Wisata Kuliner dan Konservasi Sumber Daya Hati dan Ekosistem Laut

Ikan dan proteinnya memang sangatlah penting untuk perkembangan manuisa Indonesia yang sehat Jasmani. Kebutuhan komsumsi ikan masyarakat Indonesia memang harus ditingkatkan karena komsumsi masyarakat kita sangat jauh dibandingkan dengan negara Jepang.

Namun hal tersebut, tentu saja harus memperhatikan aspek-aspek kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Sebab, keberlanjutan kelestarian tersebut juga akan menentukan keberlanjutan kehidupan ikan-ikan yang akan kita komsumsi.

Menurut WWF, berdasarkan data Pusat Riset Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun lalu, 55% sumber daya ikan Indonesia sudah berstatus overexploited atau sudah tereksploitasi secara berlebihan.

Lsm Kiara juga menyampaikan bahwa, berdasarkan data-data KKP, saat ini sudah ada sembilan zona perikanan yang terksploitasi penuh, di antaranya Selat Malaka, Laut Jawa, Laut Banda, perairan bagian barat Sumatra, dan bagian selatan Jawa.

Kondisi kelestarian laut dan sumber daya yang genting tersebut, semakin diperparah dengan selera lidah masyarakat kelas atas, yang hobi memakan berbagai jenis hewan “kelas atas” (langka). Kebudayaan tersebut semakin subur dengan tumbuhnya berbagai daerah wisata pesisir, yang mengandalkan wisata kuliner berbahan hewan-hewan kelas atas tersebut.

Banyak tempat wisata laut yang menyediakan menu hewan-hewan yang terancam punah. Selain itu, hewan-hewan yang masih kecil dan belum layak dikomsumsi, hanya untuk memenuhi “kenikmatan lidah” para wisatawan.

Parahnya lagi, tidak jarang yang menghancurkan kawasan hutan bakau untuk dijadikan tempat wisata laut. Kemudian tak jarang pula yang mengkomersialisasikan keberadaan terumbu karang serta pernak-pernik khas laut, untuk dijual kepada para wisatawan.

Hal inilah yang kemudian menjadi landasan WWF untuk mengeluarkan program seafood guide. Seafood Guide diwujudkan dengan bentuk kategori tangkapan yang perlu dihindari, di antaranya ikan barakuda, baronang, bawal hitam, bawal putih, butana, cumi, dugong, hiu, kakap putih, kuda laut, kuniran, kurau, kurisi, lumba-lumba, mata tujuh, penyu dan telur penyu, ikan sembilan, telur ikan, triton, trochus, ikan tuna sirip biru, dan udang.

Sayangnya, selama ini masyarakat Indonesia masih belum memperhatikan kelestarian lautnya. Kotornya seluruh pesisir yang ada di perkotaan serta hancurnya berbagai hutan bakau, menjadi indikator yang sulit untuk dinafikkan.

Sudah saatnya, kondisi kelestarian laut menjadi perhatian negara yang 2 per 3 bagiannya terdiri atas laut. Pemerintah jangan bisanya Cuma menghimbau untuk mengkomsumsi ikan, tanpa memikirkan keberlanjutan keberadaan ikan.

Pemerintahnya goblok kabeh….

Sumber : Media Indonesia,”Dilema Kuliner Laut”, 5 Juni 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: