Kasus Lingkungan Hidup Di Provinsi Lampung – Kliping Berita Dugaan Pencemaran PT Summit Biomas

Kasus Lingkungan Hidup Di Provinsi Lampung
Contoh Dugaan Kasus Pencemaran Air dan/ atau Udara.
KLIPING BERITA

Berita dari : http://www.harianterbit.com Diunduh tanggal 5 September 2015
(http://www.harianterbit.com/hanterhumaniora/read/2015/05/25/29807/88/40/Perusahaan-Cemarkan-Lingkungan-Warga-Bandar-Lampung-Ngadu-ke-Walhi)
Di Publish Pada Tanggal : Senin, 25 Mei 2015 21:16 WIB
Judul : “Perusahaan Cemarkan Lingkungan, Warga Bandar Lampung Ngadu ke Walhi
Bandarlampung, HanTer – Puluhan warga Kelurahan Campang Raya Kecamatan Sukabumi di Kota Bandarlampung mengadu ke Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Lampung, karena lingkungan sekitar mereka tercemar diduga akibat limbah cangkang sawit milik PT Summit Biomass Indonesia.

Puluhan warga yang tinggal di sekitar Jalan Tirtayasa Kampung Gali ini, datang ke kantor Sekretariat Walhi Lampung di Bandarlampung, Senin (25/5), karena ketidakpercayaan mereka mengadukan masalah pencemaran tersebut kepada satuan kerja atau dinas terkait di daerah ini maupun kepada anggota DPRD setempat.

Perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan limbah cangkang sawit tersebut, diduga telah melakukan pencemaran dan perusakan lingkungan. Akibatnya, sebanyak 410 kepala keluarga (KK) mulai terganggu kesehatannya, bahkan sulit mendapatkan air bersih.

“Wilayah kami dulunya bersih dan udaranya masih segar, bahkan tidak sulit mendapatkan air bersih. Tapi sejak perusahaan ini datang sekitar bulan lima tahun 2013 lalu, suasananya berubah dan dampaknya mulai dirasakan warga dalam beberapa waktu terakhir,” kata Ruhiyat (36), warga Kelurahan Campang Raya.

Dia mengatakan, kondisi saat ini berubah 180 derajat, sehingga warga khawatir akan terjadi sesuatu, mengingat mesin perusahaan itu terus bergerak tanpa henti selama 24 jam. Hal itu sangat mengganggu kenyamanan warga yang tinggal di sekitar perusahaan tersebut.

“Warga mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, air sumur menjadi berbau, dan warna air pun berubah. Bahkan, sudah banyak warga yang mengalami sesak napas dan terinfeksi penyakit kulit,” kata dia.

Ia menegaskan, warga mendesak pemerintah kota (pemkot) Bandarlampung khususnya dinas terkait yang membawahi bidang ini agar kembali melakukan evaluasi, khususnya terkait izin perusahaan tersebut. Bila perlu menutupnya, karena warga sudah sangat tidak nyaman.

Dalam perusahaan itu pun, tanda tangan warga dipalsukan, artinya perusahaan tersebut menurut warga dituding ilegal.

Ketua RT 07 Kampung Gali itu, Mukhlis Hidayat (38) mengatakan, saat pengurusan izin perusahaan tersebut dia bukan ketua RT, tepatnya pada tahun 2013. Namun dia membenarkan bahwa tanda tangan warga dalam pengurusan perizinan gangguan perusahaan itu telah dipalsukan.

Dia membenarkan pula, ketika dilakukan pertemuan beberapa waktu lalu dengan pihak perusahan itu, sempat terjadi ketegangan dan akhirnya mengalami kebuntuan (deadlock).

“Kami sempat deadlock, sebab pimpinan perusahan belum dapat memberikan kepastian atas keinginan dan tuntutan warga sekitar, dan meminta waktu hingga 2 Juni 2015,” katanya.

Perusahaan beralasan untuk menghabiskan bahan baku yang masih menumpuk dan yang sudah diolah habis terjual ke luar negeri serta menunggu persetujuan pemilik perusahaan yang berasal dari Jepang.

Ia menegaskan, permintaan warga setempat menginginkan perusahaan tersebut tidak beroperasi lagi, karena memang keberadaannya dinilai sudah sangat mengkhawatirkan.

Menurut warga, saat ini sudah ada warga yang kini dirawat di rumah sakit, dan ada beberapa warga lainnya yang terkena infeksi saluran pernapasan diduga akibat pencemaran dari limbah perusahaan itu.

Direktur Eksekutif Walhi Lampung Hendrawan mengatakan, setelah pihaknya mendapatkan laporan dari warga secara langsung, segera melakukan investigasi ke lokasi yang dilaporkan.

Hasilnya, memang telah terjadi pencemaran yang diduga kuat dilakukan oleh perusahaan PT Summit Biomass Indonesia itu.

“Ini terlihat dari aroma tidak sedap yang mengganggu, udara yang tercemar dan mengganggu pernapasan warga, pencemaran sumur warga sehingga warna, rasa dan aroma air sumurnya menjadi berubah, serta polusi suara yang mengganggu waktu istirahat warga di sana,” katanya.

Menurut Hendrawan, dalam investigasi tersebut, Walhi Lampung juga sudah mengklasifikasikan dampak buruk keberadaan perusahaan itu, yakni warga RT07 sebanyak 54 KK yang mengalami pencemaran udara, berupa bau yang menyengat dan polusi asap limbah.

Kemudian, warga RT08 sebanyak 197 KK terjadi pencemaran air sumur sebanyak 13 buah sumur, apabila sumur tersebut digunakan badan menjadi gatal-gatal, mengingat airnya sudah tercemar.

Terjadi juga pencemaran udara berupa bau yang menyengat, polusi asap limbah dan suara bising ketika mesin perusahaan beroperasi.

Selanjutnya, dampak pada warga RT09 sebanyak 159 KK telah terjadi pencemaran udara berupa bau yang menyengat, polusi asap limbah dan suara bising ketika mesin perusahaan beroperasi.

Karena itu, warga setempat bersama Walhi Lampung mendesak agar Pemkot Bandarlampung melalui Badan Pengelolaan dan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPPLH) Bandarlampung segera melakukan kajian Amdal yang dimiliki PT Summit Biomass Indonesia tersebut.

“Kami meminta perusahaan tersebut untuk menghentikan operasional perusahaan sampai permasalahan ini selesia. Lalu, Pemkot Bandarlampung segera melakukan penutupan operasional perusahaan, karena telah melakukan pencemaran dan melanggar UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,” katanya.
***

Berita dari : http://haluanlampung.com
(http://haluanlampung.com/index.php/siger/6268-komisi-iii-panggil-pt-summit-biomas)
Diuduh tanggal 5 September 2015
Berita tanggal : 26 Mei 2015

Judul : “Komisi III Panggil PT Summit Biomas

BANDARLAMPUNG-Imbas dari keluhan warga atas pencemaran lingkungan yang ditimbulkan PT Sumit Biomas (SB), komisi III DPRD Bandarlampung akhirnya, akan memanggil pihak management perusahaan yang Mengelola cangkang sawit tersebut. “Ya, kita akan undang pihak perusahaan. Selain itu perwakilan warga juga. Kita akan cari tahu, permasalahan yang terjadi,” kata Wahyu Lesmono, anggota Komisi III DPRD Bandarlampung, selasa, (26/5).

Yang jelas, kata Wahyu, dari data awal sudah didapatkan, bahwa warga sekitar merasa diresahkan atas keberadaan perusahaan tersebut. Artinya pihaknya akan mengkaji sejauh mana dampak kerusakan lingkungan disana. “Kita senang dengan adanya investasi dikota ini.

Namun kita juga tidak ingin ada imbas yang merugikan masyarakat. Nah’ untuk itu kita juga akan undang pihak BPLH, sejauh mana izin AMDAL dari perusahaan tersebut,” kata Politis PAN ini. Kedepan, kata dia, jika lebih besar dampak kerugian bagi masyarakat sekitar atas kehadiran perusahaan itu, maka pemkot Bandarlampung patut mengevaluasi kelangsungan izinnya untuk tidak diperpanjang.

“Bahkan, bila perlu harus tegas, lakukan penutupan jika izin perusahaan itu tidak benar, kan, ada info kalau untuk tandatangan warga saat mengajukan izin ada indikasi pemalsuan,” ujarnya. Namun, yang pasti, ujar Wahyu, pihaknya tidak lari dari jalur Fungsinya untuk melakukan pengawasan.

“Paling lambat minggu depan akan kita panggill, karena kalau dalam minggu ini belum memungkinkan, karena agenda kita sedang padat dan ini juga akan kita komunikasikan dulu dengan ketua Komisi,” terangnya. Sementara itu, Kepala BPLH, Rejab, saat dihubungi melalaui ponselnya, untuk menanyakan izin AMDAL perusahaan tersebut, walau tersambung, namun hanya kalimat’ halo, halo, halo saja yang diucapkan dan hal itu terjadi beberapa kali saat dihubungi kembali. Sementara lewat SMS yang dikirimkan, tidak ada jawaban.

Untuk diketahui, Kehadiran PT. Sumit Biomas membuat warga sangat resah, pasalnya warga setempat yakni warga jalan Tirtayasa, RT 07, 08, dan 09, Lk. 1, kampung Gali, Kelurahan Campang Raya, Sukabumi, merasa lingkunganya tercemar dan merusak lingkungan.

Atas hal itu, puluhan warga, senin (25/5) membawa persoalan tersebut ke Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung. Menurut keterangan perwakilan warga Siti Rohmah (36) warga RT 08, masalah yang timbul di tiga RT datang ketika PT. Sumit Biomas mulai beroperasi sekitar bulan 5 Tahun 2013.

Selain itu, warga mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, air sumur pada bau, dan warna air pun berubah. Bahkan, sudah banyak warga yang mengalami sesak napas dan terinfeksi penyakit kulit. Maka dari itu, saat ini seluruh warga semakin tidak nyaman dengan aktifitas yang dilakukan perusahan tersebut.

”Kami meminta Pemkot untuk mengecek kembali izin perusahaan tersebut. Bila perlu menutupnya, karena jujur kami sudah sangat tidak nyaman, terlebih tanda tangan kami para warga dipalsukan dalam mendirikan pembangunan tersebut,” tukasnya yang dibenarkan warga lainnya.

Sementara, Direktur Walhi Lampung Hendrawan mengatakan, setelah pihaknya mendapatkan laporan dari warga langsung dilakukan investigasi kelokasi yang dilaporkan tersebut. Hasilnya, memang telah terjadi pencemaran yang dilakukan perusahaan PT Sumit Biomas.

”Ya, ini terlihat dari aroma tidak sedap (bau) yang mengganggu, tercemarnya udara (debu) yang mengganggu pernafasan warga, pencemaran sumur warga akibat produksi sehingga warna, rasa, dan aroma berubah. Serta polusi suara yang mengganggu istirahat warga,” bebernya.(ron)
***

Berita dari : http://www.radarlampung.co.id
(http://www.radarlampung.co.id/read/bandarlampung/84393-pemkot-uji-lab-air-sumur-warga)
Diuduh tanggal 5 September 2015
Berita tanggal : Rabu, 27 Mei 2015

Judul : “Pemkot Uji Lab. Air Sumur Warga

Kegiatan Industri Pengolahan Cangkang Sawit PT Summit Biomas

Kegiatan Industri Pengolahan Cangkang Sawit PT Summit Biomas

Termasuk IPAL PT Sumit Biomas
BANDARLAMPUNG – Dugaan pencemaran yang ditudingkan puluhan warga Jl. Tirtayasa RT 07, 08, dan 09/Lk. 1, Kampung Gali, Kelurahan Campangraya, Sukabumi, terhadap PT Sumit Biomas direspons Wali Kota Bandarlampung Herman H.N.

Kemarin (26/5), Badan Pengelolaan dan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPPLH) Bandarlampung diminta untuk menguji sampel air yang diduga tercemar.

’’Sudah saya perintahkan. Saat ini sedang dilakukan pengujian sampel. Selain itu sudah disampaikan juga kepada perusahaan untuk menjaga lingkungan sekitar dengan memperbaiki lingkungan agar tidak kembali tercemar,” katanya kemarin.

Terpisah, Kabid Pengawasan dan Pengendalian dan Penegakan Hukum BPPLH Bandarlampung Cik Ali Ayub membenarkan pihaknya tengah menguji sampel air sumur warga.

Menurut dia, dari hasil pengecekan, izin yang dimiliki PT Sumit Biomas secara legalitas sudah cukup. ’’Mereka memang tidak ada izin analisis dampak lingkungan (amdal). Sebab, perusahaan tersebut belum wajib memiliki amdal,” ujarnya.

Namun, perusahaan yang mengelola cangkang sawit ini sudah memenuhi tiga standar jenis izin. Yakni izin usaha kelola lingkungan dan usaha pengelolaan lingkungan (UKL-UPL). Lalu izin pembuangan air limbah cair (PALC) serta izin penyimpanan sementara bahan berbahaya dan beracun (PSB3).

”Nah, secara legalitas hal tersebut sudah cukup,” tandasnya.

Terkait uji sampel air sumur, ia mengaku sudah mengambil empat sampel. Yakni dua titik di instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) inlet dan outlet. Lalu, satu titik sumur warga yang diduga tercemar dan satu sumur warga yang tidak tercemar sebagai bahan perbandingan apakah air tersebut masih layak konsumsi.

Sampel-sampel itu di uji di dua tempat, yakni Lab. BPPLH dan di Lab. Baristan (Balai Standar Industri) Lampung yang berada di Jl. Soekarno-Hatta sebagai lab. Yang diharapkan akan netral dalam menguji sampel air yang diduga warga tercemar.

”Maka dari itu, kami juga sedang menunggu hasil Lab. Tersebut selama 15 hari kerja. Ya, dimulai hari ini (kemarin, Red),” pungkasnya.

Terpisah, manajemen PT Sumit Biomas melalui Manajer Produksi Azwar Indra memberikan klarifikasi atas tuduhan yang disampaikan kepada perusahaannya.

Menurutnya, izin dalam menjalankan usaha ini sudah disampaikan dan diterbitkan pada 2013. ”Ya bisa dilihat saja sudah terpasang di depan kantor belum ada yang melepas dan menggantinya,” kata dia.

Terlihat, beberapa surat sudah dilengkapinya seperti Tanda Daftar Perusahaan yang disahkan pada 21 Maret 2013, izin Usaha Industri 8 April 2013, izin gangguan 21 Maret 2013.

Dan, izin rekomendasi dari BPPLH Nomor 660.1/742/III.20/2013 tertanggal 27 Maret 2013 sebagai dokumentasi upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup.

Dijelaskannya, pihak perusahaan saat ini sudah memberikan air bersih sejak Jumat (22/5). ”Selain itu ada air isi ulang yang kami berikan kepada warga. Kalau kebisingan coba bapak lihat dan dengar sendiri,” kata dia.

Namun, ia mengakui jika terjadi perubahan warna dan bau kemungkinan hal tersebut terjadi. Tapi, hal ini diklaimnya tidak berbahaya karena zat yang ada di cangkang sawit merupakan zat karbon.

”Kalau zat karbon apa sih yang berbahaya buat lingkungan? Malah, kerap digunakan buat media penyaring yang dipakai kan karbon. Lalu, terkait keluhan asap kita sudah upayakan semaksimal mungkin tidak ada asap,” ucapnya.

Bahkan, menurutnya, saat ini juga pihak perusahaanya sedang meminta rekomendasi dari dokter untuk melakukan pemeriksaan terhadap warga yang sakit. ”Jadi benar tidak itu salah perusahaan kita. Jadi, kami sampai melihatnya ke sana,” kata Azwar di halaman kantornya.

Selain itu, dijelaskannya, pihaknya juga memiliki penampungan limbah sebanyak dua penampungan dan lima sekat. Yakni, di penampungan pertama yang terdiri dari tiga sekat berukuran 1,5 x 3,5 meter. Lalu, di sekat kedua berukuran 3 meter.

Sementara, di pemukiman warga, terlihat air-air yang keruh dan gumpalan limbah yang mengendap di 13 sumur warga. Bahkan, beberapa sumur di antaranya sudah tidak dapat digunakan untuk aktifitas menggunakan air.

Sebab, air terlihat hitam keruh dan saat ini sudah seperti tertimbun kotoran yang jatuh ke dalam sumur. Bahkan, beberapa warga masih berharap ada kejelasan nasib mereka atas pencemaran lingkungan itu.

Syarif (60) mengaku sumurnya sudah tidak dapat digunakan lagi lantaran sudah tidak dapat dipilah air bersihnya. ”Lihat saja hitam pekat airnya mas,” ucapnya.

Senada disampaikan Rudiani (40) warga lainnya. Menurutnya sudah dua tahun sumur di sekitar rumahnya tidak dapat digunakan, dan dari dua tahun tersebutlah baru Jumat (22/5) pihaknya mendapatkan bantuan air dari perusahaan. ”Tapi airnya kuning pertama kali dikasih, tapi kalau sekarang saya rasa bening,” pungkasnya. (goy/p5/c1/whk)

Sumber: http://www.radarlampung.co.id
http://www.radarlampung.co.id/read/bandarlampung/84393-pemkot-uji-lab-air-sumur-warga#ixzz3kspUiZ5k
***

Berita dari : http://www.kupastuntas.co
(http://www.kupastuntas.co/?page=berita&&no=27024#.VesN3MkT9hU)
Diuduh tanggal 5 September 2015
Berita tanggal : 28 Mei 2015

Judul : “Sanksi PT. Summit Biomas Menunggu Hasil Uji Lab
Kupastuntas.co – Penyelesaian kasus dugaan pencemaran yang dilakukan PT Sumit Biomas, masih menunggu hasil uji laboratorium oleh Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Kota Bandar Lampung.
Petugas BPLHD Bandar Lampung sudah mengambil sampel air sumur milik warga Kampung Gali Kelurahan Campang Raya, Kecamatan Sukabumi, yang diduga tercemar limbah cangkang kelapa sawit milik PT Sumit Biomas.Uji lab dilakukan BPLHD, untuk memastikan apakah limbah perusahaan pengolahan kelapa sawit itu betul mencemari sumur warga.
“Kami sudah mengambil sampel air sumur warga, untuk membuktikan apakah memang pencemaran disebabkan limbah perusahaan atau bukan. Kita masih menunggu hasil lab. Karena prosesnya memerlukan waktu sekitar 14 hari,” kata Kepala BPPLHD Bandar Lampung Rejab, Rabu (27/5).
Rejab mengatakan, jika nantinya hasilnya positif, BPPLHD akan memberikan rekomendasi ke Walikota Bandar Lampung Herman HN, untuk selanjutnya menjatuhkan sanksi kepada pihak perusahaan.
“Kami hanya bisa mengusulkan surat rekomendasi sesuai hasil lab ke pak Walikota. Beliau yang akan memutuskan apakah akan menutup perusahaan atau tidak,” terang Rejab.
Di bagian lain, Direktur Eksekutif Walhi Lampung Hendrawan mengimbau, BPPLHD Bandar Lampung melakukan uji lab sampel air sumur warga secara profesional dan tidak mengada-ngada. Serta menginformasikan hasilnya secara transparan kepada masyarakat.
“Kami minta BPLHD harus akurat dalam melakukan uji sampel air sumur. Karena kami lihat di lokasi, sumur warga memang sudah tercemar oleh limbah cangkang sawit dan berbau. Jadi kami meyakini kalau sumur warga sudah tercemar limbah PT Sumit Biomas,” tegas Hendrawan, kemarin.
Hendrawan menegaskan, jika nantinya uji laboraturium tidak sesuai kondisi di lapangan, pihaknya akan melakukan uji sampel tandingan. Selain itu, Walhi juga akan melakukan pertemuan dengan Walikota dan DPRD untuk membahas permasalahan pencemaran limbah tersebut.
Sementara itu, Komisi I DPRD Bandar Lampung, hari ini Kamis (28/5), berencana melakukan peninjauan ke lokasi pengolahan limbah milik PT Sumit Biomas, untuk melihat langsung kondisi di lapangan.
Komisi I juga akan mengecek sumur warga yang diduga dicemari limbah cangkang sawit milik perusahaan.
“Besok kami berencana meninjau lokasi. Kami akan memeriksa izin lingkungannya, apakah terjadi pemalsuan atau tidak. Apakah tanda tangan warga dipalsukan atau tidak. Makanya kami kroscek,” ujar Anggota Komisi I, Dendi, kemarin.
Dendi mengatakan, jika perusahaan terbukti melakukan pencemaran, pihaknya akan membahasnya bersama lintas komisi dan meminta Pemkot menyetop usaha PT Sumit Biomas.
“Jika terbukti melakukan pencemaran, kami tidak segan-segan merekomendasikan ke Pemkot untuk menutup perusahaan,” terangnya.
Dikonfirmasi terpisah, General Manajer PT Sumit Biomas, Azrizal belum mau berkomentar terkait kemungkinan BPLHD menerbitkan rekomendasi menutup perusahaannya. Menurut Azrizal, pihaknya masih menunggu hasil uji lab sampel air sumur warga terlebih dahulu.”Kita lihat dulu hasil uji labnya nanti seperti apa,” katanya. Lalu mengenai rencana Komisi I yang akan turun ke lokasi perusahaan, Azrizal tidak keberatan. “Silakan saja mereka datang,” ujarnya. (Wanda)
***

Berita dari : Radar Lampung Online
(http://www.radarlampung.co.id/read/bandarlampung/84448-komisi-i-cek-izin-pt-sumit-biomas)
Diuduh tanggal 5 September 2015
Berita tanggal : Kamis, 28 Mei 2015

Judul : “Komisi I Cek Izin PT Sumit Biomas

BANDARLAMPUNG – Komisi I DPRD Bandarlampung berencana mengunjungi PT Sumit Biomas di Jl. Pangeran Tirtayasa, Kampung Gali, Kelurahan Campangraya, Sukabumi, hari ini (28/5). Itu dilakukan untuk melihat aktivitas perusahaan yang diduga mencemari lingkungan di RT 07, 08, dan 09/Lk. 1 kampung tersebut.

Namun, kedatangan komisi I bukan terkait persoalan pencemaran, melainkan mengetahui permasalahan yang terjadi di bidang izin lingkungan.

Ketua Komisi I Dedi Yuginta mengatakan, kedatangan mereka untuk memastikan kebenaran informasi pemalsuan tanda tangan warga.

’’Jika hal tersebut benar, sama saja ada pemalsuan surat izin lingkungan rekomendasi dari warga,” ujarnya kemarin.

Karenanya jika memang terbukti, lanjut Dedi, pihaknya akan membahas lintas koordinasi dengan komisi III yang menangani permasalahan limbah. Kemudian rekomendasi dari dua komisi disampaikan ke Pemkot Bandarlampung untuk menyetop pengoperasian perusahaan yang bergerak di cangkang sawit itu.

”Insyallah kami akan datang besok (hari ini, Red) mulai pukul 10.00 WIB,” pungkasnya.

Sementara, Badan Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPPLH) Bandarlampung menegaskan hal yang sama dari hari sebelumnya. Hal tersebut disampaikan kepala BPPLH Rejab.

Menurutnya, sampel lab akan diketahui dalam waktu 14 hari lagi. ”Karena itu prosesnya yang terjadi di Lab. Hingga mencapai waktu paling lama 15 hari kerja,” tuturnya.

Dilanjutkannya, jika memang benar nantinya hasil Lab. sampel air limbah yang diujikan tersebut positif, maka pihaknya akan memberikan arahan kepada Wali Kota Herman H.N. untuk mengambil sikap, apakah akan menutup atau tidak.

”Jadi, nantinya akan kami keluarkan surat rekomendasi dengan wali kota biar diputusakan hasil Lab. tersebut. Namun, kalau soal perizinannya kan sudah disampaikan bahwa perusahaan tersebut sudah mencapai tiga unsur,” tukasnya.

Terpisah, Kasi Pengembangan Jasa Teknis Arif Subagyo dan Kasi Standarisasi dan Sertifikasi Lab. Baristan (Balai Standar Industri) Lampung Samdian belum bisa memastikan apakah tim dari BPPLH sudah mendaftarkan untuk melakukan uji sampel kepada instansinya.

Sebab, menurut mereka berdua tidak ada pengajuan uji Lab. air atas nama intansi BPPLH Bandarlampung. Sehingga kemungkinan diajukan atas nama perorangan.

”Jadi di sini juga prosedurnya bersifat kerahasiaan. Siapa yang datang mengajukan sampel ya dia lah yang akan mengetahui. Jadi, mas coba ajak siapa yang mendaftarkan ke sini. Mungkin saja atas nama perorangan tidak menggunakan instansi,” kata Samdian.

Dia menjelaskan, maksimal untuk mengetahui hasil uji Lab. di instansinya maksimal dapat diketahui 15 hari kerja. ”Karena sebelum di uji kan menunggu proses giliran uji. Jadi, kami dahulukan sampel yang akan diuji yang sudah terdaftar lebih dahulu,” terangnya.

Selain itu, kata Samdian, setelah masuk kedalam tahap uji Lab. Maka hal ini akan diproses dari preparasi, pemeriksaan, verifikasi, dan validasi. ”Bahkan dalam uji tersebut bisa dilakukan dua kali. Sehingga membutuhkan proses selamanya 15 hari kerja,” terangnya.

Lalu, dijelaskannya beda uji. limbah yang akan melihat mikrobiologi yang mencemari suatu media dengan membedakan bahan baku yang terbuat dikatakanya beda.

”Jadi, kalau untuk menguji dan melihat apakah ada mikrobiologi yang berbahaya pada suatu media akan memakan waktu lama, bisa 4-7 hari. Nah, ini yang terjadi dengan uji Lab. Pencemaran air limbah, bisa sampai 14 hari karena proses pengerjaanya mencapai demikian,” paparnya. (goy/c1/whk)

Sumber: http://www.radarlampung.co.id
http://www.radarlampung.co.id/read/bandarlampung/84448-komisi-i-cek-izin-pt-sumit-biomas#ixzz3ksntPYeq
***

Berita dari : http://harianlampung.com
http://harianlampung.com/index.php?k=hukum&i=8846-bpplh-uji-limbah-pt-summit
Diuduh tanggal 5 September 2015
Berita tanggal : 28/5/2015 08:45:20

Judul : “BPPLH Uji Limbah PT Summit

Harianlampung.com – Diam-diam, Badan Pengelola dan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPPLH) Kota Bandarlampung telah mengambil sampel air sumur warga Kelurahan Campangraya, Sukabumi, yang diduga tercemar limbah cangkang sawit milik PT Summit Biomas.

Menurut Kepala BPPLH Bandarlampung, Rejab, pihaknya telah mengambil sampel air lalu membawanya untuk diuji di laboratorium. Hal ini dilakukan untuk memastikan kandungan limbah pada air tersebut, apakah berbahaya atau tidak.

“Sehingga, nanti akan jelas apakah perusahaan itu terbukti mencemari lingkungan atau tidak,” kata Rejab, Rabu (27/5).

Menurutnya, hasil uji lab baru bisa diketahui dalam 14 hari ke depan. Sebab, untuk memeriksa kadar air itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. “Waktunya sekitar 14 hari,” katanya.

Rejab menambahkan, jika nanti hasilnya positif telah terjadi pencemaran, BPPLH tidak serta merta akan merekomendasikan penutupan perusahaan yang terletak di Kelurahan Campangraya, Sukabumi tersebut.

“Kalaupun terbukti, nanti kita hanya sebatas memberi rekomendasi kepada wali kota. Ditutup atau tidaknya itu kebijakan wali kota,” katanya.

Sementara, terkait kelengkapan dokumen perizinan PT Summit Biomas, Rejab memastikan perusahaan tersebut sudah memiliki izin lengkap. Termasuk UKL dan UPLnya.

Terpisah, Komisi I DPRD Bandarlampung pada Kamis (28/5), berencana turun ke lapangan menindaklanjuti dugaan pencemaran lingkungan yang dilakukan PT Summit Biomas.

“Kalau ranah kami, memeriksa izin lingkungannya, apakah terjadi pemalsuan apa tidak, apakah tanda tangan warga dipalsukan apa tidak, makanya nanti kami kroscek,” ujar Ketua Komisi I DPRD, Dendi Yuginta.

Dendi menuturkan, jika memang terbukti, pihaknya akan membahas lintas komunikasi dengan Komisi III, untuk meminta pemerintah Kota (pemkot) menyetop pengoperasian PT Sumit Biomas.

“Ya, kami akan membahasnya, dan akan merekomendasikan pemkot akan menyetop pengoperasiannya,” pungkasnya

Sebelumnya, Manajemen PT Summit Biomas membantah telah melakukan pencemaran lingkungan, yang mengakibatkan sejumlah sumur warga di Jl. Tirtayasa, dari RT 07, 08, dan 09, Lk. 1, Kampung Gali, Kelurahan Campang Raya, Sukabumi, tidak bisa digunakan lagi.

Manajer Produksi PT Summit Biomas, Azwar Indra mengatakan, telah dilengkapinya sejumlah dokumen perizinan oleh pemerintah setempat.

“Kami perusahaan besar, tidak mungkin mencemari lingkungan. Silakan cek pelang Izin usaha kami ada di depan kantor. Sudah terbit sejak tahun 2013,” kata Azwar, saat ditemui di kantornya Selasa, (26/5).

Kepada wartawan, Azwar menunjukkan sejumlah surat diantaranya Tanda Daftar Perusahaan (TDP) yang disahkan pada 21 Maret 2013, Surat Izin Usaha Industri 08 April 2013 dan Izin gangguan 21 Maret 2013.

Azwar juga menambahkan izin rekomendasi dari Badan Pengelolaan dan Pengendalian Lingkunan Hidup (BPPLH) Nomor 660.1/742/III.20/2013 tertanggal 27 Maret 2013 sebagai dokumentasi upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup.

Ditemui di Kantor Produksi PT Summit di Jl. Ir Sutami No. 225 KM 8 Campang Raya. Azwar mengklaim telah memberikan air bersih kepada warga sejak Jumat (22/5) lalu.

”Selain itu ada air isi ulang yang kami berikan kepada warga. Kalau kebisingan coba bapak dengar sendiri, berisik nggak perusahaan kami?” katanya.

Mengenai, perubahan warna dan bau air sumur warga sekitar, Azwar mengakui kemungkinan hal tersebut. Namun Azwar mengklaim zat perubahan tersebut tidak berbahaya karena zat yang ada di cangkang sawit merupakan zat carbon.

”Kalau zat carbon apa sih yang berbahaya buat lingkungan. Malah, kerap digunakan buat media penyaring yang dipakai kan carbon. Lalu, terkait keluhan asap kita sudah upayakan semaksimal mungkin tidak ada asap,” katanya.

Namun, saat wartawan meninjau ke pemukiman warga, terlihat air sumur keruh dan gumpalan limbah yang mengendap di 13 sumur warga. Bahkan, beberapa sumur diantaranya sudah tidak dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Sebab, air terlihat hitam keruh dan saat ini sudah seperti tertimbun kotoran yang jatuh kedalam sumur. Bahkan, beberapa warga masih berharap ada kejelasan nasib mereka atas pencemaran lingkungan itu.

Syarif (60) mengaku sumurnya sudah tidak dapat digunakan lagi lantaran sudah tidak dapat dipilah air bersihnya. ”Hitam pekat airnya mas, lihat saja” ujarnya, saat ditemui di RT 08/LKI, Kampung Gali, Kelurahan Campang Raya, Sukabumi.

Diberitakan sebelumnya, Ratusan warga Jalan Tirtayasa, dari RT 07, 08, dan 09, Lingkungan I Kampung Gali, Kelurahan Campang Raya, Sukabumi, mengeluhkan limbah cangkang sawit, milik PT Sumit Biomas.

Warga yang merasa terganggu bau limbah menyengat dari perusahaan milik investor Jepang itu, akhirnya meminta Wahana Lingkungan hidup (Walhi) Lampung untuk mengadvokasi permasalahan itu.

Menurut Direktur Walhi Lampung, Hendrawan, berdasarkan hasil investigasi lapangan pada Senin (18/5) dan Kamis (23/5), Walhi menemukan pencemaran lingkungan yang dilakukan PT Sumit Biomas.

Dari sampel air yang diambil ada aroma tidak sedap (bau) yang mengganggu. Selain itu, udara (debu) di sekitar lokasi pabrik juga mengganggu pernafasan warga.

“Selain itu, aktivitas pabrik juga mengganggu istirahat warga,” kata Hendrawan, Senin (25/5).

Saat ini, Walhi sudah berhasil mengklasifikasikan 54 Kepala Keluarga (KK) di RT 07 mengalami pencemaran udara, berupa bau yang menyengat dan polusi asap limbah.
(iqbal/andi/mf/eh)
***

Berita dari : Antara News
(http://lampung.antaranews.com/berita/282010/permintaan-tak-dipenuhi-pt-summit-biomass-warga-ancam-demo)
Diuduh tanggal 5 September 2015
Berita tanggal : Senin, 1 Juni 2015 19:06 WIB

Judul : “Permintaan Tak Dipenuhi PT Summit Biomass, Warga Ancam Demo

Bandarlampung (ANTARA Lampung) – PT Summit Biomass Indonesia, perusahaan pengolah cangkang kelapa sawit yang diduga telah mencemari lingkungan warga Campangraya, Sukabumi, Bandarlampung, hingga saat ini belum memenuhi keinginan warga setempat, sehingga warga mengancam akan melakukan aksi demo.

“Warga RT 07 dan RT 08 sepakat akan melakukan aksi demo di depan kantor PT Summit Biomass Indonesia sampai kantor wali kota Bandarlampung,” kata Muchlis, Ketua RT 08 Lingkungan I Campangraya, di Bandarlampung, Senin (1/6).

Dia menyatakan, ancaman aksi warga ini terkait dugaan pencemaraan lingkungan oleh perusahaan itu, serta tuntutan kepada perusahaan yang dikeluhkan warga tidak pernah menyalurkan kepedulian sosial perusahaan (CSR) lingkungan sekitarnya.

Ia mengungkapkan, selama dua tahun perusahaan ini beroperasi nyaris tidak pernah ada manfaat langsung bagi warga sekitar, termasuk tidak merekrut warga sekitar untuk bekerja di perusahaan itu.

“Jadi selama dua tahun beroperasi, perusahaan ini sama sekali belum memberikan CSR-nya. Yang ada baru bantuan air bersih, itu juga minggu-minggu ini setelah ramai diberitakan oleh media massa,” katanya lagi.

Menurutnya, warga setempat mengajukan tiga permintaan atau tuntutan kepada PT Summit Biomass Indonesia, yakni selalu menyediakan bantuan air bersih kepada warga, menyalurkan Program CSR kepada warga RT 08 sebesar Rp50 juta sebulan, dan memperkerjakan sebagian warga sekitar baik sebagai office boy (OB) maupun karyawan di bidang lain di perusahaan tersebut.

“Kami sampai meminta tuntutan Rp50 juta sebulan, karena mereka sudah menyakiti hati warga selama dua tahun ini dengan polusi dan pencemarannya. Jadi kami pantas meminta bantuan tersebut,” katanya lagi.

Dia menegaskan, jika nantinya pihak perusahaan tidak mampu memenuhi permintaan tersebut dalam waktu satu sampai dua hari ini, warga sekitar akan melakukan aksi demo ke kantor PT Summit Biomass Indonesia sampai ke kantor wali kota Bandarlampung.

“Ancaman yang kami berikan bukan gertak sambal. Kami akan mengadu ke Pak Wali Kota soal ini,” kata dia pula.

Secara terpisah Wali Kota Bandarlampung Herman HN mengingatkan, perusahaan seharusnya melaksanakan CSR di lingkungan sekitarnya.

“Seharusnya perusahan kecil maupun besar harus memberikan CSR kepada warga sekitar,” kata dia.

Wali Kota menegaskan, pihak perusahaan wajib untuk memberikan CSR kepada warga sekitar, karena kalau tidak ada CSR bisa jadi termasuk pelanggaran.
***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: