Kekerasan Aparat Kepolisian

Enam Petani Ditembak, Dua Aparat Luka

Minggu, 16 Januari 2011 | 03:10 WIB

Jambi, Kompas – Enam petani plasma tertembak aparat ketika memanen sawit di kebun plasma yang bermitra dengan PT Kresna Duta Abadi di Desa Karang Mendapo, Kecamatan Sarolangun, Kabupaten Sarolangun, Jambi, Sabtu (15/1). Tujuh petani lainnya hingga sekitar pukul 16.00 masih diperiksa di kantor Kepolisian Resor Sarolangun.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, konflik antara petani dan aparat di kawasan tersebut memanas sejak sepekan terakhir. Petani yang memanen sawit, dicegat aparat kepolisian. Buah sawit mereka kemudian disita.

Konflik antara petani plasma dan PT Kresna Duta Abadi (KDA) bermula ketika terjadi hubungan kemitraan tahun 2003. Petani mendapat janji memperoleh kembali lahan mereka lima tahun setelah tanaman sawit tumbuh. Namun, hingga tahun 2009, konversi lahan tidak juga diberikan perusahaan kepada petani. Ini mengakibatkan aksi protes petani hingga berulang kali. Petani yang memanen sawit di lahan plasma kerap ditahan aparat, lalu sawitnya disita.

Minggu sekitar pukul 10.00, sejumlah petani yang memanen sawit kembali dihadang aparat Brigade Mobil (Brimob) Polda Jambi. Polisi kembali akan menahan sawit yang dipanen petani, namun petani menolak. Sempat terjadi negosiasi antara sejumlah petani dan aparat. Namun belum lagi proses selesai, terjadi bentrok, antara seratusan petani di sekitar kebun dengan 30-an polisi yang berjaga. Sejumlah petani melukai dua polisi hingga luka pada bagian lengan dan punggung.

Melihat itu, polisi langsung melepaskan tembakan, dan mengenai enam petani. Para korban yaitu Nurdin, Fahmi, Saiful, Munawir, Suhen, dan Agus, langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Sarolangun. Sekitar satu jam kemudian, para korban dibawa ke RSU Raden Mattaher, Kota Jambi. ”Kami sangat kecewa, kenapa para petani yang tengah memanen sawit di lahannya sendiri malah ditembaki aparat,” tutur Rusdi Karmen, Kepala Desa Karang Mendapo.

Menurut Rusdi, selama ini petani di wilayahnya tidak pernah bersikap anarkis. Pihaknya menolak anggapan bahwa petani menyerang polisi lebih dulu.

Kepala Kepolisian Resor Sarolangun Ajun Komisaris Besar Rosidi menyatakan, petanilah yang lebih dulu menyerang polisi dengan alat panen sawit. ”Personel kami melakukan upaya pengamanan dengan cara menembakkan senjata ke udara, karena petani mulai rusuh.”

Setelah bentrok terjadi, menurut Rosidi, pihaknya langsung menarik pasukan dari lokasi. Aparat kini hanya berjaga di kamp milik PT KDA.
Namun hingga Sabtu petang, tercatat tujuh orang petani dibawa dan diperiksa di Polres Sarolangun. Mereka adalah Nawawi, Afrizal, Thamrin, Bruri, Lia Jayanti, Hasan, dan Sofiati. (ITA)

sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/01/16/03103894/enam.petani.ditembak.dua.aparat.luka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: