Klipping-Pengendalian Pencemaran

900 perusahaan di Malang tak kelola limbah
Senin, 9 Januari 2012 08:18 WIB | 1398 Views

Malang (ANTARA News) – Sedikitnya 900 perusahaan besar dan kecil yang beroperasi di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, tidak mengelola limbahnya dengan benar. Perusahaan-perusahaan itu terancam dijatuhi sanksi oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH).

Kepala BLH Kabupaten Malang Cholis Bidajati, Senin mengakui, dari 1.300 perusahaan di daerah itu, sekitar 900 membuang limbah industrinya ke sungai.

“Hasil dari verifikasi yang kami lakukan di lapangan, sekitar 900 perusahaan membuang limbahnya ke sungai atau tempat-tempat lain tanpa proses pengelolaan yang benar,” tegasnya.

Jika musim hujan, katanya, akan kelihatan sekali karena air sungai yang meluap dengan mudah memperlihatkan kalau air tersebut sudah tercampur dengan limbah.

Cholis mengemukakan, rata-rata perusahaan yang tidak mengelola limbahnya dengan benar itu tidak memiliki Upaya Pemantauan Lingkungan (IPL) dan Upaya Kelola Lingkungan (UKL).

Artinya, lanjut Cholis, perusahaan tersebut tidak mengurus dokumen pengelolaan air limbah atau analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dan dalam waktu dekat ini akan dilakukan penertiban.

Penertiban tersebut, lanjutnya, berupa teguran tertulis. Penertiban itu dilakukan BLH agar perusahaan tidak membuang limbah hasil produksinya di sembarang tempat, terutama sungai, sebab limbah industri yang dibuang di sungai rata-rata bercampur zat kimia yang merusak lingkungan.

“Mulai tahun ini kami mulai melakukan langkah penertiban dengan memberikan teguran tertulis yang selanjutnya berupa sanksi sesuai UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup,” tegasnya.
(ANT)

Editor: AA Ariwibowo

COPYRIGHT © 2012

Limbah pencemar sungai terpusat di Jawa
Kamis, 17 November 2011 23:25 WIB | 2922 Views

Yogyakarta (ANTARA News) – Pulau Jawa dengan kepadatan penduduk yang tinggi menjadi penyumbang limbah terbanyak yang mencemari sungai di Indonesia.

Humas Bremen Overseas Research and Development Association (BORDA) Asia Tenggara Erny Mardhani saat dihubungi di Yogyakarta, Kamis, mengatakan, volume limbah di Pulau Jawa yang besar semakin sulit dikelola, sehingga mencemari lingkungan.

“Limbah yang mencemari lingkungan di Pulau Jawa bervariasi, berupa limbah padat dan cair,” katanya.

Ia mengatakan limbah di Pulau Jawa berasal dari industri maupun rumah tangga yang banyak mencemari sungai dan danau.

“Limbah yang dihasilkan industri dan rumah tangga hampir sama volumenya. Bedanya limbah industri lebih berbahaya karena mengandung zat kimia,” katanya.

Ia mengatakan pencemaran lingkungan dari limbah rumah tangga di sekitar sungai, contohnya adalah pembuangan limbah sabun setelah mencuci, sampah, dan berupa kotoran manusia.

“Fasilitas yang belum memadai, seperti minimnya MCK membuat orang kurang memperhatikan kebersihan lingkungan, sehingga buang air besar sembarangan,” katanya.

Menurut dia, dampak jangka panjang dari limbah yang mencemari sungai adalah mencemari permukiman warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai.

“Sanitasi lingkungan yang kurang baik berdampak bagi kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar sungai,” katanya.

Ia mengatakan berdasarkan data pemerintah, Indonesia selama ini belum mencapai target dalam pengurangan limbah agar sesuai standar dalam deklarasi MDG`s, atau sasaran pembangunan milenium 2015.

“Indonesia saat ini masih berada di posisi 52 persen pengurangan produksi limbah. Sedangkan, sesuai standar MDG`s, pengurangan produksi limbah adalah 64 persen,” katanya.

Menurut dia, BORDA sebagai salah satu organisasi nonpemerintah yang peduli terhadap sanitasi lingkungan berupaya memberikan kemudahan masyarakat untuk mengakses toilet dengan cara membangun toilet berbasis masyarakat di 500 lokasi di seluruh Indonesia.

“Kami sebut sanitasi masyarakat, karena satu bangunan mampu menampung 400 orang,” katanya.

Ia mengatakan bangunan ini hanya diperuntukkan bagi wilayah yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi.

Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), BORDA telah mendirikan sanitasi masyarakat di Kabupaten Sleman, di antaranya di Kecamatan Ngaglik, dan Desa Minomartani.

(ANT-293/M008)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2011

Walhi surati Bappenas terkait limbah Newmont
Selasa, 6 Desember 2011 15:42 WIB | 2048 Views

Jakarta (ANTARA News) – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Eksekutif Nasional menyurati Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) terkait pembuangan limbah (tailing) PT Newmont Nusa Tenggara ke laut di Teluk Senunu, Nusa Tenggara Barat.

“Kami menyurati Bappenas meminta penjelasan tentang komitmen pelaksanaan strategi dan rencana aksi keanekaragaman hayati Indonesia (2003-2020,” kata Manajer Kampanye Tambang dan Energi Walhi, Pius Ginting di Jakarta, Selasa.

Surat yang ditandatangani Pius Ginting tersebut ditujukan kepada Deputi Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas bidang Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup, Endang Murniningtyas.

Dalam surat tersebut, Walhi juga menanyakan hambatan utama hingga program, peningkatan konservasi dan rehabilitasi keanekaragaman hayati lewat penghentian pembuangan limbah tambang ke laut gagal dicapai hingga saat ini.

“Kami juga mengharapkan tindak lanjut Bappenas untuk peningkatan konservasi dan rehabilitasi keanekaragaman di lokasi pembuangan limbah tambang ke laut dan sungai,” kata Pius.

Strategi dan rencana aksi keanekaragaman hayati Indonesia 2003-2020 yang dibuat pada 2003 oleh Bappenas telah menyatakan bahwa teknologi pembuangan limbah pertambangan ke bawah permukaan laut sudah harus dihentikan sejak 2004.

Dengan keluarnya strategi dan rencana aksi tersebut, izin perusahaan tambang yang melakukan pembuangan limbah ke permukaan laut harus dicabut sejak itu juga.

Sejak tujuh tahun setelah dikeluarkan strategi dan rencana aksi, Newmont membuang limbah tambang sebanyak 140.000 ton per hari ke Teluk Senunu, atau 21 kali sampah harian kota Jakarta.

Teluk Senunu dan kawasan sekitarnya masuk ke kawasan segitiga terumbu karang, salah satu kawasan yang memiliki keanekragaman hayati terbesar di dunia dimana ditemukan lebih dari 75 persen spesies terumbu karang yang telah dikenal di dunia terdiri dari sekitar 600 spesies koral.

Di kawasan segitiga terumbu karang Teluk Senunu itu juga terdapat sekitar 3.000 jenis spesies ikan.

Pembuangan limbah tailing Newmont ke Teluk Senunu diperkirakan sebagai pembuangan limbah ke permukaan laut terbesar di dunia.

Kajian lain, Extractive Industry Review diinisiasi Bank Dunia pada tahun 2000 menyatakan pembuangan limbah ke laut seharusnya tidak boleh dilakukan hingga dibuat riset yang seimbang dan tidak bias, akuntabel pada pemangku kebutuhan dan terbukti keamanannya.

Sebelumnya Walhi dan Pemkab Sumbawa Barat juga telah menggugat Kementerian Lingkungan Hidup ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTUN) terkait perpanjangan izin pembuangan tailing yang diberikan kepada Newmont.

Sidang pertama gugatan tersebut sudah dimulai pada 27 September 2001 di PTUN Jakarta Timur.

(D016/A011)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: