Kantor Polisi, Menyeselaikan ataukah Menjadi Masalah

Kantor Polisi, Menyeselaikan ataukah Menjadi Masalah

Tulisan ini dimaksudkan agar pembaca dapat mengantisipasi apabila kejadian serupa terjadi kepada para pembaca, khususnya di daerah Luar Pulau Jawa.

Pembaca di wilayah Lampung dan sekitarnya akan mampu memahami adanya jargon yaitu, “jalan sama sobat yang kerja jadi Polisi, paling aman lho…”. Jargon tersebut ditujukan sebagai dampak komulatif dari sikap dan perilaku aparat kepolisian di daerah saya, Lampung. Anda akan mengenali aparat kepolisian walaupun tidak menganakan seragam, antara lain melalu kendaraan (RX king cs..), cara berkendara, penampilan, dan cara berbicara yang agak kepalembang-palembangan getooohh.

Ayooo, Selesaikan Di Kantor Polisi!

Siang itu, karena emosi yang tak terkendali saya terpaksa harus berurusan dengan seorang lelaki yang berperawakan tinggi dan gagah (mirip-mirip aparat polisi gitu deh).

Si pria gagah bersama pasangan betinanya tersebut menghampiri saya dan kemudian berkata, “Mas tadi anda berbicara apa?, kalau anda ada masalah mari kita selesaikan di kantor polisi saja!”, kata si pria gagah.
Jawab saya, “Lho, emang ada apa Mas!”, dengan sedikit kaget tentunya.

Pada intinya pria gagah tersebut coba menintimidasi dan memaksa saya agar mengakui bahwa, saya telah berkata kotor kepada dirinya dan sang betinanya, lalu kemudian ingin membawa saya ke kantor polisi agar dapat diselesaikan disana.

Nah…., permasalahannya, kenapa saya harus pergi ke kantor polisi??, Apakah disana dapat menyelesaikan semua persoalan?. Lagian permasalahan tersebut terjadi karena si pria gagah dan kekasihnya saja yang merasa ada masalah, lantas saya tidak. Lho, mengapa saya seolah digiring untuk ikut pergi ke kantor polisi ??…

>Tettewww…., halaahhhh berbagai tunggakan kasus korupsi, curanmor, dan kejahatan lainnya saja menggunung dan berjamur disana.<

Banyaknya pertanyaan saya, membuat pria gagah dan kekasihnya tidak mampu berkata lagi. Dan setelah itu mengomel “bau” dan setelah ituk mereka berdua pergi berlalu meninggalkan saya.

Setelah kejadian tersebut, saya sedikit curiga kenapa seolah “harus ke kantor polisi”, sambil menggaruk kepala saya coba menganalisisnya…

Setelah dianalisis, timbul pertanyaan dari pikiran buruk saya, jangan2 kalo ke kantor polisi, bukannya menyelesaikan masalah, malah akan mendatangkan masalah bagi saya!!!, Terus pertanyaan pentingnya adalah, emang setelah tiba di kantor polisi, apakah si pria gagah dapat “menang” dan menzolimi saya yah?!!!

Pikiran buruk ini tentunya bukan tanpa alasan, mengingat sikap dan perilaku oknum-oknum aparat kepolisian di daerah saya. Sebelumnya teman saya juga pernah mengalami kejadi serupa dengan saya, namun teman saya tersebut berurusan dengan seorang polisi yang berseragam.

Kemudian, Untungnya pula, saya kebetulan saya sedikit mengerti tentang hukum (Maklum saya adalah lulusan fakultas hukum salah satu universitas terbaik di Indonesia, wakakakakkk).

Memang karena keterbatasan kemampuan saya tidak berpikir sendiri, namun bertanya kepada senior saya yang dulunya satu fakultas dengan saya (hihihi, saya agak telmi sih). Pertanyaanya, apa yang akan terjadi seandainya saya ikut ke kantor polisi saat itu???.

Jawabannya sangat mencengangkan. Pertama, apabila si pria gagah tersebut ternyata seorang polisi, karena teman satu korps maka layak diduga nantinya penilaian oknum-oknum aparat kepolisian akan tidak akan adil atau tidak berimbang (saya dizolimi sebagai pihak yang salah).

Kedua, yang lebih parahnya lagi nihh, saya melupakan bahwasanya polisi memiliki kewenangan untuk melakukan penahanan selama 24 jam. Apabila benar si pria gagah adalah aparat kepolisian, maka oknum-oknum aparat kepolisian tersebut tentu tidak akan sungkan untuk secara sepihak memproses kasus saya, dan saya akan dinyatakan sebagai pihak yang diduga bersalah. Kelanjutannya, tentunya saya akan ditahan!.

Nah setelah adanya dugaan, wewenang penahanan inilah yang kemudian menjadi senjata untuk mengintimidasi saya, agar mengakui kesalahan, yang tentunya tidak saya perbuat (hehehehe, intimidasi tuh akan berpengaruh kalau saya tidak kuliah di FH salah satu universitas terbaik, wkakakakakkaaak).

Ya ampun, itu kan namanya Zolim…, tapi sayang, si pria gagah kagak tau kalau saya adalah lulusan dari salah satu fakultas hukum terbaik. Hahahaha…, baru kali ini saya mampu berbangga diri, merasa lebih pintar di bidang hukum daripada orang lain (si pria gagah). Ni namanya kekuatan kebenaran….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: