Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Rawa Pening

1.1. Latar Belakang

Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, diantaranya danau, dan waduk. Di Indonesia terdapat 840 danau besar, 735 danau kecil dan 200 waduk besar. Danau sendiri kaya akan keanekaragaman fungsi, hayati, sosial dan budaya sehingga kawasan tersebut memiliki peranan yang penting untuk menunjang kehidupan manusia.

Beberapa manfaat kawasan perairan danau antara lain adalah sebagai penyedia air untuk irigasi pertanian, sumber air baku air minum, perikanan, PLTA, pariwisata, transportasi air, serta tempat hidup berbagai makhluk hidup (biota) yang unik yang khas (sumber keanekaragaman hayati). Namun hingga saat ini kondisi danau telah banyak mengalami penurunan kualitas ekosistem akibat pemanfaatan danau yang berlebihan sehingga menimbulkan degradasi kawasan danau.

Danau Rawapening merupakan satu dari 15 (lima belas) danau yang masuk ke dalam prioritas pemulihan kerusakan danau di Indonesia berdasarkan Kesepakatan Bali Tahun 2009 tentang Pengelolaan Danau Berkelanjutan. Kondisi Danau Rawapening saat ini telah berada pada tingkat kerusakan dan pencemaran yang tinggi. Beberapa pencemaran dan kerusakan yang terjadi adalah tingkat sedimentasi yang tinggi, penurunan kualitas air, kerusakan daerah tangkapan air, maraknya keramba jaring apung (KJA) dan enceng gondok, banjir di kawasan hilir dan lain sebagainya. Dengan memperhatikan kondisi tersebut, diperlukan suatu strategi pengelolaan danau yang berkelanjutan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung kawasan danau.

Pada tahun 2011, sebagai salah satu bentuk komitmen KLH yang tertuang dalam Kesepakatan Bali Tahun 2009 serta mengacu kepada Undang-undang Lingkungan Hidup Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 28 Tahun 2009 tentang Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau dan/atau Waduk serta implementasi buku Pedoman Zonasi Ekosistem Danau yang telah disusun pada tahun 2011, maka KLH Melaksanakan Kajian Penentuan Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau dan Zonasi Pemanfaatan Perairan Danau Rawapening. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi masukan yang berharga bagi para pemangku kepentingan baik di tingkat pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam upaya penyelamatan Danau Rawapening. Selain itu kajian ini juga sebagai perwujudan komitmen KLH yang telah meluncurkan model Gerakan Penyelamatan Danau Rawapening pada Konferensi Nasional Danau II di Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 13-14 Oktober 2011 yang lalu.

 

1.2 Tujuan dan Sasaran

Tujuan penyusunan kajian ini adalah untuk merumuskan pengelolaan Danau Rawapening agar sesuai dengan daya tampungnya serta serasi dengan tata ruang yang berwawasan lingkungan.

Sasaran pelaksanaan Kajian Penentuan Daya Tampung Beban Pencemaran Air (DTBPA) Danau Rawapening adalah sebagai bahan pertimbangan bagi pihak-pihak terkait dalam penetapan rencana tata ruang daerah tangkapan air dan pemberian izin kegiatan pemanfaatan danau agar kualitas air danau tetap terjaga. Sedangkan sasaran penyusunan Zonasi Pemanfaatan Perairan Danau Rawapening ini adalah sebagai bahan panduan bagi pemerintah dalam menata pemanfaatan perairan Danau Rawapening.

 

1.3. Pengertian dan Peraturan Perundang-undangan yang terkait

Berikut dijelaskan tentang beberapa pengertian serta peraturan perundang-undangan yang terkait dalam penyusunan daya tampung beban pencemaran air dan penentuan zonasi pemanfaatan perairan Danau Rawapening.

 

1.3.1 Pengertian

Daya Tampung Beban Pencemaran adalah kemampuan air pada suatu sumber air untuk menerima masukan beban pencemaran tanpa mengakibatkan air tersebut menajdi cemar.

Daya Tampung Beban Pencemaran Air Danau adalah kemampuan perairan danau menampung beban pencemaran air sehingga memenuhi baku mutu air dan status trofik.

Zonasi adalah suatu bentuk rekayasa teknik pemanfaatan ruang melalui penetapan batas-batas fungsional sesuai dengan potensi sumberdaya, daya dukung dan proses-proses ekologis. Terdiri dari tahap persiapan, pengumpulan dan analisis data, penyusunan draft rancangan zonasi, konsultasi publik, perancangan, tata batas, dan penetapan dengan mempertimbangkan kajian-kajian aspek ekologi, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat.

 

2 Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Zonasi Danau Rawapening Baku Mutu Air adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air.

Kelas Air adalah peringkat kualitas air yang dinilai masih layak untuk dimanfaatkan bagi peruntukan tertentu.

Status Mutu Air adalah tingkat kondisi mutu air yang menunjukkan kondisi cemar atau kondisi baik pada suatu sumber air dalam waktu tertentu dengan membandingkan dengan baku mutu air atau kelas air yang ditetapkan.

Status trofik adalah status kualitas air danau berdasarkan kadar unsur hara dan kandungan biomassa fitoplankton atau produktivitasnya.

 

Selanjutnya dibaca sendiri… DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN Rawa Pening

GERMADAN_RAWA PENING

Rawapening merupakan danau semi alami yang mempunyai peranan strategis sebagai reseravoir alami untuk PLTA, sumber baku air minum, irigasi, perikanan, dan pariwisata. Namun, pendangkalan terjadi akibat sedimentasi dan erosi serta pertumbuhan tidak terkontrol dari tumbuhan air terutama eceng gondok. Akar permasalahannya adalah pengkayaan danau oleh nutrien terutama nitrogen dan fosfor yang memicu pertumbuhan tidak terkontrol eceng gondok dan perubahan tataguna lahan. Hal tersebut terjadi karena sistem kelembagaan dan implementasi kebijakan yang kurang optimal, dan rendahnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan danau. Guna mengatasi hal tersebut, maka disusunlah grand design Gerakan Penyelamatan Ekosistem Danau (GERMADAN) Rawapening. Tiga pendekatan dirancang untuk mengatasi akar permasalahan yang ada, yaitu: 1) Aplikasi sains dan tehnologi untuk remediasi badan air dan DTA, 2) Pengembangan kelembagaan dalam pengelolalaan danau, dan 3) pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan dan konservasi danau. Ketiga pendekatan secara sinergi saling mendukung dan integratif. Berdasarkan analisis SWOT, maka akar permasalahan Danau Rawapening akan dilaksanakan melalui Program Super Prioritas (Pokok) dan program Prioritas (Penunjang). Program Super Prioritas terdiri dari 6 kegiatan, yaitu: 1) Penanganan eceng gondok; 2) Penanggulangan Lahan Kritis, Erosi, Banjir dan Sedimentasi, 3) Penurunan Kandungan Nutrien Perairan Danau Rawapening, 4) Kajian Limnologi Danau Saat ini dan Rekontruksi Kualitas Air di Masa Lalu, 5) Implementasi Pertanian Ramah Lingkungan, dan 6) Peningkatan Keterlibatan dan Kepedulian Masyarakat dalam Pengelolaan dan Konservasi Danau Rawapening. Program Prioritas terdiri dari 11 kegiatan yaitu: 1) Pengembangan pengelolaan perikanan ramah lingkungan Danau Rawapening., 2) Pengembangan Ipal terpadu, 3) Pengembangan drainase terpadu, 4) Pengembangan pusat penelitian Danau Rawapening, 5) Perencanaan pembangunan kawasan Danau Rawapening berbasis kewilayahan dan kebijakan penanganan eceng gondok melalui pelibatan masyarakat, 6) Pengembangan regulasi /kebijakan pengelolaan Danau Rawapening dan Daerah Tangkapan Air (DTA), 7) Pengembangan kebijakan garis sempadan dan proteksi sumber daya alam, 8) Pengembangan zonasi pemanfaatan Danau Rawapening, 9) Pengembangan pemanfaatan eceng gondok untuk menyelesaiakan problem blooming dan peningkatan pendapatan masyarakat, 10) Pengembangan ekoturisme, dan 11) Pengembangan forum peduli lingkungan. Tujuh belas kegiatan tersebut di atas sangat tergantung pada koordinasi dan kerjasama antar lembaga serta keterlibatan masyarakat. Keberhasilan kegiatan dapat dilihat dari capaian indikator kinerja.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: