Libatkan Seluruh Stake Holders (Kemacetan Lalu Lintas)

Secara mudah dapat disimpulkan, bahwa ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan jalan yang dapat mengakomodir semua kebutuhan masyarakat merupakan akar masalah terjadinya kemacetan di jalan raya.

Keadaan tersebut menjadi sulit dengan ditambah dengan buruknya sikap, kesadaran, dan pemahaman masyarakat dalam kaitannya dengan keberadaan jalan yang “seadanya” tersebut. Pemakai jalan yang “seenaknya” melanggar berbagai etika pemakaian jalan dan rambu lalu lintas, oknum tukang becak atau andong yang tidak memiliki tenggang rasa, penggunaan badan jalan untuk keperluan parkir dan berdagang, merupakan segelintir gambaran peran serta masyarakat yang menimbulkan dampak komulatif yakni, semakin mewujudkan kemacetan di jalanan.

Selain itu, banyak aspek lain yang secara tidak langsung menimbulkan dampak terjadinya kemacetan di jalan raya. Hal tersebut antara lain yakni, ketiadaan perencanaan dan lemahnya pengawasan penataan ruang di suatu daerah yang mengakibatkan pembangunan suatu kawasan tidak mempertimbangkan aspek penataan ruang, ketidakterpaduan pelaksanaan tugas antar instansi pemerintah seperti kegiatan instansi tertentu (penggalian pipa listrik) yang merusak jalan, serta kebijakan ekonomi dan kebijakan publik lainnya yang menyebabkan tidak tersedianya transportasi publik yang ekonomis dan memadai, buruknya penegakan hukum sehingga pengawasan terhadap pemakai jalan minim.

Melibatkan seluruh stake holders terkait untuk mengatasi kemacetan di jalanan dengan begitu banyak aspeknya tersebut tentu menjadi “Wajib hukumnya”. Namun di satu sisi, selama ini pemerintah selaku pemegang peran sentral, belum mampu mewujudkan keterpaduan antar institusi terkait yang dinaunginya, apalagi untuk mendudukan masyarakat (individu dan kelompok, termasuk dunia usaha) dalam mengatasi persoalan. Sementara dilain sisi masyarakat “disibukkan” dengan kepentingan individualnya masing-masing.

Karena itu, pemerintah selaku pemegang peran sentral harus melangkah lebih dahulu. Apabila tidak, maka masyarakat -yang sadar- sambil melantunkan tembang John Lenon “You may say that I’m a dreamer, But I’m not the only one, I hope someday you’ll join us, And the world will be as one”, dapat memulai berusaha melangkah dengan idealismenya masing-masing untuk mengatasi kemacetan.
Capek deh….

(Media Indonesia, Suara Anda, 09 agustus 2010, Hlm.25)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: