Kekerasan Oleh TNI

Kekerasan Oleh (Tentara Nasional Indonesia) TNI

Jenazah Derek Adi Diarak Keliling Manokwari – Penulis : Sidarman – Media Indonesia – Selasa, 17 Mei 2011

MANOKWARI–MICOM: Ratusan orang menjemput jenazah Derek Adi, 27, korban penganiayaan yang diduga dilakukan aparat TNI di Nabire, Papua, Senin (16/5) siang, di Bandar Udara Rendani, Manokwari, Papua Barat. Massa yang merupakan keluarga, rekan korban, serta sejumlah warga telah berkumpul di sekitar terminal kedatangan bandara sejak pagi.

Awalnya, pesawat milik maskapai Susi Air yang khusus dicarter untuk membawa jenazah korban direncanakan mendarat di Manokwari pada pukul 11.00 WIT. Namun, karena proses pemberangkatan jenazah di Bandara Nabire tertunda. Akhirnya pesawat baru tiba di Manokwari pukul 14.30.

Massa yang awalnya hanya duduk di sekitar terminal kedatangan akhirnya berupaya menyerbu masuk ke sekitar landasan. Beberapa orang juga terlihat mengamuk dan menjebol pagar pembatas landasan pacu.

Puluhan aparat gabungan dari Kepolisian Resor Manokwari dan Komando Daerah Distrik Militer 1703 Manokwari tidak mampu membendung amukan massa. Usai menurunkan peti jenazah dari pesawat, ratusan orang tersebut kemudian mengarak jenazah keliling Kota Manokwari.

Massa, yang dikawal ketat petugas, membawa jenazah melintasi jalan-jalan utama di Manokwari. Sembari membentangkan spanduk yang berisi sejumlah tuntutan, beberapa rekan korban juga berorasi mengecam dan mengutuk keras tindakan brutal aparat yang mengakibatkan korban Derek Adi meninggal. (OL-5)

Ditegur Merokok, Oknum TNI Bunuh Manajer Kafe
Selasa, 4 Oktober 2011 | 12:16 WIB

AKARTA, KOMPAS.com — Kekerasan oleh anggota TNI terhadap warga sipil kembali terjadi. Kali ini, kekerasan oleh sekolompok anggota TNI hingga menimbulkan korban jiwa bernama Pardamean Tampubolon di daerah Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu (4/6/2011). Keluarga korban melaporkan kasus tersebut ke Komnas HAM, hari ini.

“Janji pemerintah untuk turut mereformasi TNI ternyata manis di bibir saja. Peristiwa kekerasan anggota TNI sampai tindakan mengambil nyawa warga sipil masih terus terjadi,” ujar Saibun Manurung, Koordinator Divisi Hukum Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) sekaligus kuasa hukum korban di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Selasa (4/10/2011).

Saibun menjelaskan, kejadian pembunuhan Pardamean Tampubolon, seorang manager di Holand Cafe, Cibubur, itu bermula dari perselisihan kecil. Menurut Saibun, saat itu Pardamean menegur sepuluh anggota TNI yang merokok di dalam kafenya.

Namun, teguran Pardamean dibalas dengan pengeroyokan dan berakhir dengan penusukan di bagian dada. “Sudah hampir empat bulan kasus ini, tapi sampai sekarang belum mendapat kejelasan. Polisi Militer terkesan masih enggan mengusut kasus ini karena hanya menetapkan satu tersangka saja bernama Chandra Sakti, anggota TNI AD Kesatuan Brigif 17,” kata Saibun.

Saibun mengatakan, proses penyidikan yang dilakukan Polisi Militer Daerah Militer/Jayakarta terkesan tertutup dengan tidak pernahnya keluarga korban mendapatkan informasi perkembangan kasus tersebut.

Menurutnya, sepuluh anggota TNI tersebut seharusnya dimintai keterangan karena sebelum korban dibunuh sudah mendapat luka-luka di badan dan bibirnya. “Ini harus dituntut tuntas, apalagi mengingat korban mempunyai seorang istri dan anak berumur tiga tahun yang harus melanjutkan hidup tanpa suami dan ayah mereka,” kata Saibun.

Oleh karena itu, lanjut Saibun, keluarga dan PBHI menuntut kepada panglima TNI untuk segera menghukum anggota TNI yang melakukan tindak pidana pembunuhan tersebut. Menurutnya, hingga hari ini tindak lanjut kasus pembunuhan tersebut belum jelas karena belum ada informasi, baik ke keluarga korban maupun ke PBHI.

“TNI juga harus memberikan kompensasi terhadap keluarga korban. Korban adalah tulang punggung keluarga. Jika memang ada tindak lanjut, maka harus dibuka secara transparan, demi tegaknya hukum dan HAM serta terpenuhinya rasa keadilan,” ucap Saibun.

Kronologi Pembunuhan Manajer Kafe oleh Oknum TNI
Ary Wibowo | Heru Margianto | Selasa, 4 Oktober 2011 | 12:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kekerasan hingga memakan korban jiwa yang dilakukan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) terhadap warga sipil kembali terjadi. Kasus pembunuhan terhadap warga sipil bernama Pardamean Tampubolon (29) oleh anggota TNI pada 4 Juni 2011 tersebut berawal dari adu mulut antara korban dan sepuluh anggota TNI di Cafe Holand, Cibubur, Jakarta Timur.

Berikut kronologi kasus pembunuhan terhadap Pardamean.

3 Juni 2011 sekitar pukul 23.00 WIB, 11 anggota TNI berpakaian bebas mendatangi Cafe Holand. Salah satu anggota TNI kemudian memesan minuman dengan budget Rp 1,5 juta.

Setelah menghabiskan 11 botol minuman, beberapa anggota TNI tersebut kemudian turun ke arena dansa. Adu mulut bermula ketika salah satu anggota TNI ditegur oleh korban karena merokok di arena dansa. Merasa tak menerima, anggota TNI itu melakukan pemukulan terhadap korban.

4 Juni 2011 sekitar pukul 00.30 WIB, keributan di dalam kafe masih berlangsung. Kemudian korban keluar kafe untuk mengadukan bahwa dirinya sedang dianiaya kepada kakaknya yang bernama Yuli Edi Tomson, yang saat itu berada di warung sebelah kafe.

Edi lantas masuk ke dalam kafe, berupaya menahan puluhan anggota TNI tersebut keluar untuk mencari korban. Perang mulut kembali terjadi. Korban sempat mempertanyakan tindakan anggota TNI tersebut.

Namun, salah satu anggota TNI bernama Chandra Sakti, mengeluarkan sangkur (pisau) lalu menusukannya ke arah jantung korban. Setelah itu, anggota TNI tersebut membuang pisaunya dan menjauh dari lokasi kejadian. Korban sempat meminta tolong kepada kakaknya yang masih berada di dalam kafe.

4 Juni 2011 sekitar pukul 00.45, setelah mengetahui adiknya ditusuk, Edi bersama rekan korban bernama Ricardo langsung melarikan korban ke Rumah Sakit Melia, Cimanggis. Namun, nyawa korban tidak tertolong lagi.

Setelah kejadian penikaman tersebut, pelaku bernama Chandra ditangkap warga di sekitar kafe. Pelaku langsung diserahkan kepada Polsek Cimanggis beserta barang bukti pisau yang digunakan untuk menikam korban.

Dikatakan Edi, beberapa hari setelah kejadian, dirinya sempat mendatangi Detasemen Polisi Militer TNI di Cijantung untuk menanyakan kelanjutan laporan pembunuhan adiknya. Namun, menurut Edi, hingga saat ini dirinya tidak pernah mendapat informasi lebih lanjut kasus tersebut.

“Saya sempat bertemu dengan Letnan Durajak, tapi dia menyuruh saya bertemu dengan Kapten Nova di Brigif 17. Tapi, ketika saya ke sana, tidak ada tanggapan mengenai kasus ini dan soal ganti rugi untuk keluarga korban,” tutur Edi.

Sementara itu, anggota Subpemantauan dan Penyelidikan Pelanggaran HAM, Komnas HAM, Jhony N Simanjuntak, berjanji akan mengupayakan pengusutan kasus pembunuhan tersebut.

Ia menilai, beberapa kasus jika berkaitan penegakan hukum dari satuan militer agak sulit dihadapi dan selalu berakhir dengan kebuntuan.

“Yang jelas, meskipun pelakunya militer, tapi dia tidak dalam rangka menjalankan tugas karena berpakaian bebas. Ini adalah kesalahan besar bagi TNI. Jadi kita akan terus dampingi kasus ini, begitu pun juga dengan kasus-kasus kekerasan lain yang dilakukan oknum militer,” kata Johnson.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: