengelolaan administrasi Kemenkumham maka sampai saat ini saya belum bisa mendaftar. Selain itu saya juga telah merasa dirugikan waktu dan uang.

Oleh sebab itu, sudah selayaknya Kemenkumham memberikan penjelasan dan perbaikan serta sekaligus permohonan maaf kepada para pendaftar CPNS Kemenkumham.

halaahhh, memang dasar “wali”

Leave a comment »

Dibalik Razia Kendaraan Bermotor Oleh Kepolisian

Razia Polisi, Mengapa Ditutupi?

Oleh ALOYSIUS SONI BL DE ROSARI

Mengapa sekadar meliput razia kendaraan bermotor saja polisi begitu rapat menutupi akses bagi wartawan? Apa yang membuat mereka khawatir dan takut? Apa pula sebenarnya yang sedang ditutup-tutupi? Adakah ketidakberesan yang berusaha disembunyikan? Pertanyaan- pertanyaan ini sontak mengganggu pikiran saya ketika membaca berita perlakuan aparat Kepolisian Kota Besar Yogyakarta menghalangi- halangi tugas dua wartawan yang sedang meliputi razia kendaraan yang digelar Satuan Lalu Lintas Poltabes Yogyakarta, di Jalan Mangkubumi, Jumat, 6 Agustus 2010.

Kamera wartawan Tempo Bernada Rurit dirampas dan foto-foto hasil jepretannya pun dihapus. Regina Septiarini Safri, wartawan Antara, beruntung karena berhasil mengamankan kamera miliknya walaupun ada oknum polisi yang berusaha mengambilnya.

Ketertutupan dan ketakutan berlebihan ini terasa aneh dan menggelikan dari sebuah lembaga pelayanan publik di mana transparansi dan akuntabilitas menjadi harga mati. Bukankah publik perlu tahu kinerja, profesionalisme, dan etos kerja yang dilakukan Polri sebagaimana amanah yang diamanatkan dan dana yang telah dikucurkan. Masyarakat, seperti halnya individu ataupun badan usaha, tentu tidak mau memberi gaji buta, apalagi dana untuk itu sangat besar.

Publik pun tidak rela jika mandat yang diberikan kemudian disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau segelintir orang. Itu sebabnya negara membuat payung hukum untuk memberi kewenangan kepada pers melakukan kontrol terhadap lembaga-lembaga pelayanan publik.

Adakah yang tidak beres?

Penulis masih ingat, beberapa tahun silam sebagai wartawan sering diundang polisi untuk meliput rencana, kegiatan, atau keberhasilan sejumlah operasi yang dilakukan seperti gelar operasi ketupat/lilin, keberhasilan membongkar kejahatan, atau bahkan pelayanan bimas ke kampung-kampung atau lokasi binaan.

Lho, kok ini malah ditutup-tutupi, bahkan sampai nekat merampas kamera dan kemudian menghapus file foto wartawan segala. Akal sehat kita langsung terentak. Pasti ada sesuatu yang tidak beres.

Sebab, adalah naluri manusiawi yang sangat mendasar untuk selalu berusaha menutup dan menjaga dengan ketat kekurangan apalagi aib yang akan mencoreng nama baik, mengancam posisi dan jabatan, mengurangi sumber-sumber penghasilan, atau menghancurkan status sosialnya. Perbuatan nekat pun akan diambil untuk menjaga kerahasiaan aib ini.

Jadi, ketidakberesan apa yang sebenarnya hendak ditutup di balik operasi razia kendaraan Poltabes Yogyakarta di atas. Mantan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia di era Gus Dur, Jenderal (Purn) Chairuddin Ismail, mengatakan bahwa polisi yang terlalu rajin melakukan razia bukanlah polisi pengayom namun justru polisi pengusik! Terlalu rajin melarang hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu berbahaya bagi masyarakat justru akan menghilangkan empati publik.

Penulis sendiri merasa sangat kecewa terhadap polisi ketika beberapa waktu lalu aksi pembacokan marak terjadi di beberapa tempat di DIY. Kecewa karena pada saat yang sama kita melihat polisi begitu rajin melakukan razia kendaraan, tetapi sepertinya alpa menjaga keselamatan masyarakat sehingga aksi pembacokan merebak.

Lantas adakah aib yang harus dijaga rapat dalam razia kendaraan di Jalan Mangkubumi? Dalam Grand Strategi Polri 2005-2025 disebutkan, langkah pertama yang akan dilakukan Polri (2005-2010) adalah membangun kepercayaan masyarakat. Polri sadar betul ada kesan buruk yang harus segera dibenahi, seperti masih bergaya militeristik, tidak transparan, lebih suka dilayani daripada melayani, mudah disuap atau memanfaatkan jabatan dengan melakukan pemerasan.

Kembali ke razia kendaraan, kiranya sudah merupakan rahasia umum bahwa jurus “tahu sama tahu” dapat menjadi jalan pintas merampungkan pelanggaran kelengkapan berkendaraan yang terkena bukti pelanggaran (tilang).

Lihat saja berita utama Kompas Yogyakarta, Kamis, 19/8/2010. Jumlah denda tilang di DIY tahun 2009 dengan 80.761 kasus hanya mencapai Rp 1,15 miliar. Memang ada peningkatan 23,16 persen dari tahun 2008 (73.101 kasus dengan denda Rp 935,44 juta).

Akan tetapi, mari kita berhitung. Disebutkan dalam berita, denda satu pelanggaran berkisar Rp 25.000, maka seharusnya pada tahun 2009 denda tilang yang diperoleh sebesar Rp 20,1 miliar. Ke manakah larinya lebih dari Rp 18 miliar. Ini fakta tak terbantahkan bahwa transparansi dan akuntabilitas publik dalam persoalan denda tilang sangat lemah. Razia kendaraan bermotor ternyata bisa membuat gemuk kantong oknum tak bermoral, bukan negara.

Betul, kata Kapoltabes Yogyakarta Kombes Atang Heradi bahwa penghapusan file foto wartawan Tempo merupakan tindakan perorangan, bukan institusi kepolisian. Namun, masyarakat menunggu sikap tegas institusi terhadap anggota yang telah melakukan pelanggaran hukum, disiplin, dan pencemaran nama baik korps sebagai komitmen membangun paradigma baru, yaitu Polri yang profesional, bermoral, dan modern sebagai pelindung, pengayom, pelayan masyarakat, dan penegak hukum. Kita juga perlu tahu apa motivasi pelarangan terhadap kerja wartawan tersebut. Tak kalah pentingnya, Polri juga harus menjelaskan bagaimana transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan razia kendaraan serta dana publik yang dikumpulkan dari denda tilang.

ALOYSIUS SONI BL DE ROSARI Editor, Tinggal di Yogyakarta

Kopas 28 agustus 2010

Leave a comment »

Bagaimaan Anak Belajar?

Belajar terjadi bila anak dihadapkan dengan sesuatu yang baru dan berbeda dari apa yang telah mereka ketahui sebelumnya. Sesuatu yang baru tersebut dapat berupa gagasan, ide, dan konsep. Namun, yang harus selalu diingat adalah bahwa anak atau bahkan kita yang telah dewasa sekalipun selalu terangsang oleh hal-hal baru yang mengganggu pikiran kita. Persoalannya adalah dengan cara apa gagasan, ide atau konsep ditangkap anak ketika belajar? Dalam brain based learning theory disebutkan bahwa otak kita ketika merespons gagasan, ide, atau konsep selalu dalam bentuk gambar.

Ambil contoh kata kuda dan gajah. Otak kita akan menerima persepsi soal kuda dan gajah tidak dalam bentuk huruf-huruf, tetapi dalam bentuk gambar. Pastilah yang terbayang soal gajah bisa saja belalai, gading, kaki, dan sebagainya; sementara kuda yang terbayang adalah mulut, kaki, buntut, dan bahkan suaranya. Karena itu, penting bagi guru untuk menggunakan media belajar dalam bentuk grafis, film, gambar, dan metafora agar otak anak menjadi terlatih dalam memahami, mengingat, dan sekaligus melakukan analisis terhadap suatu masalah.

Anak pada dasarnya dapat merespons sesuatu yang baru atau berbeda dengan tiga cara, yaitu penggabungan, adaptasi, dan penolakan. Penggabungan memungkinkan anak untuk mengakumulasi informasi baru dengan informasi sebelumnya. Adaptasi dilakukan otak untuk memilah dan memilih informasi berdasarkan kebutuhan intuitif anak. Penolakan terjadi jika informasi yang diterima tidak sesuai dengan atau bertolak belakang dengan gagasan yang telah diterima sebelumnya.

Karena tingkat aktivitas otak secara langsung berkaitan dengan tingkat stimulasi dari dan dalam lingkungan belajar, menggunakan media dan sarana belajar yang tepat akan membantu anak untuk belajar banyak secara baik dan konsisten. Sifat otak juga sangat responsif dan untuk itu dibutuhkan media belajar dalam bentuk grafis dan gambar yang dapat merangsang kerja otak secara maksimal. Penting juga untuk diketahui para guru bahwa sifat rangsangan tidak terbatas dalam waktu atau tempat–mereka dapat muncul terus-menerus–secara formal dan informal.

Proses belajar yang menggunakan media belajar secara tepat dan terus-menerus itulah yang akan menghasilkan atau meningkatkan apa yang telah disebut Howard Gardner sebagai kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Artinya penting bagi seorang guru untuk memahami ragam talenta siswa mereka secara cerdas dan bertanggung jawab berdasarkan minat dan bakat yang dimilikinya. Jika kesadaran ini tumbuh dan meluas, proses belajar-mengajar tidak lagi berorientasi pada hasil, tetapi pada prosesnya itu sendiri yang membutuhkan banyak sekali kreativitas guru dalam mengajar dalam rangka menunjang ragam talenta siswa.

Selain itu, penting bagi guru untuk mengetahui gaya belajar David Kolb (1984), yang membedakan ke dalam empat gaya belajar yang berkaitan dengan ragam talenta anak, yaitu anak berjenis pengamat (observers), pemikir (thinkers), pengambil keputusan (deciders), dan pelaku (doers). Tiap gaya belajar itu tentu saja memiliki kekuatan dan kelemahan sendiri-sendiri. Namun, idenya adalah ingin menjadikan setiap guru dan siswa menjadi lebih sadar akan kekuatan mereka dalam belajar dan bekerja pada kekuatan dan kelemahan yang mereka mampu mengidentifikasinya.

Anak dengan kecenderungan seorang observer cenderung berfokus pada informasi faktual dan belajar banyak dari melihat kejadian, mendengarkan pengalaman orang lain, dan berpikir tentang mereka, yaitu fokus pada peristiwa-peristiwa kehidupan nyata. Anak dengan gaya belajar thinker cenderung gandrung pada penelitian hal-hal baru yang berusaha diperolehnya dengan membaca dan memikirkan hal itu untuk menemukan apa yang belum dan sudah diketahui.

Decider biasanya memiliki insting berlebih soal teori dan peraturan apa yang sebaiknya digunakan karena mereka lebih suka struktur yang jelas dan bekerja dalam cara yang praktis. Ciri lainnya adalah mereka tidak begitu baik dalam membuat hubungan antara konsep dan teori. Yang terakhir adalah tipe belajar doers, dengan anak biasanya senang belajar dengan membuat kesalahan dan dengan menemukan sesuatu untuk diri mereka sendiri. Mereka adalah para risks-taker yang cenderung mau mengambil risiko untuk mengatasi dengan baik setiap perubahan dan bisa mendapatkan jawaban lebih banyak dituntun intuisi.

“The mind is not a vessel to be filled, but a fire to be ignited.”
(Plutarch – a follower of Socrates)
Ahmad Baedowi

Leave a comment »

Presiden mengampuni koruptor

Pertama kalinya dalam sejarah hukum Indonesia, ada seorang Presiden yang mengampuni koruptor, yakni presiden yudhoyono. pengampunan terhadap koruptor tersebut melalui pemberian grasi kepada terpidana korupsi mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais.

ckckckckkkk

Leave a comment »

Belajar untuk Mengerti

“I listen and I forget, I see and I know, I do and I understand.” (Confucius)
Confucius, seorang pemikir klasik China, dalam kutipan itu berbicara tentang praktik pendidikan modern meski dia mengemukakannya ribuan tahun lalu. Cara belajar dan mengajar yang efektif harus mengacu ke upaya memahami atau mengerti (understanding) ketimbang tindakan mendengar atau menghafal yang biasanya sebagian besar dilupakan di setiap selesai ujian. Konsekuensinya, kegiatan pengajaran pun harus berupa teaching for understanding (Linda Darling-Hammond, 2008).

Namun, prinsip belajar-mengajar yang sudah digagas dan dipraktikkan Confucius tersebut ternyata masih terkendala untuk diterapkan saat ini, khususnya dalam konteks pendidikan Indonesia. Terlepas dari diberlakukannya ujian nasional sebagai standar kelulusan atau tidak, kegiatan pembelajaran yang diterapkan di berbagai sekolah bisa jadi masih akan bercirikan learning for exams, belajar demi ujian. Bahkan sekolah-sekolah yang melabeli diri dengan status berstandar nasional atau bahkan berstandar internasional pun sepertinya belum tentu mampu terlepas dari kecenderungan itu. Peralihan sering kali membutuhkan prasyarat dan syarat yang tak mudah untuk dipenuhi.

Berdasarkan pembacaan atas karya Linda Darling-Hammond, Powerful Learning: What We Know about Teaching for Understanding (2008), kita bisa mencirikan bahwa pada kutub learning for exams siswa cenderung menjadi objek belajar yang pasif dan belajar secara tidak mendalam. Bentuk penilaian umumnya berupa pencil and paper test serta summative. Materi pembelajaran berisi konten yang terpisah-pisah. Satu konten dan konten lainnya mungkin tidak berhubungan. Konten juga cenderung tidak berkaitan langsung dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah diperoleh siswa sebelumnya. Di samping sulitnya menemukan materi-materi yang kontekstual, kualitas konten juga cenderung tidak merangsang pengembangan kemampuan analitis peserta didik. Terakhir, kegiatan pembelajaran pun terjebak dalam kegiatan belajar menghafal atau belajar dengan menghafal (rote memorization) dan mengesampingkan proses atau latihan analisis dan penalaran.

Pada kutub learning for understanding, berdasarkan penelitian Linda Darling-Hammond, kita bisa mengidentifikasi bahwa proses pembelajaran merupakan wahana untuk aktif dan telaah mendalam (active and in-depth learning). Dalam konsep ini bentuk penilaian bersifat autentik dan cenderung lebih bersifat formatif. Untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kaya dan bermakna, siswa didorong untuk belajar dengan berkolaborasi. Konten pembelajaran disusun dengan menimbang pengetahuan dan pengalaman prabelajar (prior knowledge and experiences) yang dimiliki siswa. Di samping itu, pembelajaran dilakukan terintegrasi secara konseptual serta dilakukan pengembangan kemampuan metakognitif, thinking about one’s own thinking. Proses analisis dan penalaran diutamakan, bukan terjebak pada kegiatan menghafal.

Prinsip kunci
Beralih ke arah kutub belajar untuk mengerti tentu saja menjadi semacam keharusan saat ini. Dalam rangka peralihan tersebut, setidaknya ada beberapa prinsip kunci yang perlu dicermati. Pertama, seiring dengan prinsip student-centered, kegiatan belajar untuk mengerti menjadikan siswa sebagai subjek yang difasilitasi untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, baik terhadap gagasan eksternal maupun gagasan yang tumbuh dari dirinya sendiri.
Untuk memfasilitasi konsep ini, siswa dilatih untuk mampu mengomunikasikan gagasan atau pendapat dalam group settings, yang mengandaikan interaksi aktif antarpeserta didik secara demokratis.

Kedua, guru harus berfilosofi bahwa belajar merupakan proses yang bersifat developmental, suatu proses alamiah, manusiawi, dan bertahap. Proses belajar bukan proses seperti membeli nasi bungkus yang bisa langsung didapat tak lama setelah dipesan. Dalam proses belajar guru bersandar pada ekuilibrium pertumbuhan fisik, psikis dan inteligensi. Seiring dengan itu, guru memfasilitasi siswa untuk belajar dengan memanfaatkan pengalaman dan belajar mendapat pengalaman baru yang bermakna sekaligus menyenangkan dengan tak lupa untuk berefleksi.

Ketiga, guru mestilah menjadi integrator kurikulum yang cerdas, yang mampu mengintegrasikan kegiatan pembelajaran dan penilaian dalam perencanaan, mulai pemahaman konsep-konsep kunci sampai pada proses reinforcement, penguatan pemahaman siswa. Sistematika kegiatan pembelajaran dirancang dalam bentuk siklus-siklus belajar aktif (learning by doing), pemberian kesempatan berefleksi, serta memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk berkembang dengan kerja kelas.
Dalam perencanaan, seorang guru juga berusaha sedemikian rupa memfasilitasi kegiatan belajar dengan menganalisis (inquiry learning), belajar dengan berkarya (project-based learning), dan belajar untuk menemukan pengetahuan secara langsung (discovery learning). Semua bagian perencanaan mestilah fokus pada konteks dunia nyata (real-world contexts), dengan siswa tidaklah duduk manis dan sibuk dengan menghafal berbagai informasi dan fakta (rote memorization), tetapi secara aktif diupayakan untuk mengamati, menganalisis, dan membuat simpulan.

Keempat, learning for understanding menerapkan on-going assessment yang berbeda dari praktik penilaian tradisional. Dalam teknik penilaian itu, terdapat orientasi kebermaknaan, dengan hasil penilaian mampu menyediakan umpan balik yang aplikatif bagi siswa. Hasil penilaian didapat dari proyek-proyek yang dikerjakan siswa dengan berbasis pada belajar dengan menganalisis (inquiry learning). Fokus penilaian adalah tujuan-tujuan (goals) yang dirancang bersama-sama oleh guru dan murid, bukan semata-mata demi memenuhi tuntutan kurikulum resmi. Format penilaian bersifat informatif, berupa ‘catatan’ tentang rangkaian proses belajar dengan rubrik-rubrik proyek, dengan terdapat outline yang jelas serta adanya panduan penilaian (marking guidelines) yang secara spesifik menggambarkan kualitas kerja yang diharapkan dari siswa.

Model aplikasi
Contoh aplikasi learning for understanding pertama-tama bisa dilihat dalam pembelajaran matematika. Jika sebelumnya tindakan belajar cenderung sebagai upaya menghafal rumus atau logaritma, dalam learning for understanding tujuannya lebih sebagai upaya sense-making, kegiatan memahami atau membuat apa pun yang dipelajari jadi masuk akal. Pembelajaran matematika tidak melulu berupa penjejalan konten, tetapi menempatkan proses memahami sebagai bagian terpenting yang difasilitasi dengan kegiatan-kegiatan realistis. Dalam proses tersebut diutamakan kegiatan belajar memecahkan masalah (problem-based learning), penerapan prinsip kebermaknaan (meaningful application) dan kebergunaan secara kontekstual (use within contexts).

Dalam bidang sains, fasilitasi kegiatan belajar siswa mesti berorientasi pada pencapaian kualitas pemahaman yang tidak melulu melalui proses abstrak atau teoretis, tetapi lebih diutamakan sebagai pemahaman yang diperoleh dari ekpserimentasi dan pengamatan. Pemahaman juga mestilah sampai pada kemampuan aplikatif serta kemampuan menemukan jawaban atas soal-soal dalam dunia nyata (real-world problems). Kegiatan belajar bukan lagi memorisasi data faktual atau penciptaan diorama-diorama fenomena alam, tetapi lebih pada kreativitas dan eksperimentasi mandiri.

Dalam pembelajaran bahasa, selain berorientasi pada kemampuan komunikatif (communicative skills), kegiatan belajar juga merupakan jembatan untuk penguasaan bahasa akademis (academic language), kemampuan yang amat diperlukan dalam mempelajari konten-konten bidang lain. Dengan kata lain, pembelajaran bahasa menjadi bersifat inter-disciplinary, lintas bidang studi.

Siswa dilatih menggunakan kerangka berpikir untuk mencapai pengertian, memanfaatkan keberadaan pengetahuan terdahulu (prior knowledge), organisasi atau pengelompokan gagasan, dan strategi monitoring, kemampuan mengamati perkembangan pemikiran sendiri. Dalam pembelajaran yang melibatkan daya pikir dan nalar secara aktif ini (mindful engagement) sekaligus tercakup aspek kognitif, reflektif, serta investasi pengetahuan individu dengan membaca.

Di atas semuanya, penerapan learning for understanding tentu saja mensyaratkan pengembangan diri guru, profesionalisme yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan metodologis, tetapi juga kemampuan manajemen pengajaran dan kompetensi keilmuan. Secara institusional, para administrator pendidikan, terutama kepala sekolah, harus memfasilitasi mereka dengan waktu, sumber daya, dan apresiasi yang sepadan.

Oleh Khairil Azhar, Peneliti pada Yayasan Wakaf Paramadina

Leave a comment »

AK-47 dan M16

AK-47
Singkatan dari Avtomat Kalashnikova 1947, Rusia. Adalah senapan serbu yang dirancang oleh Mikhail Kalashnikov, diproduksi oleh pembuat senjata Rusia IZhMASh, dan digunakan oleh banyak negara Blok Timur semasa Perang Dingin. Senapan ini diadopsi dan dijadikan senapan standar Uni Soviet pada tahun 1947.

AK-47 mempunyai ukuran lebih kecil, dengan jangkauan yang lebih pendek, memakai peluru dengan kaliber 7,62 x 39 mm yang lebih kecil, dan memiliki pilihan tembakan (selective-fire). AK-47 termasuk salah satu senapan serbu pertama dan hingga kini merupakan senapan serbu yang paling banyak diproduksi

M16
adalah senapan serbu yang pertama kali diproduksi Amerika Serikat.
M16 menggunakan peluru 5.56 x 45 mm NATO.
Senapan ini digunakan sebagai senapan serbu utama yang di pakai infanteri Amerika Serikat sejak 1967. M16 juga dipakai oleh 15 negara NATO lainnya, dan merupakan senapan berkaliber 5.56 mm yang paling banyak diproduksi.

copy paste dari berita koran.

Leave a comment »