Archive for Konservasi SDA Hayati

REFLEKSI KONSERVASI HARIMAU

Peringatan Hari Harimau Sedunia jatuh setiap tanggal 29 Juli. Tahun ini adalah tahun keenam sejak ditetapkan dalam The St. Petersburg Declaration on Tiger Conservation pada tahun 2010.
Saat itu, disepakati bersama untuk meningkatkan populasi harimau di dunia yang berjumlah 3.200 ekor tahun 2010, hingga dua kali lipat menjadi lebih dari 7.000 ekor di tahun 2022.
Indonesia termasuk salah satu negara yang menandatangani Deklarasi, yang juga menegaskan, bahwa harimau adalah salah satu indikator penting ekosistem yang sehat.
Rusaknya ekosistem tidak hanya berdampak pada kepunahan harimau, tetapi juga hilangnya keanekaragaman hayati.
Terdapat sembilan subspesies harimau yang pernah ada di dunia. Diketahui tiga subspesies telah punah dimana dua di antaranya dari Indonesia.
Harimau jawa (Panthera tigris sondaica) dan harimau bali (Panthera tigris balica) telah dinyatakan punah, pada tahun 1940 sampai 1980-an. Sedangkan satu harimau lagi adalah kaspia (Panthera tigris virgata).
Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae), menjadi satu-satunya harimau yang masih dimiliki bangsa Indonesia.
Sejak tahun 1996, IUCN (International Union for Conservation of Nature), telah memasukkan Harimau Sumatra dalam Daftar Merah satwa terancam punah dengan status Kritis (Critically Endangered). Selangkah lagi menuju kepunahan.
Pemerintah telah dan masih tetap berupaya menyelamatkan harimau sumatera dari kepunahan.
Diatas kertas, pada tahun 1990 pemerintah telah memiliki UU 5/ 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UUKSDAH) sebagai tulang punggung upaya konservasi. Pada tahun 1994 pemerintah telah pula menerbitkan dokumen Rencana Aksi Nasional untuk konservasi harimau sumatera. Kemudian direvisi kembali pada tahun 2007, yang berlaku hingga 2017.
Setelah seperempat abad, tampaknya upaya konservasi harimau masih belum memberikan hasil yang menggembirakan. Secara Global, sensus di tahun 2014 menunjukan populasi harimau sumatera di alam diperkirakan hanya tinggal 371 ekor.

Ancaman Konservasi Harimau
Hulu masalah konservasi harimau sumatera adalah hilangnya habitat hidupnya akibat aktivitas manusia.
Alih fungsi kawasan konservasi menjadi kawasan pembangunan seperti pertanian, perkebunan, pertambangan, pemukiman, atau infrastruktur mengakibatkan habitat harimau semakin kecil dan terfragmentasi.
Kebakaran hutan yang terjadi di akhir tahun 2015 saja, telah mengakibatkan lebih dari 2 juta Ha lahan atau hutan di sumatera terbakar (KLHK).
Pada satu sisi, ditetapkannya hutan hujan sumatra sebagai situs Warisan Dunia (World Heritage) adalah wujud pengakuan kekayaan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. Namun, di lain sisi mencerminkan kondisi hutan sumatera sudah diambang kehancuran.
Selain itu, sempitnya habitat harimau telah memicu bencana, berupa konflik antara manusia dan harimau.
Aktivitas manusia, mengakibatkan harimau terdesak “naik gunung” ke hutan dataran tinggi yang keanekaragaman hayatinya lebih sedikit. Keyataannya, sempitnya habitat dan diiringi sedikitnya mangsa, memaksa harimau “turun gunung” dan memangsa hewan ternak masyarakat.
Sehingga bencana konflik tak terhindarkan. Pada akhirnya, tentu saja harimau yang selalu saja terusir dari habitatnya, sebagaimana peristiwa penangkapan harimau di Mandeh Sumatera Barat lalu.
Sedangkan ancaman di hilir yang membahayakan upaya konservasi harimau sumatera adalah perburuan dan perdagangan illegal.
Harimau dan bagian-bagian tubuhnya telah lama dipercaya berkhasiat untuk obat-obatan tradisional, meningkatkan kekuatan magis dan simbol status.
Kebutuhan dan kelangkaan tentu semakin menyuburkan kegiatan perdagangan illegal.
Sejalan dengan hal itu, maka kepemilikan satwa atau pemanfaatan bagian tubuh harimau secara illegal menjadi keniscayaan.

Penegakan Hukum Konservasi Harimau
Aparat penegakan hukum, selama ini tentu tak tinggal diam. Pada bulan Mei lalu, kembali diamankan tiga orang yang terlibat penjualan kulit harimau oleh kerjasama aparat dan balai taman nasional gunung leuser.
Namun diakui ataupun tidak, kinerja penegakan hukum konservasi masih sangat jauh panggang dari api.
Menurut BKSDA, Indonesia surganya perdagangan satwa illegal. Praktik itu diperkirakan merugikan negara sekitar Rp 9 triliun per/ tahun. Sebab, selain memiliki kekayaan keanekaragaman hayati (megabiodiversity), sanksi hukum di Indonesia juga relatif lebih lemah dan aparatur negara mudah dibengkokkan.
Selama ini, penegak hukum hanya menerapkan ketentuan pidana kepada pelaku perburuan atau perdagangan illegal saja. Sedangkan terkait kepemilikan atau pemanfaatan illegal satwa dilindungi seolah diistimewakan.
Aparat seharusnya menerapkan sanksi pidana kepada para pelaku, yang notabene bermotif sepele. Sekedar meningkatkan status sosial semata.
Padahal, dalam UU 5/1990 telah ditetapkan sanksi pidana, bagi orang atau lembaga yang memelihara serta memiliki bagian-bagian tubuh satwa langka tanpa izin.
Pemilikan opsetan atau penggunaan pipa rokok dari gading gajah pun lazim kita jumpai.
Hal tersebut mengingatkan peristiwa Pemberian Rekor Nasional untuk Keris Berangka Gading Gajah kepada Bupati, yang lenyap begitu saja. Contoh terakhir, adalah kasus kepemilikan opsetan harimau seorang Menteri.
Patut diingat, setelah menetapkan UU 5/ 1990, pemerintah mengeluarkan Kepmenhut. No 301/Kpts-II/1992 dan No. 479/Kpts-VI/1992.
Peraturan tersebut menghimbau pihak yang terlanjur memiliki spesies dilindungi dan produk atau bagian-bagiannya, untuk mendaftar dan mendapatkan izin, sampai dengan batas waktu Oktober 1992. Saat itu sekitar 1.081 opsetan kulit harimau yang telah terdaftar (Tilson dan Traylor-Holzer, 1994).
Aparat penegak hukum seharusnya menegakkan hukum tanpa pandang bulu.
Sehingga timbul efek jera terhadap kegiatan yang mendorong suburnya perburuan dan perdagangan illegal satwa dilindungi, khususnya Harimau Sumatera.
Punahnya harimau jawa dan harimau bali harus menjadi pelajaran untuk mewujudkan upaya konservasi harimau sumatera yang lebih baik.
Masih belum terlambat. Momentum hari harimau sedunia dapat menjadi refleksi dalam rangka menyelamatkan harimau sumatera dari ancaman kepunahan.
Sehingga generasi bangsa Indonesia mendatang tidak hanya mengenal karya fiksi berupa “Tujuh Manusia Harimau” semata.

Iklan

Leave a comment »

Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Indonesia – GAGAL TOTAL – Cuma Omong Kosong

Klipping Hancurnya Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Indonesia

Mau Selamatkan Orangutan Kok Bayar…
Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Jumat, 3 Februari 2012

JAKARTA, KOMPAS.com — Ironis. Kalangan peduli lingkungan ternyata harus membayar untuk melestarikan orangutan. Ini menjadikan upaya pelestarian punya kendala biaya, selain lahan yang juga minim.

“Jumlah lahan hutan untuk orangutan sekarang 86.450 hektar. Namun, hanya 40 persen saja yang layak,” ungkap Jamartin Sitihe, Presiden Direktur Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).
Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

Kepunahan Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Ancaman Kepunahan Keanekaragaman Hayati -Konservasi Sumber Daya Alam Hayati

ini adalah bukti buruknya pengelolaan sumber daya alam yang diamanatkan kepada pemerintah Indonesia.

Duh, Populasi Hewan Langka Kalsel Terancam Punah
Penulis : Denny Susanto
Kamis, 02 Juni 2011 20:41 WIB

BANJARMASIN–MICOM: Kerusakan hutan akibat maraknya penebangan liar, kebakaran, serta alih fungsi hutan menjadi pertambangan dan perkebunan menyebabkan populasi sejumlah satwa langka di Kalimantan Selatan terancam punah.

Beberapa satwa langka khas kalimantan Selatan (Kalsel) yang terus berkurang dan terancam punah tersebut antara lain beruang madu, owa-owa, kijang emas, dan Bekantan.

“Dalam lima tahun terakhir terlihat populasi berbagai jenis satwa, termasuk satwa langka, semakin berkurang bahkan terancam punah,” kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel Bambang DA di Banjarmasin, Kamis (2/6).

Menurutnya, pihaknya sangat prihatin atas kondisi kerusakan lingkungan, terutama degradasi hutan akibat masih maraknya penebangan dan alih fungsi kawasan hutan untuk berbagai aktivitas seperti pertambangan dan perkebunan. “Kerusakan hutan otomotis membuat habitat satwa ikut rusak, sehingga banyak satwa mati,” tambahnya.

Fakktor lain penyebab terus berkurangnya satwa adalah kebakaran hutan dan masih adanya aksi perburuan satwa langka oleh masyarakat. “Perburuan dan perdagangan satwa langka ini, menjadi masalah tersendiri yang perlu ditangani,” ucapnya. (DY/OL-01)

Tangkapan Ikan Sidat Mulai Menurun
Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Jumat, 17 Juni 2011 | 18:16 WIB

KOMPAS.com – Hasil tangkapan ikan sidat sudah mulai menurun. Dr Hagi Yuli Sugeha, peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkannya dalam wawancara usai presentasi hasil penelitian ikan sidat di Widya Graha LIPI, Jakarta, Rabu (25/6/11).

“Belakangan sudah mulai menurun hasil tangkapannya. Ukuran yang ditangkap juga sudah kecil-kecil,” katanya. Menurutnya, penyebabnya adalah pola penangkapan memakai jebakan permanen sehingga tak satu pun ikan sidat yang bisa lolos dari jebakan.

Hagi juga mengungkapkan bahwa banyak nelayan masih menangkap juvenile sidat di muara sungai. “Di Danau Poso juga banyak yang menangkap sidat yang akan bertelur,” kata Hagi. Hal ini adalah salah satu faktor yang membuat populasi ikan sidat bisa menyusut.

Menurut Hagi, sebenarnya ukuran konsumsi ikan sidat adalah 50 cm. Namun, ikan sidat dewasa biasanya sulit ditangkap. Hal ini mendorong masyarakat untuk tetap menangkap juvenile. Sementara, penangkapan ikan yang akan bertelur tetap dilakukan sebab telurnya pun bisa dimanfaatkan.

“Bagian tubuh ikan sidat itu semuanya bisa dimanfaatkan. Telurnya bisa untuk bikin caviar, lalu juvenile-nya bisa untuk sashimi, dewasanya untuk sushi dan tulangnya juga bisa dibuat keripik di Jepang,” ungkap Hagi.

Menurut Hagi, sebenarnya sudah ada peraturan pemerintah pada tahun 2009 yang melarang ekspor sidat, terutama juvenile. Tapi, kenyataannya hal itu masih berlanjut. “Ini DKP dan pemerintah daerah juga harus bekerjasama mengawasi di lapangan,” saran Hagi.

Pada masyarakat, ia menganjurkan untuk menangkap berdasarkan musim serta perbaikan alat penangkapan. “Sebenarnya bisa menggunakan seser, itu semacam sekop. Kalau dengan trap seperti sekarang kan tidak ada yang bisa lolos. Apalagi trap-nya permanen,” jelasnya.

Ia mengakui, memang sulit melakukan pengaturan sebab masyarakat pun mencari penghasilan. Namun, ke depan ia berupaya untuk mengembangkan artificial reproduction. “Tapi untuk ini kita masih perlu paham dulu tentang sidat tropis ini. Jadi masih perlu penelitian,” urainya.

Ikan sidat adalah jenis ikan yang hidup di air tawar dan air laut. Ikan sidat biasa bereproduksi di laut sementara anakannya akan tumbuh di air tawar. Ikan ini merupakan salah satu komoditi penting sebab bisa diekspor dengan harga Rp 250 ribu per kilogram. Biasanya, jenis ikan ini diekspor ke China dan Jepang.

HARIMAU SUMATRA
Populasi Harimau Sumatra di Bengkulu Mengkhawatirkan
Kamis, 12 Mei 2011 11:30 WIB

BENGKULU–MICOM: Populasi harimau Sumatra di Bengkulu saat ini terancam punah karena habitatnya banyak dirusak oleh sebagian masyarakat yang tidak bertanggung jawab.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Bengkulu Amon Zamora, Kamis (11/5) mengatakan populasi harimau Sumatra di daerah ini kini hanya sekitar 50 ekor yang tersebar di enam kabupaten.

“Keberadaan harimau Sumatra yang terdapat di Kabupaten Seluma, Kaur, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Mukomuko dan Lebong saat ini kami perkirakan hanya berjumlah sekitar 50 ekor saja akibat banyaknya perusakan hutan lindung yang menjadi habitat satwa-satwa langka tersebut,” ujarnya.

Hewan dengan nama latin Panthera Tigris Sumatrae tersebut kerapkali terlihat di sekitar lahan perkebunan yang berada di sekitar kawasan hutan lindung. Kemunculan sang raja hutan tersebut biasanya berakibat hilangnya ternak-ternak warga akibat dimangsa oleh satwa langka tersebut.

Harimau Sumatra yang muncul di lahan perkebunan sekitar hutan hutan lindung juga terkadang menyerang manusia yang sedang berkebun. “Kemunculan harimau di sekitar perkebunan petani seringkali dimanfaatkan pemburu untuk memasang jerat atau menembak sang raja hutan untuk diperjualbelikan. Selain warga setempat, pemasangan jerat dan pemburuan harimau sumatera juga sering dilakukan para pemburu profesional yang datang dari luar Provinsi Bengkulu,” katanya.

Ia menjelaskan, salah satu kendala mengatasi perburuan liar terhadap harimau sumatera di hutan lindung wilayah Provinsi Bengkulu adalah terbatasnya jumlah polisi kehutanan. Saat ini polisi kehutanan di setiap Kabupaten atau Kota sekitar puluhan orang sehingga tidak mampu mengawasi wilayah hutan yang sangat luas.

“Untuk mengatasi kekurangan, kami telah mengusulkan penambahan jumlah tenaga polisi kehutanan ke Kementrian Kehutanan Republik Indonesia agar pengawasan hutan lindung dan khususnya harimau sumatera bisa dilakukan dengan maksimal,” katanya. (Ant/OL-04)

Kelestarian Harimau Sumatra Mengkhawatirkan
Jumat, 24 Juni 2011 10:23 WIB

BENGKULU–MICOM: Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu Amon Zamora mengatakan kelesatarian Harimau Sumatra (Panthera tigris Sumatrae) semakin mengkhawatirkan, karena ancaman terhadap habitatnya semakin serius.

“Habitatnya terus terganggu karena penebangan hutan secara liar dan perambahan liar masih marak,” katanya di Bengkulu, Jumat (24/6).

Akibatnya, selama 2011 terdapat tujuh laporan konflik antara manusia dengan harimau yang memasuki kebun dan perkampungan warga.

Tidak sedikit ternak peliharaan warga yang dimangsa satwa yang terancam punah itu.

“Tujuh kasus ini yang dilaporkan resmi ke BKSDA, kami yakin banyak kasus yang tidak sampai. Jumlah ini termasuk tinggi dan membuktikan ancaman terhadap harimau juga semakin serius,” jelasnya.

Ia mengatakan tujuh kasus tersebut tersebar di lima kabupaten yakni Seluma, Bengkulu Utara, Muko Muko, Lebong dan Kaur.

Dari tujuh kasus tersebut enam kasus bisa diselesaikan dengan pengusiran harimau ke dalam hutan.

Sementara satu kasus yakni di Kabupaten Seluma, seekor harimau harus diamankan dan saat ini sudah direlokasi ke Tambling Provinsi Lampung.

“Evakuasi adalah jalan terakhir, kalau masih bisa diusir ke dalam hutan akan kami upayakan,” tambahnya.

Amon mengatakan tidak hanya perambahan untuk berkebun, tidak sedikit pemukiman warga yang berada di dalam kawasan hutan produksi dan hutan lindung.

Menurutnya, kondisi ini akan membuat konflik manusia dengan harimau semakin tinggi sebab manusia yang memasuki habitat satwa tersebut.

Data BKSDA menyebutkan dari 45 ribu hektare luas kawasan hutan konservasi yang tersebar di 10 kabupaten dan kota di daerah itu 70% sudah dirambah.

“Tapi kami sudah berhasil mengatasi 40 persen ganguan terhadap kawasan hutan konservasi itu,” katanya.(Ant/Ol-3)

Selasa, 11 Januari 2011
RUWA JURAI
SATWA LANGKA: Harimau Sumatera di TNWK Terancam Punah

LABUHANRATU (Lampost): Populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang menghuni kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terancam punah. Kepunahan populasi satwa yang dijuluki si raja hutan itu, selain disebabkan faktor alam ,juga faktor manusia, yaitu perburuan liar.

Koordinator Yayasan Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera (PKHS) Sumianto mengatakan pada 1999-2000, populasi harimau di kawasan TNWK diperkirakan 36-40 ekor. Sementara itu, data terakhir 2010, jumlah populasi satwa pemangsa daging itu tak lebih 30 ekor, dengan perbandingan 2 betina dan 1 jantan.

Berkurangnya populasi harimau sumatera yang menghuni kawasan seluas 125 ribu hektare itu disebabkan banyak faktor. Seperti faktor alam dan faktor manusia.

“Sepanjang tahun kami terus melakukan pemantauan lewat kamera pengintai. Dan, sepanjang 2010, populasi harimau sumatera diperkirakan 30 ekor. Jumlah itu menurun dibanding 1999-2000,” kata Sumianto, Senin (10-1).

Menurut Sumianto, Yayasan PKHS yang merupakan mitra Balai TNWK, mengajak menjaga agar populasi harimau sumatera di kawasan taman nasional itu tak punah. Apalagi, satwa itu termasuk satwa yang tak agresif dalam masalah berkembang biak.

“Dalam hitungan normal, masa kehamilan harimau hingga melahirkan berlangsung 20 bulan. Tapi, hal itu tak dapat jadi jaminan. Sebab, harimau termasuk satwa yang kurang agresif dalam soal berahi,” kata dia.

Ditanya maraknya aksi perburuan liar, menurut dia, sejauh ini pihak PKHS belum pernah memergoki pelaku membantai satwa itu. Tapi, sekitar 2002 silam, PKHS bersama pihak TNWK pernah memergoki sejumlah pelaku dalam hutan yang diduga akan berburu satwa. (DIN/D-3)

Harimau Sumatera di Ambang Kepunahan
Minggu, 10 Oktober 2010 14:25 WIB | Warta Bumi | Konservasi/Pelestarian | Dibaca 1408 kali
Medan (ANTARA News) – Keberadaan Harimau Sumatera yang berada di beberapa provinsi di Sumatera terancam punah akibat semakin tingginya perambahan hutan yang menjadi habitat hidupnya hewan satwa langka tersebut.

Direktur Sumatra Rainforest Insitute (SRI) Rasyid Assaf Dongoran, di Medan, Minggu, mengatakan, dewasa ini perambahan hutan makin banyak dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Saat ini pupulasi Harimau Sumatra ( Phantera tigris sumatrae) tersebar terbatas di beberapa wilayah hutan yang terbatas yakni Aceh, Sumatera, Riau, Sumatera Barat Lampung dan Jambi dengan pupulasi diperkirakan tidak lebih dari 300-400 ekor.

“Jika hutan terdegrasi secara cepat dan tidak terkendali akibat lalainya pemerintah, penegak hukum dan masyarakat, maka bencana akan segera datang,” katanya.

Secara umum bencana yang dipastikan datang adalah bencana banjir di saat musim hujan, bencana kekurangan air hebat dan tanah mengalami degradasi kesuburan, bencana hama wereng, bencana iklim dan bencana penyerangan satwa ke perladangan.

“Problem yang ada adalah sering sekali data luas hutan di atas kertas tidak sesuai dengan kenyataan luasan hutan yang ada di lapangan, akibatnya tidak ada kepastian luasan hutan lindung di Sumatera Utara,” katanya.
(ANT/A038)

kepunahan satwa jenis PRIMATA

4 Spesies Primata Indonesia Nyaris Punah
K1-11 | Glori K. Wadrianto | Minggu, 3 Juli 2011 | 13:37 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Tahukah Anda bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki jenis primata paling bervariasi di dunia? Dari 200 jenis primata yang tercatat di muka Bumi, di Indonesia terdapat 40 jenis atau sekitar 25 persen.

Ironinya, dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen terancam punah akibat banyak habitat primata yang rusak dan penangkapan ilegal untuk diperdagangkan. ProFauna Indonesia mencatat setiap tahunnya ribuan kera hasil tangkapan alam diperdagangkan di Indonesia untuk dikonsumsi atau dijadikan satwa peliharaan.

“Sampai saat ini masih ada pengiriman. Kalau dipelihara sepertinya hanya sedikit, lebih banyak dikonsumsi, otak dan dagingnya,” kata Ketua Pro Rosek Nursahid di sela-sela kampanye penyelamatan primata di Renon, Denpasar, Minggu (3/7/2011).

Tingginya angka konsumsi primata di Indonesia terjadi karena sebagian masyarakat masih percaya mitos bahwa kera dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, salah satunya asma, meski sampai saat ini tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Akibat eksploitasi yang membabi buta ini, sedikitnya 4 primata asal Indonesia benar-benar akan punah jika tidak segera diselamatkan. Mereka adalah orangutan sumatera (Pongo abelii), kukang jawa (Nyeticebus javanicus), tarsius siau (Tarsius tumpara), dan simakubo (Simias cocolor).

Menyelamatkan mereka tak cukup dengan mengandalkan kepedulian para LSM pecinta satwa saja, tetapi kesadaran dari seluruh masyarakat dan pemerintah untuk saling mengingatkan pentingnya menjaga habitat bangsa kera dan monyet yang merupakan bagian dari kekayaan alam Indonesia ini.

200 Ekor Primata Dikirim Jawa ke Bali untuk Disantap
Minggu, 03 Juli 2011 15:56 WIB

DENPASAR–MICOM: Ketua ProFauna Indonesia Rosek Nursahid menyebutkan, lebih dari 200 ekor primata dikirim dari Jawa ke Bali untuk kepentingan konsumsi.

“Tiap bulannya lebih dari 200 ekor primata jenis lutung Jawa dari Jember, Lumajang, dan Banyuwangi didatangkan ke Bali untuk jadi santapan. Ini ancaman yang memprihatinkan bagi satwa tersebut,” kata Rosek Nursahid di Denpasar, Bali, Minggu (3/7).

Pada unjuk rasa di depan Monumen Bajra Sandhi Renon, Denpasar, itu, ia mengatakan, primata merupakan hewan yang keberadaannya nyaris punah. Ironisnya, primata yang diperdagangkan ke Bali itu bukan hasil penangkaran, melainkan dari alam liar.

Lutung Jawa sendiri merupakan primata yang dilindungi. Di dunia terdapat sekitar 200 jenis primata. Dari jumlah itu, 40 jenis atau sekitar 25 persen di antaranya hidup di berbagai daerah di Indonesia.

Meskipun kaya akan jenis primata, kata dia, namun kondisinya hampir 70 persen primata di Indonesia itu terancam punah akibat rusaknya habitat dan penangkapan ilegal untuk diperdagangkan.

“Sejak 2000, Badan Konservasi Internasional (IUCN) menerbitkan daftar 25 jenis primata yang terancam punah di dunia. Dari 25 jenis primata itu, empat di antaranya adalah primata asal Indonesia yaitu, Orang Utan Sumatra, Tarsius Siau, Kukang Jawa, dan Simakubo,” katanya. (Ant/OL-5)

70 Persen Primata Indonesia Terancam Punah
Penulis : Bagus Suryo
Selasa, 07 Juni 2011 05:10 WIB

MALANG–MICOM: Sekitar 70 persen primata yang hidup dan berkembang di Indonesia terancam punah akibat rusaknya habitat primata serta penangkapan secara ilegal untuk kemudian diperdagangkan secara bebas.

Menurut Direktur ProFauna Indonesia Rosek Nursahid, Senin (6/6), populasi primata di dunia ada sekitar 200 jenis dan 40 jenis di antaranya berada di Indonesia. Namun, dari 40 jenis itu sekitar 70 persennya terancam punah.

“Sejak tahun 2000, badan konservasi internasional menerbitkan daftar 25 jenis primata yang paling terancam kepunahannya di dunia.Dari 25 jenis primata itu, empat diantaranya adalah primata asal Indonesia, yakni jenis orangutan Sumatera (Pongo Abeli), Tarsius Siau (Tarsius Tumpara), Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), dan Simakubo (Simias cocolor),” kata Rosek di sela-sela aksi kampanye pelestarian primata di Jalan Veteran, Kota Malang.

Dalam aksi (kampanye)-nya itu puluhan aktivis ProFauna tersebut membawa poster bergambar aneka jenis primata, seperti orangutan, lutung jawa, bekantan, kukang, dan monyet ekor panjang. Selain itu juga membagikan brosur dan stiker kepada masyarakat yang melintasi jalan tersebut.

Lebih lanjut Rosek mengatakan, beberapa jenis primata tersebut akan benar-benar punah dari alam jika tidak ada upaya nyata untuk menyelamatkannya.

Menurut dia, salah satu faktor utama semakin terancam punahnya primata Indonesia adalah perdagangan primata, karena sebagian besar primata yang diperdagangkan adalah hasil tangkapan dari alam.

Setiap tahunnya ada ribuan primata dari berbagai jenis yang ditangkap dari alam untuk diperdagangkan sebagai satwa peliharaan atau juga dimakan dagingnya.

Beberapa jenis primata masih diburu untuk diambil dagingnya misalnya lutung jawa, monyet ekor panjang, lutung Sumatera dan beruk. Daging primata dipercaya juga sebagai obat penyakit seperti asma, walaupun sama sekali tidak ada bukti ilmiah yang mendukung hal ini.

Rosek mengungkapkan, primata yang diperdagangkan kebanyakan masih bayi atau anak-anak, karena masih terlihat lucu dan ada banyak kemiripan dengan manusia. Walaupun seringkali ketika beranjak dewasa primata yang dipelihara oleh masyarakat tersebut kemudian akan ditelantarkan atau bahkan dibunuh.

Di pasaran harga primata bervariasi, semakin langka maka harganya akan semakin mahal. Seekor lutung jawa dijual seharga Rp 200.000, kukang Rp200.000 hingga Rp300.000, owa Rp1 juta, dan orangutan diatas Rp2 juta per ekor.

“Sebagian besar primata Indonesia sudah dilindungi undang-undang, yang artinya primata tersebut tidak boleh diperdagangkan atau dipelihara sebagai satwa peliharaan. Perdagangan primata yang dilindungi itu adalah tindakan kriminal dan sarat dengan kekejaman terhadap primata,” tegasnya.

Menurut UU tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku perdagangan termasuk yang memelihara satwa dlindungi itu bisa dikenakan hukuman pidana penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

“Kami akan terus melakukan kampanye untuk menghentikan perdagangan primata yang bukan hanya menyebabkan primata tersebut semakin terancam punah, tetapi juga karena perdagangan primata itu penuh dengan kekejaman dan penderitaan primata. Semakin banyak primata yang dibeli masyarakat, maka akan semakin banyak primata yang ditangkap dari alam,” ujar Rosek. (Ant/OL-12)

/Home/Sains/Konservasi
50 Persen Orangutan Punah akibat Ulah Manusia

Selasa, 9 Juni 2009 | 15:21 WIB

PONTIANAK, KOMPAS.com — Populasi orangutan liar di Provinsi Kalimantan Barat diperkirakan berkurang 50 persen dalam 10 tahun terakhir karena hilangnya hutan dataran rendah.

Humas Yayasan Titian, lembaga yang hirau terhadap populasi dan perkembangbiakan orangutan, Ade Yuliani di Pontianak, Selasa (9/6), mengatakan, jumlah orangutan liar di Kalbar diperkirakan tersisa 6.675 individu dengan dua spesies utama Pongo pygmaeus pygmaeus dan Pongo pygmaeus wurmbii.

“Pembalakan liar, penambangan hutan, kebakaran hutan, dan konversi hutan untuk perkebunan skala besar menjadi faktor utama yang mengancam keberadaan populasi orangutan liar di alam,” katanya.

Selain itu, orangutan juga diburu untuk konsumsi dan perdagangan. Salah satu daerah di Kalbar yang cukup gencar melakukan pembukaan lahan adalah Kabupaten Kayong Utara.

Menurut Ade, data dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Ketapang, kabupaten induk Kayong Utara, terdapat 47 perusahaan sawit yang sedang dan akan beroperasi. Sebagian kawasan hutan yang masuk areal konsesi perkebunan di Kayong Utara merupakan habitat orangutan.

Sementara sebelumnya, WWF-Indonesia untuk wilayah Putussibau menyatakan, jumlah orangutan di Taman Nasional Danau Sentarum (TDNS) Kabupaten Kapuas Hulu menurun hingga 62 persen dibanding 10 tahun lalu ketika populasi mereka mencapai 1.300 ekor.

Menurut WWF, TNDS memiliki tingkat kerapatan yang tinggi untuk hunian orangutan karena dengan luas 130.000 hektar, seluruh kawasan cocok bagi primata itu. Sedangkan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dengan luas 800.000 hektar namun yang cocok untuk orangutan hanya separuhnya. Jumlah orangutan di TNBK berkisar 1.030 ekor

kepunahan Satwa Jenis BURUNG

Selamatkan Maleo di Cagar Alam Panua
Minggu, 03 Juli 2011 22:52 WIB

GORONTALO–MICOM: Kelestarian satwa endemik Pulau sulawesi seperti Burung Maleo yang tadinya hidup bebas di kawasan Cagar Alam Panua, Kabupaten Pohuwato kini mulai terancam punah.

Petugas Dinas Kehutanan Kabupaten Pohuwato yang juga adalah jagawana pada Cagar Alam Panua, Tatang Abdulah mengatakan bahwa saat ini di kawasan itu hanya bisa dijumpai dua atau tiga pasang burung maleo. Padahal kata dia, kawasan Cagar Alam Panua yang seluas 45.575 Hektare Area (Ha) itu, sebagiannya pernah dipakai untuk penangkaran burung maleo sepanjang tahun 2004-2006.

“Wilayah penangkaran waktu itu seluas lima ribu hektare area,” Ujar Tatang, Minggu (3/7).

Dia menambahkan, Pihak Balai Konservasi Sumberdaya Alam Seksi Konservasi Wilayah Gorontalo ketika itu bekerja sama dengan sebuah organisasi nirlaba di bidang pelestarian satwa langka menjalankan usaha penangkaran tersebut. Saat itu kata dia, Burung Maleo masih banyak ditemui di kawasan Cagar Alam Panua hingga belasan pasang.

“Setelah penangkaran selesai, tidak ada lagi kontrol terhadap burung tersebut,” kata Tatang.

Dia mengatakan, ancaman serius terhadap musnahnya burung maleo di Kawasan Cagar Alam Panua berupa perburuan liar oleh warga serta penggembalaan ternak di lokasi peneluran. Menurut dia, upaya pengawasan kawasan Cagar Alam Panua pun kurang maksimal sebab petugas yang di tempatkan diwilayah itu masih tergolong minim.

“Saat ini kami hanya berusaha untuk berbuat semaksimal mungkin,” Kata Tatang. (Ant/OL-2)

Penggundulan tak Terkendali, Habitat Rangkong Terancam Punah
Thursday, 30 June 2011 21:30 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,BOGOR–Habitat Rangkong Indonesia terancam hilang akibat eksploitasi hutan yang membuat sumber pakannya menjadi berkurang.

“Kegiatan penggundulan hutan tanpa tebang pilih membuat sumber pakan Rangkong banyak yang rusak. Kondisi ini membuat rangkong semakin terjepit dan mulai kehilangan habitatnya,” kata Dwi Mulyawati Bird Conservation Officer Burung Indonesia dalam siaran pers yang dikirim melalui pesan elektroniknya, Sabtu.

Dwi mengatakan, Rangkong merupakan hidupan liar yang sangat berjasa pada regenerasi hutan. Tanpa Rangkong, diperkirakan hutan akan segera hancur dan potensi yang terkandung didalamnya ikut tergusur.

Banyak jenis pohon yang kelanjutan hidupnya bergantung pada hewan pemakan buah dalam penyebaran bijinya. “Menurut para peneliti Rangkong dijuluki sebagai petani hutan karena kehebatannya menebar biji,” kata Dwi.

Lebih lanjut, Dwi menjelaskan seekor Rangkong dapat terbang dalam radius 100 km persegi. Artinya, burung yang termasuk dalam keluarga Bucerotidae ini dapat menebar biji hingga 100 km jauhnya.

Penelitian yang dilakukan di kawasan hutan produksi menunjukkan, sumber pakan Rangkong menyusut hingga 56 persen karena berkuranganya pohon pakan sebanyak 76 persen.

Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), dari 13 jenis Rangkong yang ada di Indonesia, Julang Sumba (Aceros everetti) merupakan jenis terancam punah yang masuk pada kategori rentan (Vulnerable/VU).

Di Indonesia, Rangkong disebut juga dengan Julang, Enggang, atau Kangkareng “Jenis yang hanya dijumpa di Pulau Sumba ini diperkirakan hanya tersisa kurang dari 4.000 ekor dengan kepadatan rata-rata enam ekor per km persegi,” ujar Dwi.

Dwi menambahkan, Rangkong merupakan jenis burung yang melakukan kegiatan tersebutt. Tanpa peran Rangkong, bisa dipastikan jenis pohon tertentu akan lenyap karena induk pohon yang menua akan mati tanpa pengganti.

Buah Ara merupakan salah satu pakan favorit Rangkong yang tersedia hampir sepanjang tahun.

Diperkirakan, ada 200 jenis pohon Ara yang menjadi pakan utama Rangkong. Dan bila dibanding burung lainnya, Rangkong dianggap paling mampu dalam menebarkan biji ara, karena daya jelajahnya yang tinggi.

“Menurut Margaret F. Kinnaird dan Timothy G. O`Brien, peneliti Rangkong dan hutan tropis, terdapat korelasi erat antara Rangkong dengan hutan yang sehat,” kata Dwi.

Burung Rangkong termasuk dalam Famili Bucerotidae, kelompok burung berukuran besar yang mudah dikenali, terutama dari cula (casque) pada pangkal paruhnya. Di seluruh dunia terdapat 55 jenis yang tersebar di kawasan tropis Asia dan Afrika.

Tercatat ada 13 jenis Rangkong yang ada di Indonesia. Sembilan jenis di Sumatera: Enggang Llihingan, Enggang Jambul, Julang Jambul-Hitam, Julang Emas, Kangkareng hitam, Kangkareng Perut-Putih, Rangkong Badak, Rangkong Gading, dan Rangkong Papan. Empat jenis lagi berada di Sumba (Julang Sumba), Sulawesi (Julang dan Kangkareng Sulawesi), serta Papua (Julang Papua). Kalimantan memiliki jenis Rangkong yang sama seperti Sumatera, kecuali Rangkong Papan.

Burung Indonesia adalah organisasi nirlaba dengan nama lengkap Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Birdlife Indonesia Association) yang menjalin kemitraan dengan BirdLife International, yang berkedudukan di Inggris.
Redaktur: taufik rachman
Sumber: antara

Elang Jawa Terancam Punah
Jumat, 27 Mei 2011 14:42 WIB

MALANG–MICOM: Keberadaan elang jawa (Spizaetus bartelsi) di Taman Hutan Raya (Tahura) R Soerjo yang berlokasi di Kota Batu, Jawa Timur (Jatim), kian menipis, bahkan terancam punah.

Chairman ProFauna Indonesia Rosek Nursahid di Malang, Jumat (27/5), mengatakan, hasil survei terakhir yang dilakukan ProFauna Indonesia belum lama, jumlah elang jawa di Tahura menurun drastis dan saat ini diperkirakan hanya tinggal 2 ekor.

“Tahun 1997 di Tahura masih ditemukan sedikitnya 6 ekor elang jawa dan saat ini tim survei ProFauna hanya bisa menjumpai 2 ekor saja,” katanya menambahkan.

Elang Jawa adalah satwa langka yang telah ditetapkan sebagai burung nasional pada tahun 1993 karena selain kelangkaannya, burung ini juga dianggap mirip dengan burung garuda yang menjadi lambang negara Indonesia.

Elang jawa juga masuk dalam daftar satwa yang dilindungi, sehigga penangkapan, perdagangan maupun pemeliharaannya dilarang oleh Undang-undang. Semua ini untuk memastikan agar elang jawa tetap lestari dihabitatnya.

Menurut Rosek, menurunnya kualitas habitat membuat populasi elang jawa kian menyusut. Elang jawa adalah burung pemburu berukuran besar (60 cm) yang hidup di hutan primer yang ada di Pulau Jawa.

Dalam rantai makanan, Elang jawa berposisi sebagai top predator yang memangsa burung-burung besar dan mamalia seperti ayam hutan, tupai, musang, jelarang dan kelelawar buah.

Habitat yang rusak membuat mangsa elang jawa semakin berkurang, apalagi penggunaan pestisida di lahan pertanian yang berbatasan dengan hutan juga turut mempengaruhi keberadaan elang jawa.

Rosek juga menyayangkan menurunnya populasi elang jawa di Tahura R. Soerjo tersebut, karena merupakan kekayaan alam yang luar biasa, apalagi diperkirakan populasi total elang jawa di alam tidak lebih dari 400 ekor.

Menyusutnya hutan primer yang menjadi habitat elang jawa memberikan kontribusi besar bagi menurunnya populasi elang jawa dan seharusnya pemerintah menghentikan laju deforestasi di Pulau Jawa.

Menurut catatan ProFauna, selain di Tahura R Soerjo ada beberapa tempat lain di Jatim yang juga menjadi habitat elang jawa, seperti di Pulau Sempu, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Merubetiri, Taman Nasional Alas Purwa, Lebakharjo, Pegungan Hyang dan Kawah Ijen.

Hanya saja, sampai saat ini belum diketahui secara pasti status populasi terkini dari elang jawa di tempat-tempat tersebut. Elang jawa bisa hidup di hutan primer mulai dari ketinggian 0 meter hingga 3000 meter dari permukaan laut.

Ia mengemukakan, selain faktor rusaknya habitat dan juga diduga faktor penggunaan pestisida, secara alami memang pertumbuhan elang jawa boleh dibilang lambat. Elang jawa dianggap dewasa ketika berumur 3 atau 4 tahun dan hanya berbiak satu atau dua tahun sekali.

Elang jawa hanya bisa bertelur satu butir yang akan dierami selama sekitar 47 hari. Setelah anaknya lahir, selama 1,5 tahun anak elang jawa itu akan hidup bersama induknya.

“Dengan perkembangbiakan yang lambat tersebut, juga memicu rendahnya laju survival elang jawa,” ujar Rosek menambahkan. (Ant/wt/X-12)

Elang Jawa Tinggal Dua Ekor di Hutan Raya Jawa Timur
Penulis : Bagus Suryo
Sabtu, 28 Mei 2011 06:07 WIB

MALANG–MICOM: Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) di Taman Hutan Raya (Tahura) R Soerjo Jawa Timur semakin terancam punah dan jumlahnya kini diperkirakan hanya tinggal dua ekor.

Ketua ProFauna Indonesia, Rosek Nursahid, mengatakan, berdasarkan survei terakhir yang dilakukan ProFauna Indonesia, menunjukan bahwa populasi Elang Jawa di Tahura R Soerjo menurun drastis.

ProFauna yang merupakan sebuah organisasi bergerak di bidang pelestarian hutan dan satwa liar ini mencatat pada 1997 ditemukan sedikitnya enam ekor Elang Jawa, namun saat ini tim ProFauna hanya bisa menjumpai dua ekor.

“Elang Jawa adalah satwa langka yang telah ditetapkan sebagai burung nasional pada 1993, karena selain kelangkaannya, burung ini juga dianggap mirip dengan burung garuda yang menjadi lambang negara Indonesia,” katanya, di Malang, Jumat (27/5).

Menurunnya populasi Elang Jawa, kata Rosek, akibat rusaknya habitat hutan dikarenakan faktor penggunaan pestisida secara berlebih.

“Memang, secara alami pertumbuhan Elang Jawa sangat lambat, dan Elang jawa dianggap dewasa ketika berumur 3-4 tahun dan hanya berkembang biak satu atau dua tahun sekali,” katanya.

Ia menjelaskan, Elang Jawa hanya bisa bertelur satu butir yang akan dierami selama sekitar 47 hari. Setelah anaknya lahir, selama 1,5 tahun anak Elang Jawa itu akan hidup bersama induknya.

Dengan perkembangbiakan yang sangat lambat memicu rendahnya laju pertahanan untuk hidup pada elang jawa, sehingga membuat kualitas habitat populasi Elang Jawa menyusut.

Sementara itu, dalam mata rantai makanan, Elang Jawa berposisi sebagai top predator yang memangsa burung-burung besar dan mamalia seperti ayam hutan, tupai, musang serta kelelawar buah.

“Saat ini, banyak habitat yang menjadi mata rantai Elang Jawa rusak, sehingga membuat mangsa Elang Jawa semakin berkurang, ditambah penggunaan pestisida di lahan pertanian yang berbatasan dengan hutan juga turut mempengaruhi keberadaan Elang Jawa,” katanya.

ProFauna mencatat, selain di Tahura R Soerjo ada beberapa tempat lain di Jawa Timur yang juga menjadi habitat Elang Jawa, antara lain Pulau Sempu, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Merubetiri, Taman Nasional Alas Purwa, Lebakharjo, Pegungan Hyang dan Kawah Ijen.

“Namun belum diketahui pasti status populasi terkini dari Elang Jawa di tempat-tempat tersebut, dan Elang Jawa hanya bisa hidup di hutan primer mulai dari ketinggian 0 meter hingga 3.000 meter dari permukaan laut.

Diperkirakan, populasi total Elang Jawa di alam Indonesia tidak lebih dari 400 ekor.

“Satwa ini termasuk yang dilindungi, sehingga penangkapan, perdagangan maupun pemeliharaannya dilarang undang-undang,” katanya. (Ant/OL-12)

Sebagian Kelelawar Sudah Sulit Ditemukan
Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Senin, 6 Juni 2011 | 16:28 WIB

BOGOR, KOMPAS.com – Beberapa spesies kelelawar di Indonesia sudah sulit ditemukan. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Ibnu Maryanto, peneliti kelelawar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di sela acara Konferensi Internasional Kelelawar Asia Tenggara 2 hari ini (6/6/11) di Bogor.

Jenis kelelawar yang sudah sulit ditemukan itu antara lain Otomops johnstonoi yang endemik wilayah Alor dan Neopterus trostii yang biasa ditemukan di wilayah Sulawesi. “Sudah sulit ditemukan spesies itu. Paling cuma 1 atau 2 individu yang ditemukan,” ujar Ibnu.

Menurut Ibnu, salah satu tekanan bagi kelelawar adalah perusakan kawasan karst atau perbukitan kapur di mana terdapat gua tempat kelelawar hidup. Faktor lain adalah berkurangnya jenis tumbuhan yang biasa menjadi sumber makanan kelelawar pemakan buah. “Hilang satu tumbuhan, hilang juga kelelawar,” cetus Ibnu.

Ibnu mengatakan, sulit ditemukannya spesies kelelawar tertentu sangat disayangkan. Pasalnya, kelelawar memainkan peranan penting dalam ekosistem. Misalnya perannya dalam penyerbukan bunga, pengendalian populasi serangga oleh kelelawar pemakan serangga dan suplai energi bagi biota yang hidup dalam gua.

“Banyak buah seperti rambutan, durian dan duku penyerbukan bunganya dibantu kelelawar. Kalau kelelawar hilang, buah pun bisa lenyap,” urai Ibnu. Menurutnya, salah satu sebab terganggunya panen rambutan, duku, durian, dan mangga tahun lalu adalah berkurangnya jumlah kelelawar yang menyerbukka bunganya.

Tanggung jawab biodiversitas

Kepala LIPI Prof. Dr. Lukman Hakim mengungkapkan, Indonesia merupakan negara megabiodiversity. Oleh karena itu, Indonesia memikul tanggung jawab besar dalam pelestarian biodiversitas, termasuk kelelawar. Menurutnya, pelestarian kelelawar bisa dibantu dengan pemanfaatan kebun raya untuk konservasi ex situ.

Lukman mengungkapkan, “Indonesia idealnya mempunyai 54 kebun raya. Kebun raya itu terutama berfungsi untuk aktivitas penelitian, konservasi dan pendidikan. Kemudian untuk wisata.”

Menurut Lukman, kebun raya sangat potensial untuk pendidikan bagi generasi muda sehingga memiliki kesadaran konservasi. Sementara, Ibnu mengatakan bahwa perlindungan kelelawar bisa dilakukan dengan memelihara kawasan karst.

“Kan sudah ada aturan kawasan karst yang bisa ditambang dan tidak. Yang ada kelelawar dan wallet kan nggak boleh ditambang. Tapi, kenyataannya sekarang kelelawarnya diusir dulu baru ditambang,” ungkapnya.

Jika perlindungan kelelawar tidak dilakukan, maka ada konsekuensi yang muncul. Karena berkurangnya populasi pengontrol, maka nyamuk malaria bisa meningkat dan meningkatkan pula wabah malaria.

“Karena kelelawar itu dalam satu jam bisa makan 6.000 nyamuk,” kata Ibnu.

Konsekuensi lain ialah terganggunya produksi beberapa buah. Saat ini, menurut Ibnu, ada 225 jenis kelelawar tersebar di Indonesia. 150 jenis di antaranya merupakan pemakan serangga dan 75 lainnya pemakan buah.

Indonesia menurutnya merupakan negara dengan keanekaragaman hayati kelelawar tinggi, kurang lebih 11 persen dari total jumlah spesies kelelawar dunia. Jika dieksplorasi, menurut Ibnu, masih ada 10 spesies kelelawar yang bisa ditemukan per tahunnya di Indonesia.

/Home/Sains/Konservasi
Mentok Rimba, Sudah Punah di Jawa, Jangan Terulang di Sumatera

Selasa, 28 Juli 2009 | 22:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Mentok rimba (Cairina scutulata) merupakan salah satu jenis burung dilindungi yang masuk dalam seri perangko “Pusaka Hutan Sumatera”. Hingga kini, di seluruh dunia hanya tersisa 1.000 ekor, termasuk 150 ekor yang ada di Sumatera dan diperkirakan telah punah di Jawa.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengelompokkannya ke dalam status “Genting” (Endangered/EN). Persebarannya kini hanya meliputi hutan dataran rendah Sumatera bagian timur dan barat laut.

Mentok berukuran besar antara 66-75 cm. Bentuknya hampir menyerupai bebek. Warna bulunya gelap dan kepala serta lehernya keputih-putihan. Penutup sayap kecil putih, penutup sayap tengah dan spekulum abu-abu biru.

Mentok rimba sangat tergantung pada lahan basah alami maupun buatan yang dekat dengan hutan rawa, hutan awet-hijau, maupun hutan luruh-daun sebagai lokasi berbiak dan istirahat. Burung jenis ini suka sekali bersembunyi dan pada malam hari mereka juga dapat aktif mencari makan sendiri, berpasangan, maupun berkelompok 6-8 ekor.

Karena hidupnya di lahan basar (air), maka pembangunan listrik tenaga air dan polusi menjadi ancaman terbesar bagi mereka. Selain itu, penurunan polulasinya juga diakibatkan oleh kerusakan, degradasi, dan gangguan habitatnya termasuk kehilangan koridor hutan di tepi sungai. Polulasinya yang tinggal sedikit ini sangat beresiko terhadap kepunahan.

Perkembangbiakan burung jenis ini tergantung pada musim. Betina bertelur pada akhir musim kering dan telurnya akan menetas pada awal musim hujan. Sekali berbiak, betina dapat bertelur sampai 10 kali pada satu lubang sarang.

Walaupun burung jenis ini sudah punah di Jawa, tetapi kita masih bisa melestarikan salah satu kekayaan alam ini di Sumatera. Jangan sampai kita “kecolongan” untuk yang kedua kalinya. Mari kita lestarikan mentok rimba!

Kepunahan Jenis IKAN (Fish)

Ikan Hias di Danau Ayamaru Terancam Punah

Selasa, 31 Mei 2011 16:55 WIB | 375 Views

Danau Ayamaru ( (www.aidilheryana.blogspot.com))

Jayapura (ANTARA News) – Berbagai jenis ikan hias bernilai ekonomi tinggi di Danau Ayamaru, Kabupaten Maibrat, Jayapura, terancam punah akibat menurunnya permukaan air danau dan penangkapan tidak terkendali oleh nelayan tradisional.

Tokoh masyarakat Ayamaru, Johnson Salossa, di Jayapura, Selasa, menyatakan keprihatinannya karena berbagai jenis ikan hias bernilai ekonomi tinggi yang berkembang biak di danau pedalaman daerah Kepala Burung Tanah Papua itu terancam punah.

Ancaman terhadap ikan hias itu akibat permukaan air danau menurun, bahkan areal tertentu sudah kering dan ditumbuhi semak belukar, serta perburuan oleh nelayan tradisional.

Selain sedimentasi, kata Salossa, sejumlah oknum pejabat mempekerjakan masyarakat lokal menangkap ikan hias untuk diperdagangkan.

Ikan hias itu, lanjut dia, dikirim keluar Papua melalui kapal laut dan pesawat dari Bandara Sorong ke Pulau Jawa yang dipasarkan dengan harga yang menggiurkan.

Ia mengatakan, pendangkalan danau, juga diakibatkan oleh pertambangan minyak oleh PT.Pertamina Unit Eksplorasi Sorong di wilayah Klamono, Kabupaten Sorong, yang berbatasan dengan Maibrat.

Ia menjelaskan, sebelum tahun 1990-an, ahli dari Belanda mengadakan penelitian dengan menangkap beberapa jenis ikan hias dan menemukan bahwa ikan hias Danau Ayamaru bernilai ekonomi tinggi.

Satu ekor ikan bisa mencapai Rp1 juta. Harga itu berlaku di Jakarta, sehingga diperkirakan lebih mahal jika dikirim ke luar negeri.

Sesudah tahun 1990-an itu, lanjut dia, para nelayan tradisional tidak lagi menemukan ikan hias. Ikan hias itu terdiri atas beberapa warna seperti kemerah-merahan, kuning, kepala putih dan badan hitam serta ekor bercabang empat dan masih ada lagi jenis ikan hias yang belum diketahui namannya oleh masyarakat setempat.

Johnson Salossa mengemukakan, tidak hanya ikan hias melainkan ikan mas, mujair, sepat, ikan sembilan hitam, siput danau dan beberapa jenis udang danau pun terancam punah.

Padahal, menurut dia, sebelum penurunan permukaan air danau, biota danau itu menjadi bahan kontak antara masyarakat dengan sistem barter tradisonal atau sistem kona sampai di bagian timur yang kini berbatasan dengan Kabupaten Teluk Bintuni, bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Sorong dan bagian Utara berbatasan dengan Kabupaten Tambrauw.

Danau Ayamaru terbentang membelah Kampung Segior, Woman, Mefkajem, Kartapura, Mapura, Yukase, Karetubun dan Kampung Jitmau dan bermuara di Kali Kais, Distrik Inanawatan, Kabupaten Sorong Selatan dan sebagian masuk Kabupaten Teluk Bintuni.

Salossa berharap pemerintah Kabupaten Maibrat dapat menyelamatkan berbagai jenis ikan hias maupun biota danau lainnya dengan mengalokasikan dana dan menyalurkan kepada masyarakat menangkar bibit ikan hias tersebut sebagai sumber penghasilan masyarakat.

Mantan Pimpinan Proyek Bendungan Danau Ayamaru Sub-Dinas Pengairan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Papua, Selvianus Atanay, ST yang dihubungi terpisah di Jayapura menjelaskan, pihaknya telah mengerjakan bendungan di Danau Ayamaru agar biota danau tetap lestari dan danau tetap menjadi sumber air bersih bagi penduduk.

Pengerjaan bendungan dilakukan sejak 2001, tetapi pemerintah pusat pada tahun 2003 memekarkan Provinsi Papua Barat yang berkedudukan di Manokwari, sehingga ia tidak tahu apakah proyek itu masih dilanjutkan atau tidak.

Selvianus mengatakan, foto satelit menunjukkan penurunan permukaan Danau Ayamaru karena patahan batuan dari dalam tanah.

Tetapi, lanjut Selvianus, dokumen-dokumen terkait mencatat bahwa air Danau Ayamaru merupakan tempat persinggahan ribuan burung Flaminggo dalam migrasi antar-Benua, dari Asia ke Australia atau sebaliknya.

“Masih ada foto burung Flaminggo meminum atau mandi sebelum terbang ke Asia dan sebaliknya ke benua Australia,” katanya.
(K006/S016)
(ANTARA)
Ikan Hias di Danau Ayamaru Terancam Punah
Selasa, 31 Mei 2011 16:55 WIB | 375 Views
Danau Ayamaru ( (www.aidilheryana.blogspot.com))

Ikan Belida Terancam Punah
Sabtu, 6 November 2010 | 02:51 WIB

Palembang, Kompas – Ikan belida (Notopterus chitala) yang habitat aslinya di Sungai Musi mulai terancam punah karena populasinya turun 50 persen lebih selama lima tahun terakhir. Kondisi itu dipicu maraknya penggunaan listrik dan bom ikan, serta minimnya budidaya di tingkat petani.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Palembang Sudirman Teguh di Palembang, Jumat (5/11). Menurut dia, ancaman kepunahan diketahui setelah pihaknya melangsungkan survei dan penelitian terhadap keberadaan ikan tersebut.

”Hasilnya populasi ikan belida menurun 50 persen lebih. Saat ini jumlah ikan belida yang berada di perairan Sungai Musi, Kota Palembang, diperkirakan tak lebih dari 500 ekor,” katanya.

Dia juga menjelaskan, ada tiga penyebab utama tingginya penurunan populasi ikan itu, yakni maraknya aktivitas pencarian ikan dengan setrum dan bom, minimnya usaha budidaya dan penangkaran di tingkat petani, serta meningkatnya permintaan anakan ikan belida untuk memenuhi kebutuhan industri rumah makan.

Tidak dipatuhi

Mengenai maraknya pencarian ikan dengan listrik dan bom ini, Sudirman menjelaskan, pemerintah kota sebenarnya telah melarang. Peraturan daerah yang mengatur larangan ini juga sudah ada dengan pengenaan hukuman kurungan akibat pelanggaran pasal pidana.

”Ancaman sanksi denda dan hukuman pidana yang tercantum dalam Pasal 84 Perda Nomor 31 Tahun 2004 ini mengacu pada undang-undang di atasnya, yakni barang siapa menangkap ikan dengan listrik dan bom dikenakan kurungan paling lama enam tahun penjara atau denda paling banyak Rp 1,2 miliar,” katanya.

Sayangnya, perda ini belum sepenuhnya dipatuhi masyarakat. Salah satu persoalan yang dihadapi pemerintah adalah sulitnya memantau aktivitas ilegal karena para pelakunya sering beraksi pada malam hari hingga menjelang dini hari.

Lokasi penangkapan

Hasil penelitian tim Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Palembang juga mencatat sejumlah wilayah di perairan Sungai Musi yang diindikasikan kerap digunakan menjadi tempat mencari ikan dengan setrum dan bom, antara lain perairan Kecamatan Pulokerto, Gandus, dan perairan Pasar Sekanak.

”Kami fokus untuk menekan faktor pencarian ikan dengan setrum ini karena merusak ekosistem di sekitarnya serta berpotensi membunuh bibit ikan yang akan tumbuh. Saat ini, upaya pencegahan terus dilakukan dengan menyebar tim pengawas ke lapangan,” katanya.

Pencemaran sungai

Sebelumnya, pengamat perikanan dari Balai Sungai Wilayah Sumatera, Mawardi, menjelaskan, faktor lain yang menyebabkan cukup tingginya angka kematian ikan adalah pencemaran air sungai akibat maraknya pembangunan pabrik di tepi sungai.

”Untuk itu, pemerintah perlu meningkatkan kembali peran Balai Pembibitan Ikan. Budidaya di tingkat petani ikan juga perlu ditumbuhkan,” kata Mawardi.

Sudirman mengaku ikan belida banyak dicari pengusaha makanan untuk bahan baku kerupuk kemplang dan pempek. Namun, dia tak menjelaskan langkah dari dinas terkait untuk mengembalikan kejayaan ikan belida. (ONI)

Satwa Punah Lainnya

Babi Rusa Hutan Nantu Masih Kerap Diburu
Sabtu, 21 Mei 2011 22:01 WIB

GORONTALO–MICOM: Babi rusa (babyrousa babyrussa) di kawasan Suaka Margasatwa Hutan Nantu, Boliyohuto, Gorontalo, masih kerap diburu orang. Dagingnya banyak dipasarkan di Minahasa, Sulawesi Utara.

Alfin Bawohan, Asisten Peneliti Yayasan Adudu Nantu Internasional (YANI), organisasi yang bergiat di kawasan Suaka Margasatwa Nantu mengatakan, hampir setiap hari ditemukan daging babi rusa diperjualbelikan di sejumlah pasar tradisional di Minahasa.

Padahal, satwa pemilik taring khas yang tumbuh di hidungnya itu dikenal sangat kecil tingkat reproduksinya. Dalam setahun, babi rusa betina hanya satu kali melahirkan satu hingga dua anak.

Menurut Alfin, populasi babi rusa di kawasan SM Nantu seluas 31.215 hektare itu diperkirakan hanya 500 ekor. Namun, jumlah itu bisa menyusut atau makin kecil karena masih maraknya perburuan.

Pada 1996, babi rusa tercatat dalam kategori satwa langka dilindungi oleh organisasi dunia The Convention on the International Trade of Endangered Species of Wild Fauna and Flora (IUCN -CITES IUCN).

Alfin menambahkan, hal lainnya yang mengancam babi rusa dan satwa endemik lainnya di SM Nantu adalah perambahan kayu dan rotan serta pertambangan emas yang merusak habitat serta ekosostem yang dihuni aneka folra dan fauna unik khas Sulawesi. (Ant/OL-01)

FLORA LANGKA
Kantong Semar Endemik Sintang Terancam Punah

Pontianak, Kompas – Populasi tanaman kantong semar jenis Nepenthes clipeata endemik Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, terancam punah di habitat aslinya. Di alamnya tersisa 250 tanaman saja.

”Setelah berkurang karena kebakaran, diperparah pencurian,” kata Koordinator Sensus dan Program Konservasi Nepenthes clipeata Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Irwan Lovadi, awal pekan ini.

Di dunia, Nepenthes clipeata yang berwarna kemerahan adalah flora langka. Tanaman ini hanya bisa ditemui di Sintang. Diameter kantong Nepenthes clipeata dewasa mencapai 30 sentimeter hingga 40 cm.

Di Kalbar, ada juga jenis kantong semar lain, diameter kantongnya kurang dari 10 cm. ”Keunikan Nepenthes clipeata itulah penyebab tingginya perburuan dan pencurian,” kata Irwan. Nepenthes clipeata masuk kriteria kritis versi IUCN, lembaga konservasi internasional.

Kepala BKSDA Kalbar Djohan Utama Perbatasari mengatakan, pihaknya berkomitmen menyelamatkan Nepenthes clipeata dari kepunahan. Caranya dengan pengawasan ketat di habitatnya.

Nepenthes clipeata dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Pendekatan terhadap masyarakat sekitar habitat dilakukan petugas. Pertemuan-pertemuan dengan tokoh kampung sekitar habitat dan sosialisasi kepada siswa di sekolah dinilai efektif mendukung konservasi.

Mengimbangi penurunan populasi di habitat aslinya, BKSDA Kalbar akan membuat program pembuatan demplot pengembangan Nepenthes clipeata. ”Agar kelestariannya terjaga,” kata Kepala Seksi Konservasi BKSDA Wilayah II Sintang Suparto AS.
(AHA)

PERKEBUNAN
Jeruk Soe, Kebanggaan NTT yang Terancam Punah

Jeruk atau citrus yang berkembang di Soe, Nusa Tenggara Timur, lebih dikenal masyarakat setempat dengan sebutan jeruk keprok soe. Rasa jeruk manis keasaman. Jeruk soe sampai tahun 2009 masih beredar luas di masyarakat NTT, tetapi dalam tiga tahun terakhir semakin sulit ditemukan. Perubahan iklim dan hama jeruk sebagai penyebab.

Jeruk keprok soe hanya bisa bertahan hidup dan berbuah selama kemarau panjang dengan suhu 28-31 derajat celsius. Namun, sejak tahun 2010 terjadi perubahan iklim cukup signifikan. Hujan sering terjadi sepanjang tahun meski hanya mendung atau rintik.

Jeruk keprok soe berada di kawasan Gunung Mutis dengan ketinggian 2.000 meter dpl, di Kecamatan Molo Utara dan Molo Selatan. Jeruk soe memiliki ciri-ciri, antara lain, kulit tipis merah, mudah dikupas, rasa manis keasaman, berbentuk bulat sedang, ketinggian batang 2-4 meter, dan usia berbuah 2-3 tahun. Orang lebih suka menyebut jeruk keprok soe atau jeruk soe karena hanya tumbuh, berkembang, dan berbuah dalam jumlah besar di wilayah itu.

Ketua Kelompok Tani Binoni, Desa Oebubuk, Kecamatan Molo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Yulius Sanam, Minggu (6/3), mengatakan, Kelompok Tani Binoni yang terdiri dari 20 anggota mengelola areal perkebunan jeruk keprok seluas 10 hektar.

”Dulu, areal 10 hektar itu hanya kami tanami jeruk, tetapi sejak tahun 2009 akhir, sebagian jeruk kami tebang untuk ditanami umbi-umbian, kacang, dan sayur. Hama jeruk yang disebut diploidya atau hama kulit merusak daun dan batang tanaman. Sebagian besar tanaman jeruk mati setelah dihinggapi hama tersebut,” kata Yulius.

Hama kulit ini setiap tahun menyerang tanaman jeruk sejak tahun 1998. Karena tidak tuntas ditangani, hama ini memusnahkan sebagian besar tanaman jeruk di Molo Utara dan Molo Selatan, sentra produksi jeruk. Luas tanaman jeruk di Kecamatan Molo Selatan mencapai 150 hektar, ini pun terancam punah. Proses pembudidayaan kembali jeruk gagal karena dirusak hama jeruk.

Ia menuturkan, petugas penyuluh lapangan membantu menyemprot hama tersebut. Mereka juga membagikan obat antihama kepada petani. Obat itu dicampur air dan belerang, direbus mendidih, didinginkan lalu disemprotkan ke tanaman jeruk.

”Tetapi jumlah obat terbatas, tanaman pohon terserang hama hampir menyeluruh sehingga tidak semuanya disemprot. Mungkin jenis obat pembasmi hama yang disediakan pemerintah terbatas,” katanya.

Ayah enam putra ini menuturkan, tahun 1995-2008 produksi jeruk keprok soe sampai 500 kilogram per pohon. Jeruk waktu itu dikirim ke Timor Timur (Timor Leste), Kupang, Flores Timur, Manggarai, Bajawa, Maumere, Rote Ndao, dan Sabu Raijua melalui pedagang. Jeruk soe tidak kalah bersaing dengan jeruk dari luar NTT. Waktu itu jeruk soe dijual di swalayan dan toko-toko di Kupang dengan harga Rp 5.000- Rp 25.000 per kilogram.

Yulius Sanam pun mampu menyekolahkan anak pertamanya, Toni Sanam, sampai perguruan tinggi. Ketika itu tanaman jeruk miliknya seluas satu hektar setiap tahun memproduksi sampai 5.000 ton, dengan harga jual Rp 1.000-Rp 2.000 per kilogram.

Menurun

Memasuki tahun 2009/2010, produksi jeruk berangsur menurun. Satu pohon jeruk hanya menghasilkan 20-50 kilogram. Buah jeruk kerdil dan kehitaman sehingga tidak layak dijual.

Ny Sanci Lassa (47), petani asal Desa Oenasu Kecamatan Molo Utara, mengatakan, pada musim hujan seperti sekarang semestinya daun dan buah jeruk sangat lebat atau padat. Namun, saat ini sebagian besar pohon jeruk tampak kerdil, meranggas, dan kehitaman karena terserang hama.

”Hama ini sudah lama, tetapi tidak ada keseriusan pemerintah untuk mengatasi. Petugas dari kabupaten memberi 1-2 kilogram obat yang disebut bubur Kalifornia. Obat ini dicampur dengan 2-4 liter air, kemudian disemprotkan ke pohon jeruk dari batang sampai daun. Obat itu paling hanya untuk menyemprot 5-10 pohon jeruk,” katanya.

Sebaiknya, penyemprotan dilakukan saat hama itu baru menyerang tanaman 10-15 hari. Namun, obat antihama ini sering terlambat datang, bahkan pernah selama satu tahun tanaman tidak disemprot sama sekali karena tak ada obat.

Lassa mengaku, tidak ada penyuluh yang menetap di desa. Petugas penyuluh pertanian menetap di Soe, 25 kilometer dari Molo Utara. Saat musim panen tiba, Agustus-September, mereka datang ke lokasi dan mengambil data mengenai keadaan jeruk petani.

”Mereka janji akan datang setelah melapor pada pimpinan, tetapi tidak pernah muncul sampai tanaman itu mengering. Sebenarnya kami sendiri bisa mengatasi kondisi ini, tetapi kami tidak tahu nama obat hama yang cocok dan di mana obat itu dijual,” kata Sanci.

Harga jeruk saat ini agak mahal karena belum musim jeruk, yakni Rp 500 per buah atau tiga buah dihargai Rp 1.000. Musim panen jeruk biasanya bulan Agustus-September. Saat itu harga jeruk hanya Rp 5.000 per kilogram, petik langsung di tempat, tetapi di pasar-pasar dijual Rp 10.000-Rp 25.000 per kilogram.

Jeruk keprok soe terancam punah. Ia memiliki satu hektar kebun jeruk, tetapi sudah ditebang dan diganti tanaman jagung, umbi-umbian, kacang, dan sayur. Sisa 5.000 meter persegi ditanami buah-buahan, seperti pepaya, pisang, mangga, dan jeruk nipis.

Anggota DPRD NTT, daerah pemilihan TTS, Alfred Baun, mengatakan, pemerintah daerah tidak tahu menjaga dan mempertahankan kearifan lokal atau keunggulan daerah. Jeruk soe sangat populer pada tahun tahun 1980-1990, tetapi memasuki tahun 2000-an jeruk itu dibiarkan merana.

”Setiap pergantian kepala daerah, kebijakan pembangunan pun selalu berubah, termasuk kebijakan terhadap perkebunan jeruk di Soe. Ini sangat disayangkan karena jeruk itu sebagai satu-satunya kebanggaan di daratan Timor, terancam punah,” kata Alfred Baun. Dia berjanji mendorong pemerintah daerah TTS dan NTT agar jeruk itu dibudidayakan lagi.

(KORNELIS KEWA AMA)

Rusa Lampung Barat Terancam Punah Oleh Perburuan Liar

Senin, 23 Agustus 2010 04:07 WIB | Warta Bumi | Konservasi/Pelestarian | Dibaca 971 kali
Liwa, Lampung Barat (ANTARA News) – Pemburuan yang dilakukan masyarakat, mengancam kelestarian populasi rusa, bahkan diprediksi dalam beberapa tahun kedepan populasi rusa akan punah.

“Setiap hari masyarakat pasti berburu rusa dan hewan lain, beberapa tahun belakang, habitat rusa di daerah banyak, tetapi seiring maraknya pemburuan jumlah rusa semakin sedikit,” kata masyarakat Kecamatan, Pekon (Desa) Badardalam, Kecamatan Bengkunat Belimbing, Lampung Barat, Edi Susanto (41) sekitar 378 Km dari Bandarlampung, di Bandardalam, Senin.

Dia menjelaskan, berkurangnya populasi rusa picu konflik hewan.

“Masyarakat yang berada di daerah pinggiran hutan jelas menjadi korban akibat ulah pemburu itu, karena beberapa hewan pemangsa kehabisan pasokan makanan, sehingga terjadilah konflik manusia dan hewan, berujung kepanikan masyarakat karena hewan pemangsa tersebut masuk diarea kampung,” kata dia.

Dia menjelaskan, keberadaan pemburu pemicu kepunahan satwa.

“Pemburu satwa menjadi aktor utama dalam kepunahan rusa, situasi ini harus mendapat reaksi dari dinas terkait, agar memberikan tindakan kepada masyarakat agar tidak memburu rusa lagi, sehingga populasi rusa dapat terjaga,” katanya.

Pemburuan marak di beberapa wilayah di Lampung Barat, dan mengancam kelestarian satwa seperti rusa dan beberapa satwa lain, yang keberadaannya kini semakin sedikit.

Masyarakat yang berada dekat di area hutan, memanfaatkan potensi hutan dengan melakukan pemburuan satwa, yang mana satwa yang diburu tersebut menjadi sumber makan pokok bagi hewan pemangsa lain seperti harimau.

Semakin sedikitnya populasi rusa di Lampung Barat, berpotensi terjadinya konflik hewan dan manusia, beberapa daerah di Lampung Barat menjadi langganan masuknya hewan buas seperti harimau, yang masuk ke perkampungan dan memangsa hewan ternak warga.

Kondisi ini jelas akan menggangu masyarakat dalam beraktifitas karena dicekam ketakutan, dimana sewaktu waktu hewan buas tersebut kembali masuk ke perkampungan dan memangsa apa saja yang di temui termasuk manusia.

Hingga saat ini belum ada data jelas berapa jumlah populasi rusa yang masih bertahan, tetapi melihat dilapangan populasi itu semakin sedikit, dibuktikan dengan semakin jarang rusa menampakan diri baik dipadang rumput atau di pinggiran hutan, kalaupun ada hanya empat hingga enam ekor saja.

Kondisi ini harus segera mendapat tindakan, jika lamban diprediksi dalam beberapa tahun kedepan populasi rusa akan punah.

Sebelumnya Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri mengatakan, masyarakat dapat menghentikan aktifitas berburu satwa.

“Sudah cukup masyarkat melakukan perburuan, selain dapat merusak rantai makanan, selain para pemburu itu menjadi dalang bagi kepunahan satwa,” kata dia.

Dia menjelaskan, himbauan yang di berikan pada masyarakat sebagai upaya pemkab dalam menjegah perburuan satwa.

“Himbauan lisan juga tulisan terus kami gencarkan, agar peburuan terhadap satwa segera dihentikan, semua yang dilakukan akan sia sia bila masyarakat tidak melaksanakannya,” kata dia lagi.

Bupati memaparkan, masyarakat akan mendapat dampak dari perbuatan tersebut.

“Masyarakat yang tidak bersalah tentu akan menjadi korban terhadap aksi pemburu, salah satunya dengan tejadinya konflik hewan dan manusia, semua yang sudah terjadi dan akan terjadi dapat di cermati oleh oknum masyarakat, sehingga kedepan kelestarian satwa serta konflik hewan tidak dapat terjadi didaerah ini,” katanya

PLASMA NUTFAH
Tanaman Pangan Lokal Mulai Punah

Senin, 27 September 2010 | 03:41 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS – Plasma nutfah sejumlah tanaman pangan lokal Indonesia terancam punah. Saat ini beberapa jenis tanaman umbi-umbian dan satu jenis indukan pisang semakin sulit ditemukan. Fasilitas pelestarian plasma nutfah di Indonesia masih minim sehingga pelestarian sulit dilakukan.

Ahli taksonomi tumbuhan dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Purnomo, mengatakan, setidaknya terdapat dua varietas umbi-umbian yang sudah tak bisa ditemukan lagi, yaitu Dioscorea numularia yang bernama lokal jebubuk dan Dioscorea alata yang di Jawa dikenal dengan nama uwi ulo.

”Dua jenis umbi ini dahulu banyak ditemukan di kebun-kebun penduduk di seluruh Jawa, tetapi beberapa tahun terakhir ini sudah tidak ditemukan lagi,” ucapnya di sela-sela Seminar Nasional Biologi ”Perspektif Biologi dalam Pengelolaan Sumber Daya Hayati” yang diselenggarakan pada Jumat (24/9) untuk memperingati Lustrum XI Fakultas Biologi UGM.

Dua jenis umbi yang dahulu banyak terdapat di Jawa itu tidak lagi banyak dibudidayakan. Rasanya yang kurang enak juga membuat dua umbi tersebut jarang dikonsumsi. Namun, kedua umbi ini sebenarnya sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan pengganti makanan pokok dan tepung mengingat tingginya kandungan karbohidrat yang dimiliki.

Menurut Purnomo, dua umbi ini juga tahan hidup di daerah sangat kering dan tandus dengan hasil panen tinggi. ”Keunggulan-keunggulannya membuat umbi-umbian ini sangat cocok dikembangkan untuk ketahanan pangan,” kata Purnomo.

Semakin sulit

Purnomo mengatakan, Indonesia sangat kaya akan jenis umbi-umbian, yaitu sekitar 11 varietas dari jenis Dioscorea alata dan ratusan jenis lain dari genus Dioscorea. Sebelum berganti dengan beras, umbi-umbian sarat karbohidrat itu dahulu digunakan sebagai makanan pokok masyarakat di sejumlah daerah. Namun, saat ini umbi-umbian lokal, seperti gembili, gembolo, dan tomboreso, pun semakin sulit dijumpai, baik di pasaran maupun di lahan-lahan penduduk.

Selain umbi, kata Purnomo, pisang biji gunung (Musa acuminata) juga terancam punah. Saat ini pisang berbiji banyak itu hanya dapat dijumpai dalam jumlah kecil di sejumlah tempat, seperti Kaliurang (Yogyakarta), Nusakambangan (Jawa Tengah), dan pegunungan di Bali.

Padahal, selain pisang kluthuk, pisang berbiji banyak ini merupakan indukan yang telah menghasilkan puluhan varietas pisang yang dikenal saat ini. ”Kalau sampai hilang akan sayang sekali. Kita kehilangan indukan yang tak bisa ditemukan lagi,” katanya.

Ahli biokimia Fakultas Biologi UGM, Raras Putri Pratiwi, mengatakan, Indonesia masih lemah dalam melestarikan keanekaragaman hayati. Padahal, kekayaan hayati di Indonesia merupakan kedua terbesar di dunia setelah Brasil. ”Ada banyak ribuan spesies di Indonesia. Itu pun masih puluhan, mungkin ratusan, yang belum teridentifikasi,” katanya.

Menurut Raras, berbagai spesies tanaman pangan lokal semakin langka karena lemahnya diversifikasi pangan. Saat ini masyarakat dan industri hanya bertumpu pada beras dan gandum. Akibatnya, budidaya tanaman pangan lokal semakin berkurang. Padahal, jenis-jenis pangan lokal merupakan potensi untuk membangun ketahanan pangan. (IRE)

Abrasi Ancam Habitat Penyu di Bengkulu

Jumat, 17 Juni 2011 16:22 WIB | 1692 Views

Bengkulu (ANTARA News) – Abrasi di pantai barat Sumatra mengancam kelestarian habitat penyu khususnya di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Muko Muko Provinsi Bengkulu.

“Laju abrasi sangat tinggi dan mengakibatkan cagar alam Muko Muko I dan II sudah hilang, dan mengancam habitat penyu,” kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Amon Zamora di Bengkulu, Jumat.

Ia mengatakan sepanjang 270 kilometer pantai yang mencakup tiga kabupaten dan kota yaitu Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara dan Muko Muko merupakan habitat bertelur satwa penyu.

Dari catatan BKSDA, terdapat lima jenis penyu yang dilindungi di perairan Bengkulu, yaitu penyu lekang, penyu sisik, penyu hijau, penyu belimbing dan penyu tempayan.

“Seperti abrasi di Muko Muko yang membuat badan jalan juga ambles, ini akan mengancam kelestarian penyu yang masih sering bertelur disana,” tambahnya.

Amon mengatakan abrasi pantai barat perlu penanganan serius. Meski sudah dibangun sejumlah pemecah ombak, namun titik abrasi terus bertambah, bahkan mengancam fasilitas umum seperti jalan dan jaringan listrik.

Selain ancaman abrasi, perburuan penyu untuk diperjualbelikan juga mengancam kelestarian satwa dilindungi itu.

Perburuan penyu kata dia masih marak di perairan Bengkulu dan Pulau Enggano yang juga habitat bertelurnya.

Ia mengatakan, khusus di Pulau Enggano perburuan semakin mengkhawatirkan sebab pembunuhan terhadap satwa itu tidak hanya untuk kepentingan adat tapi sudah dikomersilkan.

Ketua Tim Patroli BKSDA Bengkulu Resor Pulau Enggano Rendra Regen Rais mengatakan perburuan penyu secara liar masih tinggi di pulau terluar itu.

“Sebenarnya kami sudah membahas ini dengan tetua adat agar keberadaan penyu dalam menu pesta adat hanya sebagai syarat, bisa hanya satu ekor untuk setiap pesta,” katanya.

Regen mengatakan, dari hasil patroli BKSDA Bengkulu Resor Enggano ditemukan adanya pembunuhan penyu untuk diperdagangkan dengan barang bukti kepala dan kerapas satwa yang biasanya ditinggalkan pemburu di pinggir pantai.

Faktor lain yang mengancam kelestarian penyu adalah faktor alam yaitu babi hutan dan biawak yang sering memakan telur penyu.

(ANTARA/S026)

Editor: Suryanto
COPYRIGHT © 2011

Perburuan Gelap Penyu Sisik, Hijau di Perairan Sulbar

Jumat, 17 Juni 2011 01:34 WIB | 1473 Views

Mamuju (ANTARA News) – Penyu sisik dan hijau yang dilindungi negara di kawasan perairan Provinsi Sulawesi Barat menjadi sasaran perburuan gelap .

“Kawasan perairan sepanjang 677 kilometer pantai Sulbar maupun di perairan yang terletak di kepulauan di wilayah Sulbar di selat Makassar, merupakan tempat penyu sisik dan hijau berkembang biak,” kata Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan DKP Provinsi Sulbar, Farid Wajidi, di Mamuju, Kamis.

Ia mengatakan, para nelayan pemburu gelap ingin mengambil untung dari harga jual penyu yang mahal.

“Perburuan gelap yang marak dilakukan nelayan yang berasal dari daerah Provinsi Sulawesi Selatan sebelumnya telah terungkap pihak kepolisian Polres Kabupaten Polman,” katanya.

Menurut dia, pada bulan April polisi air Polres Polman menggagalkan dan menangkap aksi sekitar 19 nelayan Kabupaten Takalar yang menangkap penyu sisik dan hijau di perairan Sulbar.

“Polisi menyita sekitar 36 ekor penyu sisik dan hijau dari para nelayan itu serta mengamankan empat unit perahu mereka, dan 50 lembar pukat penangkap penyu sisik dan hijau,” katanya.

Ia mengatakan, para nelayan itu telah mempertanggungjawabkan perbuatannya akibat pelanggaran terhadap undang undang Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistem.

Farid Wajidi mengatakan, dengan adanya aksi perburuan gelap nelayan tersebut hendaknya seluruh aparat keamanan dari unsur kepolisian harus terus meningkatkan pengawasan karena bukan mustahil nelayan pemburu gelap penyu sisik dan hijau dapat kembali beraksi.

“Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulbar terus melakukan pengawasan terhadap sumber daya ekosistem laut daerah ini agar tetap terlindungi dan terjaga serta terpelihara, bersama aparat berwajib yakni unsur kepolisian juga yang harus mendukung pemerintah dalam program tersebut di lima Kabupaten di Sulbar,”katanya. (MFH/Y006/K004)

Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011

Leave a comment »

Wisata Kuliner dan Konservasi Sumber Daya Hati dan Ekosistem Laut

Ikan dan proteinnya memang sangatlah penting untuk perkembangan manuisa Indonesia yang sehat Jasmani. Kebutuhan komsumsi ikan masyarakat Indonesia memang harus ditingkatkan karena komsumsi masyarakat kita sangat jauh dibandingkan dengan negara Jepang.

Namun hal tersebut, tentu saja harus memperhatikan aspek-aspek kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Sebab, keberlanjutan kelestarian tersebut juga akan menentukan keberlanjutan kehidupan ikan-ikan yang akan kita komsumsi.

Menurut WWF, berdasarkan data Pusat Riset Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun lalu, 55% sumber daya ikan Indonesia sudah berstatus overexploited atau sudah tereksploitasi secara berlebihan.

Lsm Kiara juga menyampaikan bahwa, berdasarkan data-data KKP, saat ini sudah ada sembilan zona perikanan yang terksploitasi penuh, di antaranya Selat Malaka, Laut Jawa, Laut Banda, perairan bagian barat Sumatra, dan bagian selatan Jawa.

Kondisi kelestarian laut dan sumber daya yang genting tersebut, semakin diperparah dengan selera lidah masyarakat kelas atas, yang hobi memakan berbagai jenis hewan “kelas atas” (langka). Kebudayaan tersebut semakin subur dengan tumbuhnya berbagai daerah wisata pesisir, yang mengandalkan wisata kuliner berbahan hewan-hewan kelas atas tersebut.

Banyak tempat wisata laut yang menyediakan menu hewan-hewan yang terancam punah. Selain itu, hewan-hewan yang masih kecil dan belum layak dikomsumsi, hanya untuk memenuhi “kenikmatan lidah” para wisatawan.

Parahnya lagi, tidak jarang yang menghancurkan kawasan hutan bakau untuk dijadikan tempat wisata laut. Kemudian tak jarang pula yang mengkomersialisasikan keberadaan terumbu karang serta pernak-pernik khas laut, untuk dijual kepada para wisatawan.

Hal inilah yang kemudian menjadi landasan WWF untuk mengeluarkan program seafood guide. Seafood Guide diwujudkan dengan bentuk kategori tangkapan yang perlu dihindari, di antaranya ikan barakuda, baronang, bawal hitam, bawal putih, butana, cumi, dugong, hiu, kakap putih, kuda laut, kuniran, kurau, kurisi, lumba-lumba, mata tujuh, penyu dan telur penyu, ikan sembilan, telur ikan, triton, trochus, ikan tuna sirip biru, dan udang.

Sayangnya, selama ini masyarakat Indonesia masih belum memperhatikan kelestarian lautnya. Kotornya seluruh pesisir yang ada di perkotaan serta hancurnya berbagai hutan bakau, menjadi indikator yang sulit untuk dinafikkan.

Sudah saatnya, kondisi kelestarian laut menjadi perhatian negara yang 2 per 3 bagiannya terdiri atas laut. Pemerintah jangan bisanya Cuma menghimbau untuk mengkomsumsi ikan, tanpa memikirkan keberlanjutan keberadaan ikan.

Pemerintahnya goblok kabeh….

Sumber : Media Indonesia,”Dilema Kuliner Laut”, 5 Juni 2011

Leave a comment »

Komersialisasi Kebun Binatang dan Kesejahteraan Satwa

Selama ini aspek komersialisasi selalu saja menjadi latar belakang berdirinya kebun binatang yang ada di Indonesia. Sedangkan aspek konservasi hewan dan ilmu pengetahun yang seharusnya menjadi landasan utama pembangunan, selalu diposisikan sebagai pendukung komersialisasi kebun binatang.

Akibatnya, sebagian besar kebun binatang yang tidak ekonomis karena sepinya pengunjung yang datang, terkadang menafikkan kesejahteraan hewan-hewan yang ada dalam penanggkaran.

Kesejahteraan hewan (sistem perawatan satwa yang meliputi perkandangan, nutrisi atau pakan, kesehatan, serta reproduksi , dan sebagainya) dalam penangkaran di kebun binatang atau tempat konservasi lainnya harus merujuk pada lima unsur kebebasan satwa yang diatur Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) dan World Society for the Protection of Animals (WSPA).

1. Hewan harus bebas dari rasa lapar dan haus.
2. Hewan harus bebas dari ketidaknyamanan atau penyiksaan fisik.
3. Hewan harus bebas dari rasa sakit, nyeri, dan penyakit. Kegiatan ini mencakup upaya pencegahan dan pengobatan penyakit yang menimpa hewan)
4. Hewan harus bebas dari rasa takut dan tertekan atau stres.
5. Hewan harus bebas untuk mengekspresikan tingkah laku alami mereka.

Sumber. Media Indonesia, “Menjamin Kesejahteraan Satwa”, 12 Juni 2011

Leave a comment »

LANDASAN PEMBANGUNAN HUTAN KOTA

Pembangunan Berkelanjutan dan RTH

Konstitusi Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945) secara tersirat mengamanatkan untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan yang dapat menjamin kesejahteraan generasi masa kini dan generasi yang akan datang. Pembangunan berkelanjutan dicapai dengan mensinkronkan, mengintegrasikan, dan memberi bobot yang sama bagi tiga aspek utama pembangunan, yaitu aspek ekonomi, aspek sosial-budaya, dan aspek lingkungan hidup.
Syarat untuk mencapai pembangunan berkelanjutan ialah pembangunan berwawasan lingkungan.

Pembangunan berwawasan lingkungan mempunyai arti bahwa pembangunan itu serasi dengan lingkungan hidup sehingga tidak mengganggu fungsi ekologinya. Oleh sebab itu, setiap keputusan pembangunan harus memasukkan berbagai pertimbangan yang menyangkut aspek lingkungan, disamping pengentasan kemiskinan dan pola komsumsi sehingga hasil pembangunan akan memberikan hasil yang paling baik bagi peningkatan kualitas hidup manusia

Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan dalam wilayah perkotaan dapat diwujudkan dengan memperhatikan pemanfaatan unsur-unsur utama dalam lingkungan hidup seperti air, udara, tanah, dan ruang. Penggunaan unsur-unsur tersebut dalam pembangunan harus memperhatikan keselarasan aspek ekonomi, aspek sosial-budaya, dan aspek lingkungan hidup sehingga kualitas lingkungan ruang di suatu wilayah memenuhi prinsip pembangunan berkelanjutan.

Salah satu kebijakan nyata dalam mewujudkan kualitas ruang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan di wilayah kota adalah melalui penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah perkotaan. Pengertian RTH di dalam Pasal 1 butir 31 UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang (yang selanjutnya disebut UUPR) adalah, area memanjang/ jalur dan/ atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.

Keberadaan kawasan Ruang Terbuka Hijau di suatu wilayah perkotaan adalah upaya untuk menjamin kualitas lingkungan yang baik di suatu wilayah. Sebagaimana tersirat dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UUPR), maka keberadaan RTH diperlukan untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan sistem mikroklimat, maupun sistem ekologis lain, yang selanjutnya akan meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (Permendagri RTHKP), disebutkan 23 jenis RTHKP, yang meliputi: taman kota, taman wisata alam, taman rekreasi, taman lingkungan perumahan dan permukiman, taman lingkungan perkantoran dan gedung komersial, taman hutan raya, hutan kota, hutan lindung, bentang alam seperti gunung, bukit, lereng dan lembah, cagar alam, kebun raya, kebun binatang, pemakaman umum, lapangan olah raga, lapangan upacara, parkir terbuka, lahan pertanian perkotaan, jalur dibawah tegangan tinggi (SUTT dan SUTET), sempadan sungai, pantai, bangunan, situ dan rawa, jalur pengaman jalan, median jalan, rel kereta api, pipa gas dan pedestrian, kawasan dan jalur hijau, daerah penyangga (buffer zone) lapangan udara; dan taman atap (roof garden).

Hutan Kota

Salah satu jenis RTH yang memiliki fungsi ekologis paling baik adalah hutan kota. Ketentuan tanaman serta luas 90% tutupan vegetasi tanaman pada pembangunan Hutan Kota, menjadikan hutan kota memiliki manfaat ekologis tertinggi daripada jenis-jenis RTH lainnya. Oleh sebab itu, dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) No.63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota, mengamanatkan presentase penyediaan hutan kota di suatu wilayah seluas paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) dari wilayah perkotaan dan atau disesuaikan dengan kondisi setempat.

Pengertian Hutan Kota adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang. Keberadaan hutan kota dapat membuat kualitas lingkungan membaik dan berfungsi efektif dalam meredam kebisingan, juga menyerap panas, meningkatkan kelembapan, mengurangi debu, mengakumulasi polutan serta menciptakan suasana nyaman, sehat, dan estetis.

Tujuan penyelenggaraan hutan kota adalah untuk kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan yang meliputi unsur lingkungan, sosial dan budaya.

Fungsi hutan kota adalah untuk :
a. memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika;
b. meresapkan air;
c. menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota; dan
d. mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.

Peran Hutan Kota
1. Terhadap kualitas lingkungan kota
a. meningkatkan kualitas atmosfer kota
b. penyegaran udara
c. menurunkan suhu kota
d. menyapu debu permukaan kota
e. menurunkan kadar polusi (CO2)
f. meredam kebisingan
2. Terhadap kelestarian lingkungan
a. menunjang tata guna dan tata air
b. menunjang tata guna dan pelestarian tanah
c. menunjang pelestarian plasma nutfah

Dalam makalah Lokakarya IPB, RTH, termasuk hutan kota di dalamnya, memiliki fungsi utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis, dan fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu fungsi arsitektural, sosial, dan fungsi ekonomi (kawasan wisata kuliner). Dalam suatu wilayah perkotaan empat fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan, kepentingan, dan keberlanjutan kota. Berbagai fungsi yang terkait dengan keberadaanya (fungsi ekologis, sosial, ekonomi, dan arsitektural) dan nilai estetika yang dimilikinya (obyek dan lingkungan) tidak hanya dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan untuk kelangsungan kehidupan perkotaan tetapi dapat menjadi nilai kebanggaan dan identitas kota.

RTH berfungsi ekologis, yang menjamin keberlanjutan suatu wilayah kota secara fisik, harus merupakan satu bentuk RTH yang berlokasi, berukuran, dan berbentuk pasti dalam suatu wilayah kota, seperti RTH untuk perlindungan sumberdaya penyangga kehidupan manusia dan untuk membangun jejaring habitat hidupan liar. RTH untuk fungsi-fungsi lainnya (sosial, ekonomi, arsitektural) merupakan RTH pendukung dan penambah nilai kualitas lingkungan dan budaya kota tersebut, sehingga dapat berlokasi dan berbentuk sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, seperti untuk keindahan, rekreasi, pendukung arsitektur kota, dan tempat wisata kuliner.

Penutup

Melihat fungsi dan manfaat Hutan Kota tersebut diatas, maka keberadaan hutan kota di suatu wilayah adalah suatu keniscayaan dalam rangka mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Keberadaan hutan kota diharapkan dapat menghindari suatu wilayah dari berbagai bencana akibat buruknya kualitas lingkungan karena mengabaikan keberadaan RTH, seperti bencana banjir dan penurunan/ amblasnya tanah, serta kualitas udara dan air yang buruk sebagaimana yang terjadi di ibukota kita tersayang, Jakarta.

Dasar Hukum Pembangunan Hutan Kota

Undang–Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
Undang–Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.71/ Menhut-II/ 2009 tentang Pedoman Penyelenggaraan Hutan Kota
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

Comments (1) »