Penegakan Hukum Era pemerintahan SBY

Kamis, 28/07/2011 16:53 WIB
Samuri, Korban Mafia Hukum Mengadu ke DPR
Elvan Dany Sutrisno – detikNews

Jakarta – Samuri Bin Darimin (35) warga Trenggalek, Jawa Timur, yang merasa menjadi korban mafia hukum mengadu ke DPR. Ia ditemui Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso.

“Saya Samuri Bin Darimin petani desa di Trenggalek, lulusan SD, buta hukum, korban mafia hukum mencari keadilan di Jakarta,” ujar Samuri yang mengenakan jaket cokelat.

Hal ini disampaikan Samuri dalam konferensi pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (28/7/2011).

Samuri telah divonis oleh Pengadilan Negeri Kabupaten Trenggalek dengan hukuman pidana 16 bulan kurungan dan denda Rp 500.000 karena menjual tanah dan batu dari lahannya sendiri. Ia tak tahu kalau batu dan tanah yang dijualnya mengandung mineral.

“Saya mengambil batu dan tanah sawah saya dari tanggal 13 Mei 2010 sampai tanggal 16 Juni 2010 mengumpulkan 250 karung dan 5 ton batu yang saya jual Rp 1.250.000 dikurangi ongkos truk Rp 200.000 sehingga saya mendapat hasil Rp 1.050.000. Selama lebih kurang 34 hari saya pergunakan untuk membiayai sekolah dan keluarga saya,” tutur Samuri.

Samuri sudah meminta dukungan ke MA namun tidak digubris. Bahkan ia diusir Satpol PP setelah 18 hari menginap di depan kantor MA. Padahal ia tak pernah tahu ada kandungan mineral di tanahnya.

“Atas perbuatan saya yang mengambil batu di tanah saya tersebut saya didakwa melakukan penambangan dan diadili dengan tuduhan melanggar pasal 158 jo pasal 67 UU No 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral karena batu yang saya ambil katanya mengandung tembaga (Cu) sebesar 0,03 persen,” tutur Samuri.

Samuri pun sudah mengajukan Kasasi. Namun karena tak tahu kapan kasasi diputus, ia terlambat mengajukan memori kasasi atas keputusan yang sama. Tak hanya itu saja, Samuri pun sempat dirayu salah seorang jaksa laki-laki, layaknya kekasih.

“Saya dicolek terus disuruh lepas baju sama jaksa Trenggalek namanya Pak BS. Setiap disuruh saya lari, katanya kalau nggak mau saya naikkan masalah kamu. Setelah itu permasalahan saya dinaikkan. Saya sudah membayar sama orang Polres Rp 3 juta tapi tetap saja kasus jalan terus,” tuturnya sambil tersenyum.

Menanggapi ini Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso akan segera meluruskan ke Kejati dan Kejagung. “Saya akan menelepon Pak Kajati. Intinya ada perlakuan demikian miris yang namanya Trenggalek itu nun jauh disana, ini layak kita angkat menjadi potret kebopengan hukum kita. Kita harap Kejagung memperbaiki itu semua,” tutur Priyo.

Ia juga meminta MA mengambil tindakan tegas. “Saya minta MA segera koreksi hakim yang bermain di belakang layar. Termasuk jaksa dan polisi harus diperiksa,” tegasnya.

(van/rdf)

Kamis, 28/07/2011 17:11 WIB
Samuri Mengadu Pada Priyo Dicium Jaksa Laki-laki
Elvan Dany Sutrisno – detikNews

Jakarta – Samuri Bin Darimin (35) warga Trenggalek, Jawa Timur, yang merasa menjadi korban mafia hukum mengadu ke DPR. Selain diperlakukan tak adil dalam proses hukum, dia juga bertemu jaksa laki-laki berkelakuan nyentrik.

“Selama sebulan setiap hari Senin dan Kamis waktu wajib lapor sebelum sidang kita selalu lapor ke Jaksa. Nah saya diraba-raba sampai disuruh membuka baju dan dicium sama Pak BS. Kalau sudah diminta membuka baju itu saya lari,” kenang Samuri yang baru saja ditemui Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso sambil tersenyum.

Hal ini disampaikan Samuri dalam konferensi pers bersama Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (28/7/2011).

Samuri yang divonis Pengadilan Negeri Kabupaten Trenggalek dengan hukuman pidana 16 bulan kurungan dan denda Rp 500.000 karena menjual tanah dan batu yang ternyata mengandung mineral tembaga ini, mengalami hal tersebut cukup lama. Yang melecehkannya adalah jaksa di Trenggalek berinisial BS.

“Itu ada tiga bulan. Saya dilecehkan. Saya dipanggil ke kontrakannya, saya kan dimintai uang kalau nggak bayar kasusnya mau dinaikkan. Saya nggak ngasih uang, setiap sore saya ditelepon untuk datang dan saya harus sendiri. Dia bugil mondar-mandir, saya diajak ke tempat tidur saya tidak mau, kemudian saya diajak jalan-jalan di alun-alun dan saya yang disuruh membayar,” keluh Samuri yang berpotongan pendek dan memakai jaket cokelat pinjaman ini sambil tersenyum.

Karena ia terus menolak, kasusnya berjalan cukup cepat. Sekalipun ia sudah membayar Rp 3 juta ke oknum Polres Trenggalek.

“Setelah itu permasalahan saya dinaikkan. Saya sudah membayar sama orang Polres Rp 3 juta tapi tetap saja kasus jalan terus. Saya sudah menginap 18 malam di MA sampai diusir oleh Satpol PP. Maka itu hari ini saya menyampaikan ke pimpinan DPR,” tandasnya.

(van/rdf)

Kamis, 28/07/2011 18:59 WIB
Samuri: Salahkah Mengambil Batu & Tanah di Sawah Saya Sendiri?
Elvan Dany Sutrisno – detikNews

Jakarta – Samuri bin Darimin (35) sengaja meninggalkan kampung halamannya di Trenggalek, untuk menuntut keadilan ke Jakarta. Banyak pertanyaan di benaknya, salahkan petani mengumpulkan batu di sawahnya sendiri?

Sejumlah pertanyaan besar memang muncul di benak bapak satu anak asal Dusun Kacangan RT 28 RW 09 desa Sumurup, Kecamatan Bendungan, Trenggalek, Jawa Timur ini. Ia berharap nekat ke Jakarta membawa hasil yakni keadilan.

“Apakah saya bersalah mengumpulkan batu di sawah saya sendiri yang hanya saya lakukan sekali? Apakah layak saya yang hanya mengumpulkan batu sekali saja di tanah sawah saya sendiri selama lebih kurang 34 hari tanpa menggali dan batu yang saya ambil hanya mengandung tembaga 0,03 persen disebut melakukan pertambangan ilegal?” tanya Samuri dengan raut muka sedih.

Hal ini disampaikan pria kerempeng berambut ikal ini dalam konferensi pers usai ditemui Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (28/7/2011)

Samuri memang didakwa dengan pasal 158 jo 67 UU No 04 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara. Ia kini sudah divonis 16 bulan kurungan dan denda Rp 500.000 karena perbuatan yang menurutnya tidak melanggar hukum itu.

“Di Kabupaten Trenggalek berdasarkan kesaksian di bawah sumpah saudara Dwiyono ST dari Dinas Pertambangan Kabupaten Trenggalek menerangkan bahwa daerah tanah saya bukan wilayah pertambangan, maka layakkah saya yang hanya mengambil batu tanpa menggali di tanah saya sendiri dianggap menambang?” keluh pria yang mengenakan jaket pinjaman ini.

Selama proses hukum, ia banyak sekali menjadi korban mafia hukum. Dari dimintai uang polisi, jaksa, hingga diajak berhubungan sejenis oleh salah seorang jaksa. Kini ia jauh-jauh ke Jakarta untuk meminta keadilan.

“Kedatangan saya ke Jakarta ini dengan harapan agar bapak Ketua KA, Bapak Jaksa Agung, dan Bapak Kapolri memberi perlindungan hukum kepada saya yang buta hukum dan buta ilmu. Mohon beri saya kejelasan dan keadilan,” pinta ustad guru ngaji ini.

(van/rdf)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: