Kliping Penegakan Hukum Lingkungan Segi Pengelolaan Cagar Budaya

1. Berita Media Indonesia, SABTU, 8 NOVEMBER 2014 –
Bedah editorial
Judul : Banyak Cagar Budaya di Gresik Rusak
GRESIK, sebuah kota pelabuhan di pantai utara Jawa Timur, ialah kota tua yang pernah disebut dalam risalah yang ditulis Marcopolo. Penjelajah Eropa itu sempat singgah di Gresik dan melukiskan kesannya dalam buku pengembaraannya. Karena letak geografisnya yang sangat strategis itu, tidak mengherankan apabila di Gresik banyak terdapat bangunan indah dan menarik peninggalan masa lampau. Arsitektur bangunan masa Portugis dan Belanda saya lihat masih banyak di Gresik.
Sayangnya, Pemkab Gresik kurang memahami makna peninggalan peradaban bersejarah ini. Apalagi masyarakatnya juga kurang tanggap dan cenderung hanya mendiamkan ketika terjadi penghancuran besar-besaran.
Sebagai contoh, bangunan rumah sakit yang berarsitektur mirip Istana sudah menjadi Pendopo Kabupaten Gresik di dekat alun-alun. Demikian juga Masjid Jami Gresik yang merupakan perpaduan arsitektur Islam, Jawa, dan Eropa dengan marmer impor yang sangat anggun dan indah sekarang sudah berubah banyak.
Bangunan pertokoan di Jalan H Samanhudi yang dulu bernama Jalan Niaga dan bukti peninggalan sejarah sudah dirombak karena proyek pelebaran jalan. Padahal, bangunan indah masa lalu itu berguna bagi pengembangan pariwisata daerah. Yang juga sangat menyedihkan, gardu listrik di Jalan Basuki Rahmat, yang dulu merupakan sumber bunyi sirene untuk waktu berbuka puasa bagi masyarakat Kota Gresik, dirusak orang untuk berdagang.
Sebagai masyarakat yang melihat apa yang terjadi di Gresik itu, saya sangat sedih. Kenapa PLN sebagai pemilik aset dan pemda sebagai penjaga aset negara diam saja? Bangunan peninggalan zaman Belanda itu sangat indah dan seharusnya perlu dijaga dan keberadaannya dilestarikan sebagai penanda Kota Gresik.
Ada satu lagi, Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik akan direnovasi. Pemda yang merencanakannya dan meminta masukan dari warga. Pemda berpendapat, GNI dibangun pada 1960-an sehingga bukan merupakan cagar budaya. Hal itu perlu diluruskan. Bangunan cagar budaya bukan selalu yang dibangun masa kerajaan dan penjajahan saja. Bangunan yang bernilai sejarah karena proses pembangunannya, asal arsiteknya, mutu arsitekturnya, siapa yang berinisiatif, dan sebagainya juga merupakan pertimbangan perlu dipertahankan atau tidaknya suatu bangunan. GNI dibangun setelah masa kemerdekaan, oleh anak bangsa Indonesia. Gedung itu sangat bermakna bagi masyarakat Gresik yang memerlukan tempat untuk pertemuan, pesta, dan olahraga. Masyarakat Gresik memiliki kenangan terhadap gedung yang cukup megah dan indah tersebut. Karena itu, bentuk aslinya wajib dipertahankan demi menghargai karya para pendahulu. Kalau mau direnovasi, kembangkan saja bagian kiri, kanan, dan belakang bangunan. Ada juga stasiun penghubung Gresik-Surabaya yang dibangun Belanda. Kenapa tidak dipergunakan lagi ketika Kota Gresik menjadi maju dan masyarakat pengguna semakin banyak? Untuk keperluan pariwisata dan mengurangi kemacetan, Pemkab Gresik perlu melobi PT KAI untuk menghidupkan kembali jalur kereta api itu.
Muhammad Sadji
Jl Cempaka 3/60 Jatikramat Indah I Bekasi 17421

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: