Arsip untuk Inovasi Ramah Lingkungan

Makalah – PENGENTASAN KEMISKINAN DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DAN PERUBAHAN POLA PRODUKSI YANG RAMAH LINGKUNGAN

PENGENTASAN KEMISKINAN DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DAN PERUBAHAN POLA PRODUKSI YANG RAMAH LINGKUNGAN*
* Makalah untuk pembahasan topik “Pembangunan Berkelanjutan, Pengentasan Kemiskinan dan Sikap Masyarakat terhadap Produk Ramah Lingkungan” disampaikan pada Seminar dan Lokakarya Pembangunan Hukum Nasional ke-VIII dengan tema “Penegakan Hukum dalam Era Pembangunan Nasional Berkelanjutan” diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN). Departemen Kehakiman dan HAM RI. Tanggal 14-18 Juli 2003 di Kuta, Bali.

Oleh:
Ismid Hadad**
** Direktur Eksekutif, Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Jakarta.

Tantangan Global & Komitmen Nasional
Penghapusan kemiskinan merupakan tantangan global terbesar yang dihadapi dunia dewasa ini, dan karenanya menjadi syarat mutlak bagi pembangunan berkelanjutan. Maka itu para pemimpin negara sedunia pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Millenium di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York tahun 2000 menetapkan upaya mengurangi separuh dari kemiskinan di dunia sebagai “Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals)” bagi negara-negara anggota PBB yang harus dicapai pada tahun 2015 melalui 8 jalur sasaran :
Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

Pemanfaatan dan Peningkatan Teknologi Biogas

Berdasarkan situs Wikipedia, Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk diantaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan karbon dioksida.

Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun untuk menghasilkan listrik.

Biogas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik sangat populer digunakan untuk mengolah limbah biodegradable karena bahan bakar dapat dihasilkan sambil menghancurkan bakteri patogen dan sekaligus mengurangi volume limbah buangan.

Metana dalam biogas, bila terbakar akan relatif lebih bersih daripada batu bara, dan menghasilkan energi yang lebih besar dengan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit. Pemanfaatan biogas memegang peranan penting dalam manajemen limbah karena metana merupakan gas rumah kaca yang lebih berbahaya dalam pemanasan global bila dibandingkan dengan karbon dioksida.

Karbon dalam biogas merupakan karbon yang diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman, sehingga bila dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon diatmosfer bila dibandingkan dengan pembakaran bahan bakar fosil.

Saat ini, banyak negara maju meningkatkan penggunaan biogas yang dihasilkan baik dari limbah cair maupun limbah padat atau yang dihasilkan dari sistem pengolahan biologi mekanis pada tempat pengolahan limbah

Biogas juga bersumber dari pengelolaan kotoran hewan dan kotoran lain, yang berpotensi menghasilkan gas Metana (CH4). Sebagai perbandingan, satu kilogram kotoran sapi dapat menghasilkan energi listrik sebanyak 700 watt.

Pemanfaatan gas metana tersebut tentu mengurangi laju pemanasan global. Pasalnya, gas metana memiliki potensi efek rumah kaca 21 kali lebih besar daripada karbon dioksida.

Terlebih, penggunaan kotoran untuk bahan bakar biogas, tidaklah menghilangkan potensi kotoran untuk dijadikan sebagai pupuk kandang.

BIOGAS sebagai sumber energi terbarukan memang bukan hal baru. Di berbagai daerah di Indonesia, sudah banyak masyarakat, khususnya di perdesaan dan yang berprofesi sebagai peternak, memanfaatkan energi dari limbah organik itu.

Kendalanya, biogas belum mampu dicairkan, sebagaimana gas biasa yang dipakai sehingga untuk dapat bernilai ekonomi, maka efisiensi dan efektifitasnya harus diperhitungkan secara cermat.

Selama ini biogas masih lebih banyak digunakan untuk bahan bakar memasak. Pemanfaatannya pun harus dekat dengan sumber biogas.

Tentu untuk para peternak yang tempat pemeliharaan hewan tidak jauh dari rumah, hal tersebut tidak jadi soal. Namun, bagaimana jika biogas rumah warga cukup jauh dari tempat pemeliharaan hewan atau ketika biogas dari satu tempat peternakan harus dibagi-bagi kepada masyarakat di suatu daerah?

Salah satu jawabannya ada di daerah Ciomas, Bogor, Jawa Barat. Di daerah yang berjarak sekitar 5 km dari pusat kota itu, biogas disimpan dalam balon atau kantong plastik sehingga dapat dibawa-bawa.

Pengembang teknologi itu adalah Sri Wahyuni, dosen peternakan yang kini juga menjadi pengusaha teknologi biogas. Di kantornya yang terletak tidak jauh dari kantor Kecamatan Ciomas, Sri kemudian menunjukkan pengoperasian kompor biogas.

Gas sendiri sudah disimpan dalam kantong plastik yang mirip seperti bantal besar dan tergantung di dinding. Dari situ pula gas bisa disalurkan ke lampu dan generator pembangkit listrik. “Saya sengaja membuat ini (kantong biogas) supaya bisa dibawa ke mana-mana. Jadi peternak datang ke kandang bawa rumput, pulang bawa gas,” ujar Sri.

Sumber :

Wikipedia
Media Indonesia, “Biogas Sepraktis Elpiji”, Minggu 12 Juni 2011

Tambahan dari situs (http://biogassederhana.blogspot.com/)

Potensi pengembangan Biogas di Indonesia masih cukup besar. Hal tersebut mengingat cukup banyaknya populasi sapi, kerbau dan kuda, yaitu 11 juta ekor sapi, 3 juta ekor kerbau dan 500 ribu ekor kuda pada tahun 2005. Setiap 1 ekor ternak sapi/kerbau dapat dihasilkan + 2 m3 biogas per hari. Potensi ekonomis Biogas adalah sangat besar, hal tersebut mengingat bahwa 1 m3 biogas dapat digunakan setara dengan 0,62 liter minyak tanah. Di samping itu pupuk organik yang dihasilkan dari proses produksi biogas sudah tentu mempunyai nilai ekonomis yang tidak kecil pula.

Di negara Cina Sejak tahun 1975 “biogas for every household”. Pada tahun 1992, 5 juta rumah tangga di China menggunakan biogas. Reaktor biogas yang banyak digunakan adalah model sumur tembok dengan bahan baku kotoran ternak & manusia serta limbah pertanian. Kemudian di negara India Dikembangkan sejak tahun 1981 melalui “The National Project on Biogas Development” oleh Departemen Sumber Energi non-Konvensional. Tahun 1999, 3 juta rumah tangga menggunakan biogasReaktor biogas yang digunakan model sumur tembok dan dengan drum serta dengan bahan baku kotoran ternak dan limbah pertanian. Dan yang terakhir negara Indonesia Mulai diperkenalkan pada tahun 1970-an, pada tahun 1981 melalui Proyek Pengembangan Biogas dengan dukungan dana dari FAO dibangun contoh instalasi biogas di beberapa provinsi. Penggunaan biogas belum cukup berkembang luas antara lain disebabkan oleh karena masih relatif murahnya harga BBM yang disubsidi, sementara teknologi yang diperkenalkan selama ini masih memerlukan biaya yang cukup tinggi karena berupa konstruksi beton dengan ukuran yang cukup besar. Mulai tahun 2000-an telah dikembangkan reaktor biogas skala kecil (rumah tangga) dengan konstruksi sederhana, terbuat dari plastik secara siap pasang (knockdown) dan dengan harga yang relatif murah.

Manfaat energi biogas adalah sebagai pengganti bahan bakar khususnya minyak tanah dan dipergunakan untuk memasak kemudian sebagai bahan pengganti bahan bakar minyak (bensin, solar). Dalam skala besar, biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik. Di samping itu, dari proses produksi biogas akan dihasilkan sisa kotoran ternak yang dapat langsung dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman / budidaya pertanian. Potensi pengembangan Biogas di Indonesia masih cukup besar. Hal tersebut mengingat cukup banyaknya populasi sapi, kerbau dan kuda, yaitu 11 juta ekor sapi, 3 juta ekor kerbau dan 500 ribu ekor kuda pada tahun 2005. Setiap 1 ekor ternak sapi/kerbau dapat dihasilkan + 2 m3 biogas per hari. Potensi ekonomis Biogas adalah sangat besar, hal tersebut mengingat bahwa 1 m3 biogas dapat digunakan setara dengan 0,62 liter minyak tanah. Di samping itu pupuk organik yang dihasilkan dari proses produksi biogas sudah tentu mempunyai nilai ekonomis yang tidak kecil pula.

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.