Bagaimaan Anak Belajar?

Belajar terjadi bila anak dihadapkan dengan sesuatu yang baru dan berbeda dari apa yang telah mereka ketahui sebelumnya. Sesuatu yang baru tersebut dapat berupa gagasan, ide, dan konsep. Namun, yang harus selalu diingat adalah bahwa anak atau bahkan kita yang telah dewasa sekalipun selalu terangsang oleh hal-hal baru yang mengganggu pikiran kita. Persoalannya adalah dengan cara apa gagasan, ide atau konsep ditangkap anak ketika belajar? Dalam brain based learning theory disebutkan bahwa otak kita ketika merespons gagasan, ide, atau konsep selalu dalam bentuk gambar.

Ambil contoh kata kuda dan gajah. Otak kita akan menerima persepsi soal kuda dan gajah tidak dalam bentuk huruf-huruf, tetapi dalam bentuk gambar. Pastilah yang terbayang soal gajah bisa saja belalai, gading, kaki, dan sebagainya; sementara kuda yang terbayang adalah mulut, kaki, buntut, dan bahkan suaranya. Karena itu, penting bagi guru untuk menggunakan media belajar dalam bentuk grafis, film, gambar, dan metafora agar otak anak menjadi terlatih dalam memahami, mengingat, dan sekaligus melakukan analisis terhadap suatu masalah.

Anak pada dasarnya dapat merespons sesuatu yang baru atau berbeda dengan tiga cara, yaitu penggabungan, adaptasi, dan penolakan. Penggabungan memungkinkan anak untuk mengakumulasi informasi baru dengan informasi sebelumnya. Adaptasi dilakukan otak untuk memilah dan memilih informasi berdasarkan kebutuhan intuitif anak. Penolakan terjadi jika informasi yang diterima tidak sesuai dengan atau bertolak belakang dengan gagasan yang telah diterima sebelumnya.

Karena tingkat aktivitas otak secara langsung berkaitan dengan tingkat stimulasi dari dan dalam lingkungan belajar, menggunakan media dan sarana belajar yang tepat akan membantu anak untuk belajar banyak secara baik dan konsisten. Sifat otak juga sangat responsif dan untuk itu dibutuhkan media belajar dalam bentuk grafis dan gambar yang dapat merangsang kerja otak secara maksimal. Penting juga untuk diketahui para guru bahwa sifat rangsangan tidak terbatas dalam waktu atau tempat–mereka dapat muncul terus-menerus–secara formal dan informal.

Proses belajar yang menggunakan media belajar secara tepat dan terus-menerus itulah yang akan menghasilkan atau meningkatkan apa yang telah disebut Howard Gardner sebagai kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Artinya penting bagi seorang guru untuk memahami ragam talenta siswa mereka secara cerdas dan bertanggung jawab berdasarkan minat dan bakat yang dimilikinya. Jika kesadaran ini tumbuh dan meluas, proses belajar-mengajar tidak lagi berorientasi pada hasil, tetapi pada prosesnya itu sendiri yang membutuhkan banyak sekali kreativitas guru dalam mengajar dalam rangka menunjang ragam talenta siswa.

Selain itu, penting bagi guru untuk mengetahui gaya belajar David Kolb (1984), yang membedakan ke dalam empat gaya belajar yang berkaitan dengan ragam talenta anak, yaitu anak berjenis pengamat (observers), pemikir (thinkers), pengambil keputusan (deciders), dan pelaku (doers). Tiap gaya belajar itu tentu saja memiliki kekuatan dan kelemahan sendiri-sendiri. Namun, idenya adalah ingin menjadikan setiap guru dan siswa menjadi lebih sadar akan kekuatan mereka dalam belajar dan bekerja pada kekuatan dan kelemahan yang mereka mampu mengidentifikasinya.

Anak dengan kecenderungan seorang observer cenderung berfokus pada informasi faktual dan belajar banyak dari melihat kejadian, mendengarkan pengalaman orang lain, dan berpikir tentang mereka, yaitu fokus pada peristiwa-peristiwa kehidupan nyata. Anak dengan gaya belajar thinker cenderung gandrung pada penelitian hal-hal baru yang berusaha diperolehnya dengan membaca dan memikirkan hal itu untuk menemukan apa yang belum dan sudah diketahui.

Decider biasanya memiliki insting berlebih soal teori dan peraturan apa yang sebaiknya digunakan karena mereka lebih suka struktur yang jelas dan bekerja dalam cara yang praktis. Ciri lainnya adalah mereka tidak begitu baik dalam membuat hubungan antara konsep dan teori. Yang terakhir adalah tipe belajar doers, dengan anak biasanya senang belajar dengan membuat kesalahan dan dengan menemukan sesuatu untuk diri mereka sendiri. Mereka adalah para risks-taker yang cenderung mau mengambil risiko untuk mengatasi dengan baik setiap perubahan dan bisa mendapatkan jawaban lebih banyak dituntun intuisi.

“The mind is not a vessel to be filled, but a fire to be ignited.”
(Plutarch – a follower of Socrates)
Ahmad Baedowi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: